Home

About me

Contact us

Sign guest book

View guest book

 

 

C

 

e

 

l

 

o

 

t

 

e

 

h

 

-

 

C

 

e

 

l

 

o

 

t

 

e

 

h

 

   
   
   
Celoteh 1 Celoteh 2
Hutan...
Gunung...
hamparan hijau yang menyejukkan hati
terimakasih...
yang telah memberiku pengalaman yang tak ternilai
dalam pencarian jati diri ini
sehingga begitu membekas dan akan terus terbawa
dalam mengarungi kehidupan ini
menyadarkanku ...
memberiku pelajaran mengenai kehidupan
dengan kearif'an yang Maha Pencipta
kau bukakan matahati-ku
agar menjadi lebih bijaksana
dalam pergaulan hidup ini

disini…
dibatas pelangi,
kulangkahkan kaki menapak kesendirian yang tercipta
menelusuri lorong-lorong waktu ‘tuk mencari jati diri

hari ini…
ingin kupersembahkan semua yang pernah kulalui
bersama sahabat sejatiku
yang telah berbagi perasaan saatku tak mampu menghadapinya

ya, Allah…
ku-ucapkan rasa syukur
yang tak pernah sebelumnya terbersit dihati ini

   
Celoteh 3
Celoteh 4

Semerbak Melati di Padang Sunyi

Setiap kali melangkah beribu-ribu jejak kuikuti
menyusuri hutan dan sabana, melintasi gemercik air
menjelajahi bukit-bukit dan lembah-lembah yang murung
tampak jelas tapak-tapak derita sang alam

Satu per satu keindahan itu mulai pudar
selangkah demi selangkah jejak itu membuat bencana
tampak jelas batu-batu cadas yang merintih kesakitan
lihatlah pepohonan mengaduh kepedihan

Yang dulu dikata orang kau begitu mempesona
yang dulu dibilang orang kau begitu melenakan
kini hanya tangis yang kurasakan
hanya penderitaan yang kau bagikan

Tak ada lagi senyum-mu yg membahagiakan
hilang sudah keceriaan yg mengobati hati ini
malang seakan terus menimpamu
hari demi hari kian menjadi

Hingar-bingar kehidupan dunia kita bawa kesana
nafsu angkara murka kita tanam didalamnya
hingga, langit pun tak kuasa mendengar jeritan-mu
sampai seisi alam ini bermandikan air mata :((

Kejam-kah kita pada-nya
setega itukan hati kita berbuat
masihkan ada setitik embun dihati ini
yang menyejukan luka alam ini

Kau Tetap Sahabat-ku...Kau tetap Sahabat-ku

Disaat kita nikmati kebersamaan
banyak hal terlewatkan begitu saja
keceriaan, gelak-tawa serta canda
semuanya mengalir begitu saja

waktu yang tersedia
seolah tak mampu untuk menampungnya
begitu cepat berlalu
berlari seolah tak mau berhenti

kenangan-kenangan itu terasa tak kala kita pergi
pergi meninggalkan semua kegembiraan yg melenakan
satu persatu kenangan itu diputar kembali
ada sederet senyum saat terlintas film-film yg lalu

kenapa kegembiraan itu hrs pergi?
kenapa tak selalu mengikuti ku kemana pergi?
kapan ini semua akan terulang?
akankah kita tetap seperti ini?

Sahabat...
semua yg pernah kita jalani
hari demi hari, waktu demi waktu
tak kala kita lalui semuanya bersama

banyak hal yg pernah terjadi
semua kita lalui dgn segala kekurangan yg kita miliki
kadang benci, kesal dan kecewa
juga senang, hormat dan sayang

sungguh luar biasa apa yang telah kita lalui bersama
inikah pemberian tak ternilai dari Sang Kuasa?
yang sering kali tak pernah kita syukuri

Ya, Allah...Lindungilah mereka yang ku-cinta


NB : untuk sahabat-sahabatku yang pernah bersama-sama dalam mengisi sepenggal perjalanan 'Hijjau'

   
Celoteh 5
Celoteh 6

Jejak kabut meninggalkan seribu tanya
Tapak-tapak kebingungan menyertai kalbu
Berharap jawab yang tak terkira
Adakah yang kuharap ???

Kedalaman hati merengkuh dunia
Tiada berbekas dan berharap
Angkara murka tak mampu berharap,
hanya menanti kehancuran

Bingkai dunia melenakan mata
Hanya nurani yang mampu menghentikannya

Tak kala kerinduan itu datang menggugah  kalbu
Menusuk…menghentak dikedalaman diary yang terkoyak
Mencoba menembus tabir-tabir kepedihan
Menguak…mencoba membawanya kembali hadir disini

Saat itu ketika sejuta bunga jatuh dalam pelukanmu
Semua kata bagaikan panah yg menghujam asmara
Kata-kata itu kini menggelayut dipelupuk mataku
Menari…mempermaikan keindahannya

   
Celoteh 7
Celoteh 8

Tak kala sang alam murka

Datang...datang lagi semakin menjadi
Silih berganti bencana itu melanda manusia
Tanpa belas kasihan menerjang apapun.siapapun yang menghalanginya
Tragis...keji....terlontar dari mulut-mulut manusia

Itukah yang sebenarnya terjadi???

