Oh, betapa
beruntungnya diriku. Tapi mengapa saat itu aku tidak
menyadari akan Kemurahan Sang Pencipta, betapa aku
ini begitu bodoh, hanya nafsu yang ada dalam diri
ini. Nafsu untuk menaklukan sang alam. Ya, Allah semoga
kau mengampuni ke-khilafanku saat itu.
Semoga apa yang telah sang alam ajarkan pada diri
ini menjadi bekal untuk melakukan sepenggal perjalanan
yang lain yang menanti ku di masa depan. Amin.
* Diary 'hijjau *
========================================
Melati
itu masih seperti dulu (Gede-November Rain)
Ku coba mengigat lagi kapan
terakhir kali menginjakkan kaki di gunung yang dulu
begitu akrab, ya....begitu sangat akrab dalam menemani
hari-hari yang dulu pernah menghantui kehidupanku.
Satu...dua...
kucoba meresapi kembali gairah yang mengalir dalam
aliran darah ini. Terasa sentuhan dan belaian itu
tetap mesra seperti dulu, menghanyutkanku pada kenangan
lalu.
Juga seperti waktu itu, kumulai
langkahku bersama kawan-kawan baruku, walau ada beberapa
yang sudah begitu akrab J. Seperti biasa sang alam
begitu cepat mengakrabkan kami dalam satu langkah
pasti menuju sebuah bentuk persahabatan yang tak pernah
sirna.