Begitu gampangnya tuduhan itu meluncur seperti derasnya air mengalir
Pernahkah kita menyadari dan intropeksi diri???
Apakah yang menyebabkan semua ini terjadi.
Apakah takdir Sang Penguasa???

Takdir???

Mungkin saja, tapi manusia pun turut andil menentukan nasib-nya sendiri

Kawan, ingatkah perlakuan kita terhadap alam ini
Apa yang telah kita berikan pada mereka
Selama ini kita hanya mengambil keuntungan dari-nya
Tanpa ada 'simbiosis mutualisme'
Kita telah menjadi parasit yang menggerogoti bumi ini

Oh, betapa malangnya nasib-mu, Ibu Pertiwi
Kau berikan...Keindahan.............
Kau berikan...Kedamaian ............
Namun semua kebaikan-mu terbalas sudah dengan menguras air mata-mu.

‘Keprihatinan atas musibah Bohorok’

Kesedihan hati menyelimuti tabir kesunyian
dinding-dinding yg retak kembali terkuak
butir-butir kepedihan menambah beban ini
satu lagi hadir mengisi kegundahan diri

terbersit rasa sesal…gundah…
berdosakah????
haruskah ada lagi yg tersakiti???
semakin panjang dosa mengantri dibuku ini

apakah salahku,

semua ini bukan kemauanku,
semua ini bukan rekayasaku,
aku tak ingin menyalahkan siapa pun
ini semua hanyalah cobaan dari-Nya

ku-ingin menerima kenyataan ini
ku-mau tak ada sesal dihati ini
ku-mencobanya sekuat jiwa berharap
namun, aku hanyalah mahluk lemah

kabut masih saja menyelelimuti
mentari pun tak kuasa merubahnya
tapi ada secercah cahaya disana
menggeliat melawan kepenatan yang hitam

   
Celoteh 9
Celoteh 10

Dear Diary...

Oh...sudah berapa lama kutinggalkan sekretariat ini
yaa, hampir 1/2 tahun tak lagi ku-kunjungi tempat itu
tempat yang dulu begitu banyak memberikan keceriaan padaku
tempat yang dulu memberiku kepuasan bathin

Hampir setiap sabtu dan minggu ku-luangkan waktu untuk hadir disana
menemani sang alam mendengarkan keluh kesah-nya.
tawa-canda volunteer ikut menyejukan gundah sang alam
tanpa pamrih mereka lakukan semua itu

Disela-sela kesibukanku di kantor dengan segudang pekerjaan
kota-kota besar yang memberiku beban kehidupan
hari demi hari dilalui dengan kekakuan yang nyata
membuat mata hati ini tak lagi hidup

Disana...
dilebatnya hutan,
dipekatnya malam,
di padang kesunyian,
ku abdikan diri ini untukmu sang alam
walau nampak bagai setitik debu di lautan
tyang tak bisa merubah dunia ini

namun, ada kebahagiaan hakiki yang kuterima
MONTANA...
terima kasih atas semua yang kau berikan pada diri ini
untuk sesaat terbersit keluh-kesah

Hari itu, aku kembali datang padamu
untuk menyambut hari-hari yg sama yg mungkin bisa kunikmati
mungkin tak seperti dulu lagi, namun kebahagiaan yang sama kudapati
Semoga hari-hari ku akan semakin bernuansa

kudapatkan ketenangan jiwa diatas sana
dibalik bukit-bukit yang tersipu menemani langkah-langkah tak pasti
seberkas senyum selalu menyapa penghuninya
melenakan akhir sebuah perjalanan

kelamnya kabut tak mampu menembus jiwa merdeka
gerimis senja membawa sejuta prasangka
satu persatu langkah tergantikan
menelusuri waktu yang tak kunjung sirna

   
Celoteh 11
Celoteh 12

hingar-bingar dunia melenakan hasrat yang terlena,
hingga lupa makna dan tujuan akhir dunia
ketika sanubari membisikan kehangatan
meresap pada dinding-dinding kesunyian

ada ketenangan disana
disaat rasa penuh dengan nafsu
dia hadir 'tuk menentramkan jiwa
membelai mesra nurani terdalam

'hai, jiwa yang terlena
bangunkan bawah sadarku yang mati
yang terkubur nista yang fana
'tuk kembali mengenal Sang Penguasa

senja memerah tak kala sang surya tersenyum
merapatkan bahunya kesandaran Sang Pencipta
hingga melenakan seisi penghuni dunia
kekaguman dan ketentraman terpancar nyata
mengilhami sebuah ketakjuban yang tak terkira

adakah yang tersisa????
dari semua hasil karya Maha Sempurna
yang tak ada batas pikiran mangkhayal
semua tak akan pernah bisa terjawabkan

   
Celoteh 13
Celoteh 14

From Ciwidey with love II

ada cinta dan sayang hadir disana
kenangan lama terkuak kembali membawa sebuah cerita baru
butir-butir tali persahabatan menampakan kembali warnanya
mewarnai nuansa hati yang diliputi sejuta bunga

Saat itu tak ada rangkaian kata yg terucap
hanya butir-butir kerinduan yang mampu berucap
mewakili perasaan yang tak pernah sunyi
menghadirkan sebentuk persaudaraan nan abadi

Andaikan waktu mau berbagi lagi
menemukan sahabat sejati untuk berbagi
bersama-sama mengarungi ombak kehidupan
menuju sebuah keinginan dan harapan

From Ciwidey with love I


Saat itu berkecamuk sejuta gejolak dalam hati
Menembus batas-batas ruang dan waktu
Menerobos semua dinding yang terpatri
Menyeruak memperlihatkan amarahnya

Tak ada daya untuk membendungnya
Semua terjadi begitu cepat
Ada marah…benci…dan rindu hadir disana
Memainkan rasa dan asa yang pernah hadir

Mencoba membuka kembali cerita yang telah lama mati
Tergambar jelas seperti sebuah relief bumi
Menggambarkan garis-garis khayal yang nyata
Sebuah kisah kehidupan kembali diputar

Seribu rindu menghiasi diri
Satu tikaman hati kembali terjadi
Bersatu melantunkan sebuah kenikmatan
Kenikmatan semu yang menghadirkan beribu kisah sedih

Satu persatu film itu diputar kembali
Memenuhi seisi belantara hati
menggeliat merobek batas kekuatan
untuk kembali hadir disana

   
Celoteh 15
Celoteh 16

Desah menggema dikedalaman jiwa
meronta...mengumandangkan asa yang nyata
hela nafas memburu seirama sang kalbu
menempuh sebuah perjalanan biru

ada segurat keinginan yang tertunda
dalam bayang-bayang yang semakin menjelma
menghentak...menyayatkan makna yang dalam
menyadarkan alam sadar yang semakin terpendam

terpancar kegundahan disana
menerobos dinding bening kerinduan
yang menjelma menjadi sebuah kebencian
menggelora membenamkan keinginan yg mulia

Ada amarah di dada
ada hati yang terluka
menusuk relung-relung sukma
tapi tak kuasa menahan kerinduan yang nyata

mencoba mengusir keraguan
dan keputus-asaan yang melanda
wahai cinta...
semoga tak kau permainkan dunia

   
Celoteh 17
Celoteh 18

Untaian kata “terima kasih” untuk mu #pendaki


Ada yang berubah dalam diri ini
tertanam dalam jiwa yang memberontak
selembar benang tipis yang memisahkan hitam dan putih
yang memberikan kekuatan untuk menjalaninya

"pendaki" ...

membawa pembaharuan dalam hidup-ku. Ada yang kembali, yang dulu hilang entah kemana. Banyak manis ku cicipi disini, dengan 1001 macam karakteristik yang membina diri ini. Membentuk pribadi yang semakin ku-kagumi, oh...betapa berarti-nya kau untuk-ku. Hari-demi hari kau terus memberikan gelembung-gelembung kehidupan dalam darah yang mengalir ditubuh-ku, satu persatu meresap dalam butiran-butiran cinta. Perlahan-lahan membentuk sebuah keyakinan tersendiri. Asa yang terbawa selama ini memenuhi relung-relung jiwa yang merdeka. Bebas mengungkapkan apa yang hendak dikatakannya.

Sahabat...
terima kasih atas semua kebaikan dan kebahagiannya yang kalian berikan untuk-ku, yang mengisi diary hidupku, yang menyemarakan warna-warna indah dalam diriku. Tak ada yang bisa kuberikan kepada kalian, hanya cinta dan sayang yang tulus ku-persembahkan, hanya do'a dan harapan yg terucap untuk-mu, sahabat...

Tuhan...
semoga kau limpahkan kebaikan-kebaikan untuk sabahat-sahabatku. Seperti yang mereka berikan pada-ku. semoga Engkau taburi mereka dengan cinta dan sayang, seperti yang mereka lakukan untuk-ku.

Tuhan...lindungilah mereka yang kucinta, amin

“Selamat ulang tahun milist pendaki (3 September 2001) & channel #pendaki (3 September 1997)”

 

Lentera kehidupan baru saja dinyalakan
mentaripun tersenyum menyapa ramah penghuni jenggala
embun pagi baru saja beranjak dari peraduannya
memberikan amanat pada penguasa siang

Lalu sesisi rimba raya menyambut keceriaan yang ada
memberi penghormatan yg tak akan pernah jera
kedamaian kembali terpancar dari keindahan Sang pencipta
meramaikan roda kehidupan dunia

Semilir angin menyemarakan derai tawa alam
menyibak kesunyian Sang Malam yang telah sirna
daun-daun menyapa dengan sebuah ketulusan
menjadikan hidup ini penuh dengan nuansa kesan

   
Celoteh 19
Celoteh 20

saat hati diliputi gelapnya mega
membutakan rasa yang kehilangan asa
mencoba mencari setitik lentera
lentera kehidupan yg menyinari dinding kalbu

meronta...menerjang dalam kegelapan
menyibakkan kabut ungu yang pekat
yang masih saja menyelimutinya
menepi dalam sisi kebimbangan

mencari dalam keasedihan yg tergurat layu
mengisyarakatkan kepedihan dimatanya
sayu cahaya yang terpancarkan
menambah letih beban kehidupan

Di Kedalaman Hati Bodogol
(HUT #pendaki)

Genggaman tangan, berpaut hati
bersama menjalin tali kasih yg tulus
membina persahabatan yang abadi
meramaikan jalan kehidupan yang sempurna

Tiada hari seindah yang kita lewati bersama
merentang hidup detik demi detik
tak satupun terlewati untuk
menikmatinya
derai keceriaan hidup terpancar sudah

Tak ada kesedihan disana
dibelantara hutan yang menjaga
kedamaian
yang memberikan arti sebuah
persahabatan
yang akan tergores dalam pita
sanubari kehidupan

Sahabat...
apa yang telah kita lewati bersama
dengan sejuta canda dan tawa
membawa kita melayang pada asa yang nyata

   
Celoteh 21
Celoteh 22

Hati yang dulu terlena
kini menggeliat terbangun dari keterpurukan
menghadirkan sosok yang mampu menepis semua kenangan semu
Kini ia hadir membawa asa yang dulu pernah singgah

Kelambu cinta menaungi sejuta rasa
membahana memenuhi ruang asmara
menari-nari mencari ruang yang nyata
'tuk menepi dikedalam jiwa yang menyala

wahai panah asmara yang menggetarkan jiwa
bawakan sabdaku 'tuk sang penggoda cinta
membisikan ke relung-relung mawar abadi
menjalinkan perasaan yang tak teringkari

==================================

Semburat jingga membatasi siang dan malam
memberikan waktu menunaikan tugasnya
Paruh waktu telah bergulir
menggantikan putaran roda hidup

Lalu rodapun kembali bergulir
seiring nyanyian angin dan belaian awan
selimut kelabu terhampar dimayapada
menina-bobokan sang penghuni dunia

Ada yang terlelap disana
juga yg terjaga dikeheningan malam
berkumandang senandung kehidupan
bermunajat pada Sang Khalik

Penjelajahan demi penjelajahan dilalui...
tantangan dan rintangan kita cari dan kita buat
lalu petualanganpun dimulai
dari satu gunung ke gunung lain, dari satu jeram ke jeram yg lain
dari satu gua menuju gua lain, dari satu tebing menuju tebing lain

Kita merasa bangga mengira telah bisa menaklukan alam (mencapai
puncak gunung, tebing dll). Memproklamirkan dirinya sang penakluk,
betapa bangga dan jumawa diri ini seakan apapun mampu dilakukan tanpa
bantuan siapapun.

Lalu petualangan itu pun terus berlanjut, mencari korban-korban untuk
ditaklukannya dgn segudang kepercayaan diri yg tak terkira.
Peringatan-peringatan sang alam tak pernah dibacanya, seolah itu
hanyalah bising semata yg menghinggapi nuraninya.

Lalu akhirnya terhenti oleh sebuah takdir, semua perjalanannya selama
ini yg dibanggakan hrs terhenti oleh desah alam yang menggeliat
memberinya sebuah pelajaran, Ya, betul...pelajaran yang sangat
berharga bagi hidup manusia. Betul itu adalah takdir, tapi takdir
yang diciptakannya sendiri dan mendapat restu dari-Nya.

Bila itu semua terlanjur terjadi, apa yang kita dapat dari setiap
langkah yg meninggalkan jejak-jejak tak bertuan????

   
Celoteh 23
Celoteh 24

Akankah sia-sia????????

Bintang...
kau ajari aku rasa kagum akan ke-Agungan-nya

Hutan...
kau ajari aku akan rasa ketenangan yg hakiki

Bumi...
kau ajarkan aku rasa berserah diri pada-Nya
kau begitu kuat menahan beban dunia dipundakmu, rela dirimu dibanjiri
bau amis darah manusia, kau tegar saat dirimu dibumi hanguskan oleh
keserakahan manusia.

Karang...
kau ajari aku makna sebuah kesombongan

Sungai...
hikmahmu membuatku mengerti apa yang kau tanamkan pd alam ini

Tapi...
aku mohon maafmu, wahai sang alam, karena apa yg kau ajarkan tak
membuat diri ini lebih baik dari hari ke hari. Sepertinya diri ini
tak jua berubah. Masih saja terlempar baju kesombongan, masih banyak
kata yang menusuk hati mereka, masih sering... dan sering lagi
terjadi.

Oh, alam...
akan kah sia-sia dari setiap perjalananku ini???
janganlah berlalu apa yg telah kau ajarkan padaku

Tapak mega menampakan keindahannya
menaungi isi alam semesta raya
lalu sang alam bersabda
melantunkan syair syahdu kehidupan

makna tersirat lebih terserap
makna tersurat mengepakan sayap
merebak meresap pada sendi-sendi
mengukir kecintaan sejati

   
Celoteh 25
Celoteh 26

keceriaan melenakan apa yg dijalani bersama
canda tawa membius keinginan yg tak pernah surut
membutakan kesedihan hati yg menjerit
hingga lupa arti sebuah persahabatan

kebersamaan tak mesti selalu beriringan
keceriaan tak harus selalu dinikmati bersama
waktu pun tak selamanya mempersatukan kita
semua berjalan menuju takdirnya

haruskah kecewa dgn apa yg telah terjadi
haruskah marah dgn keadaan yg berubah
haruskan menumpahkan amarah yg egois
haruskah...haruskah...haruskah seperti itu

kawan...

persahabatan tak bisa dibeli dgn rasa egois
persahabatan tak bisa dinilai oleh waktu yg sempit
persahabatan tak akan ternoda oleh kemarahan sesaat
persahabatan tak akan terusik oleh perasaan yg semu

Ku cumbu alam, ku rayu sang malam


Sudah berapa lamakah aku disini....
memulai sebuah keinginan dgn semangat bergelora darah muda yg tak kenal tanda.

Ya...kuingat pertama kali menginjakan kaki pada tempat yg begitu asing dan penuh misteri bagi-ku. Besarnya keingin-tahuan serta kegagahan yg terbawa mendidihkan bara yang liar.
Terbayang rasa kagum dari orang2 yg akan mendengarkan cerita petualangan-petualanganku, akan semakin membusung dada ini dgn pujian2 semu. Ah...tak ambil pusing utk semua itu, yg penting aku bangga dan jumawa.

Tapi ada gejolak kecil dari riak2 nurani ini, lembut ikut menggetarkan dinding hati. Bisikan2 yg mencoba melawan arah tak terduga, mencoba mengajak utk mengenal inti dunia. 'Apa yang kau cari anak manusia..???', sebuah tanya yg muncul tiba2. Adakah jawaban disana????

Dua sisi yang saling berkompetisi meramaikan suasana jiwa, saling mengekpresikan sebuah argumen kebenaran. Lalu langkah kakipun terus menapaki semak belukar, entah apa yg dituju dan dicarinya sesuai dgn kehendak hati.

Saat keterpanaan menggoda nurani, menggelitik hasrat menyanyikan senandung Alam. Untai kata dan irama hati menyanjung Sang Pencipta, terpesona oleh makna dan arti dunia. Tapi teresapkah oleh akar kesadaran kita dalam prilaku keseharian dalam bertingkah laku dan berbuat????

   
Celoteh 27
Celoteh 28

Seiring detak sang waktu

Saat ini kuberada pada sisi garis yang terluar
melihat dengan sejuta kecamuk dalam diri ini
gemuruh nafas satu-persatu mengalunkan irama kalbu
satu-persatu menelusuri jejak yang tertinggalkan

ada nada bimbang bercampur keinginan yang kuat
ada detak kemantapan berderai memupuk semangat
satu kaki telah berada pada sisi luar garis itu
bergetar untuk melintasi batas keinginan

pertempuran sunyi masih berlangsung
berharap sebuah kesepakatan yang nyata
hati meratap bersimpuh doa
rasa menghiba pada sebuah keyakinan yang ada

Kulihat hiruk pikuk didalam sana
berbaur keceriaan yang melenakan
tak terlihat jelas garis yang dibawanya
entah apa yang ada dalam benak mereka

Ingin kugerakan rasa untuk ikut berbaur
membagi rasa idelaisme yang dulu menghinggapi diri ini
namun kaki ini tak kuasa melintas garis itu
terpaku dibatas garis keinginan dan harapan lama

angin terus saja berhembus kencang
membawa sejuta perubahan yang tak mampu ditepisnya
kulihat daun-daun itu menari-nari
tak mampu berpijak pada ibu pertiwi

Ada kesedihan jauh dibelantara hati
mengusik relung-relung yang tersayat
namun secercah harap dan do'a
semoga akan ada nuansa lama yang ikut hadir disana, walau dengan warna berbeda
Kepak Sayap Sang Merpati Putih

Oh, masih kulihat kepakan sayap itu
menari-nari meyibak kabut kebisuan
menggapai lembah-lembah yang kelu
mencari jawab dari sebuah perjalanan

pekik semangatnya menggema
membelah jenggala alam semesta
akar-akar kehidupan coba diraihnya
berbekal kebulatan tekad yang bergelora

satu persatu jejak itu semakin jelas
tercetak tebal dalam hatinya
lalu terjalin sebuah makna
merajut arti yang dikandungnya

sayap-sayap itu masih kulihat
kepak-kepak itu masih kudengar
tak ada rasa lelah dan bosan terlihat
hanya keinginan yang semakin menguat

sayatan dan goresan luka
tak hanya oleh akar dan ranting
perih dan sedih tertoreh
dari jeritan penghuni rimba raya

merpati putih tak jua menyerah
terus menyibak rahasia alam semesta
kulihat jejak penuh luka
membawa sebuah harapan dan kisah yang nyata

   
Celoteh 29
Celoteh 30
Sepenggal Kisah di Lawu Resort (Gatnas II)

Lembayung tampak menghiasi kaki langit
menebar sejuta pesona kelembutan
sosok keindahan kembali terkuak
memberikan kedamaian penuh makna

kulihat derai canda menggelitik suasana
geliat lembut menghantarkan pada suka cita
menari-nari disambut rintik hujan
menambah keelokan sang penghibur dunia

sang peri pun tak kuasa 'tuk turut tertawa
menebar seribu satu keindahan yang terbawa
ada rasa dan asa penuh harap
menyibak misteri yang perlahan merayap

sejuta kata tak kuasa mengukir cita
seribu nuansa membawa kesejukan cinta
tak ada rasa yang terlena
tak ada harap yang terlunta

Oh...Tuhan, jangan kau jauhkan mereka
dari apa yang telah kita bina bersama
seuntai kata dan do'a
semoga kita dipertemukan dalam suasana yang bahagia

Kulihat jendela disana
tampak guratan kenangan masa lalu
menempel menghiasi belantara hati
berbaur saling mengisi kenangan

kucoba membukanya satu persatu
kusibakkan sekat-sekat yang membatasi waktu
'tuk merasakan sejuta nuansa yang ada
berbagai rasa berkecamuk didada

banyak hal kurasakan kehilangan
ada hal kurasakan perubahan
ada hal kurasakan kebahagiaan
semua menjadikan hidup ini penuh makna
   
Celoteh 31 Celoteh 32

Tanya-Ku

Ibu…kenapa kita menderita seperti ini?
Ayah…mengapa negera kita selalu begini?
Kakek…haruskah selalu terjadi kekerasan ini?

Mengapa seolah kesengsaraan dan kepedihan selalu menimpa kita, ibu?
Apakah kalian berbuat dosa?
Ataukah maksiat begitu dekat dengan ku?

Ayah…mengapa mereka berbuat seperti itu?
Masih adakah yang mengikuti hati nurani?
Ataukah terjebak oleh nafsu tirani?

Nek…apakah agama ku?
Betulkah hanya sekedar warisan dari kalian?
Untuk nanti mengisi kartu pengenalku?

Ayah…mengapa mereka berkelahi sesama saudara?
Apakah yang mereka perebutkan?
Semurah itukah harga sebuah keimanan?

Kek…apakah pernah bermimpi tragedi ini?
Mungkin kiamat sudah kian mendekat?
Atau memang rencana sebuah misteri?

Hatiku…apa yang harus aku lakukan?
Sementara peperangan akan terus berlangsung.
Mana jalan yang akan aku tempuh?

Hidup itu pencarian...

dari waktu ke waktu akan terus mencari keingin-tahuan dan kemauan

semakin aktif kita mencari

semakin banyak hal yang tidak kita ketahui

dan semakin besar rasa keingin-tahuan itu menggelora dlm dada

 

apakah yang akan kutemui selanjutnya

masihkan jejak masa lalu kuhampiri

dengan sejuta memory yang menghiasi kalbu

 

   
Celoteh 33
Celoteh 34

dan Bumi-pun menggeliat (desah Merapi )

 

Rona jingga membawa berita duka

kidung langit menggema membelah jiwa

tampak kaki langit merah membara

menebar sebuah pelajaran yang nyata

 

alam kelam tak mampu berbisik

gemuruh perut bumi kian terusik

menyabdakan pesan yang tersirat

bagi manusia yang semakin picik

 

nurani jiwa coba menyerap

menancapkan akar kesadaran hidup

mencoba menterjemahkan isyarat bumi

agar hidup lebih berarti

Menepis sebuah keinginan

 

Satu sisi terjerat emosi

sisi yang lain terhimpit nurani

berjalan berarak saling mengabdi

mengabdi pada keinginan yang hakiki

 

Saat dua sisi saling mempengaruhi

menembus dikedalaman sejuta harap

meronta, menerjang ketulusan jiwa

berharap sang penakluk yang jumawa

 

Tapi ada semilir rasa

yang menyejukan nurani terdalam

untuk bisa sejalan dengan makna

mengambil hikmah dari sang alam

   
Celoteh 35
Celoteh 36

Buah Hati-Ku

 

seulas wajah penuh tawa
menghias diri yang tak berdosa
memberikan kisah hidup baru
membawa keagungan Penciptanya

Tak lelah mata memandang
tak hirau kata menyanjung
sejuta gemuruh penuh rasa
menyambut sang putri tercinta

hari-hari tak pernah sepi
canda-tawa menghiasi diri
membawa hikmah dan anugrah
yang tak mungkin tergantikan

wajah itu begitu putih
rautnya memberikan ketenangan
sosok itu begitu mempesona
membawa tanda Sang Penguasa

untai harap dan doa
yang mengalir dari kalbu putih
memberi amanat yang tulus
untuk sebuah harapan baru

Jenggala berbisik

Kawan pernahkan kau mengerti isi hatiku
pernahkan kau tahu keinginanku
yang harus kau tahu tak banyak keinginan
karena aku memang ditakdirkan seperti ini

pernah kubisikan hasrat hatiku ini
pada sahabat yang bisa mengerti aku
pada kawan yang selalu ingin belajar
padanya kuceritakan pintaku

boleh aku meminta kalian tak membawa bencana padaku
bisakah kalian tak membawa barang-barang yang meracuniku
maukah sebentar saja untuk hidup secara alami
berkenankah sejenak untuk hidup menyatu denganku

aku berharap kalian tak akan tersiksa
aku yakin tak akan menyakitimu
aku percaya karena kalian mahluk yang paling sempurna
aku tahu karena itu sudah menjadi takdirku

pernahkah aku berbuat jahat padamu
hingga kau balas dengan menyakitiku
padahal aku tak diciptakan seperti itu
atau karena aku tercipta untuk memenuhi kebutuhan kalian

jangan salahkan aku bila terjadi bencana
jangan maki aku saat badai menerjang
janganlah vonis aku saat bumi meradang
aku hanya menjalankan takdirku saja

apa yang kalian perbuat padaku
maka itulah yang akan kalian terima dariku
tak pernah terbersit dendam dalam diriku
tak ada kata sakit hati dalam penciptaanku

bila kalian menyakiti aku
tak hanya aku yang akan tersiksa
tapi sahabat-sahabat baik-ku
juga kalian dan sahabat-sahabat kalian

karena semua bernama kehidupan

   
Celoteh 37 Celoteh 38

Bila alam tak lagi berkicau

oh....dimana masa-sama itu kutemui lagi
saat terbangun dari tidurku
serunai alam kerap menyapaku
memberi semangat untuk menggapai hari baru

tiada hari tanpa lantunan nan merdu
tak hentinya menghiburku sepanjang hari
waktu demi waktu yg kulalui
begitu indah tak terbendung kelabu

beberapa waktu lalu saat ku-terbangun
ada rasa yang tak lagi kutemui
ada sesuatu yang tak lagi kurasakan
hanya tergantikan deru mesin

oh...sahabat
kemana belaian nan mesra
yang setiap pagi kuresapi
yang menemani setiap awal langkahku

waktu berganti hari
rasa itu seolah ada namun tak tercipta
hanya deretan memory yang begitu kuat
melekat memberikan kenangan yang abadi

dalam setiap malam menjelang
tak lupa asa dan harap berkumandang
semoga esok hari saat terjaga
kudapatkan kembali belaian kasih mesra sang alam

Masih ada sepenggal perjalanan

 

berkaca di penghujung senja
bercermin di awal gerimis
mencari atas apa yang diingini
mengejar paruh waktu yang tak kunjung sirna

langkah kaki yang kian surut
terus memaksakan untuk berpijak
catatan lama yang dituliskan
menjadi panduan untuk mencari harta sejati

jenggala memberinya doa
sungai pun turut berharap
mentari membawa asa yang sama
untuk ikut memberi sebait makna

apa yang telah dirajutnya
hendaklah menjadi sebuah sutra
apa yang telah ditempuhnya
hendaklah menjadikannya lebih beradab

perjalanan itu tak kan pernah sia-sia
walau waktu terus mengalir
bila manusia bisa meraihnya
inti dan makna perjalanan dunia

   
Celoteh 39
Celoteh 40

Apuy dimusim penghujan (Maret 2007)

Ada tanya jauh diatas sana
dikelebatan jenggala yang menyelimuti bumi
sayup-sayup terdengar sayu namun merdu
mendayu membawakan sebuah keingintahuan

terbersit seraut wajah penuh harap
menunggu sang alam memberi sebuah wahyu
tatap matanya menerawang menembus keheningan
mencari akan jawab yang dinantinya

bisik angin membawakan kabar jingga
menepi pada hati yang telah menunggu
seulas senyum menerawang jauh
menyibak kabut senja gunung ceremai

langkah kaki itu kian mantap
menyusuri liku sebuah jalan kehidupan
tanpak keraguan mulai memudar
seiring kilau hati yang kian memancar

Tajuk sebuah kedamaian


Hari itu semua orang mengingatku
Kala itu mereka begitu peduli padaku
Bersama-sama menitipkan sebuah pesan abadi
Untuk menjadikan sebuah penghormatan untuk-ku

Akankah saat itu akan berlalu
tak kala hari telah berganti pagi
walau mentari pagi bersinar di ufuk timur
apakah manusia tetap seperti itu?

Adakah rasa sesal dan penyesalan
yang mengetuk hati nurani kita
saat kampak dan belati menguliti-nya
menancap tepat dijantung kehidupan

Usia-mu yang semakin tua
tak menyurutkanmu untuk tetap mengabdi
mengabdi untuk sebuah pengorbanan
pengorbanan yang selalu kita abaikan

" Selamat hari Bumi "

   
Celoteh 41 Celoteh 42
Yang tetap Setia (Lima Juli)

Jejak langkah kaki tak bertuan
memenuhi seisi jagat raya
berpacu membelah sang waktu
meraih kesenangan nan semu

tak peduli kotoran dan darah menggenang
membajiri lembah dan kubangan nista
asal niat sudah terlanksana
walau harus bergelimang dosa

entah dosa apa yang telah diperbuatnya
apa memang tercipta untuk menderita
padahal dia menjadi penyangga hidup
bagi seluruh manusia yang terlahirkan

dia tak pernah mengeluh
tak jua jera atas prilaku manusia
walau harus menyimpan derita
tapi tetap mengabdi dengan setia


*Selamat Hari Lingkungan Hidup

Sepi tak bergema
menoreh sejuta cerita penghuninya
tak ada isak tangis menggelora
hanya lamunan tak merdu terdengar

Sayup-sayup sajak sang elang terdengar
membuyarkan lamunan semu yang tak terbayarkan
rintih riuh bergelora
meninabobokan keinginan yang terabaikan

ada banyak langkah tergantikan
oleh semangat yang tak terkendali
beribu kesombongan mengiringi diri
untuk coba menaklukan Sang Perkasa

tak ada nafas perlawanan
dari jiwa alam yang bijaksana
tak pernah ada sorot dendam membara
walaupun diri ditikam durjana


'hijjau 060807'

   
Celoteh 43 Celoteh 44
Rasa Yang Semakin Menjelma


Oh....
ternyata telah banyak perubahan
perubahan yg terjadi dalam diri ini
yang membawa nuansa baru penuh liku

tak seperti dahulu lagi
walau masih tersisa sebuah kecintaan
namun dalam nuansa dan kesan lain
semua itu bagian dari perjalananku

entah kapan itu dimulai
namun yang pasti itu kusadari penuh
ya, setelah sekian lama kulalui
dari semua perjalananku bersahabat dengan alam

semakin banyak perjalananku ini kutempuh
semakin besar rasa ketakutan hinggap dalam diri ini
entah bagaimana semua ini bisa terjadi
kenapa ketakutan itu tak hinggap saat pertama kali ku mengenal alam

tapi...
rasa takut itu semakin membuatku lebih bijak
rasa takut itu membuatku untuk lebih santun
rasa takut itu membimbingku lebih dalam

ternyata aku harus pandai bersyukur
karena alam begitu baik membimbingku
untuk tidak selalu menuruti nafsu dan rasa
untuk mengajarku 'menepis sebuah keinginan'

Ramadhan 1428 H


Gema itu kembali bergetar
menembus lorong waktu yang tak terbatas
bergemuruh menyebrangi lautan hati
menyerap dalam lubuk terdalam

Gelombang itu mengalir merdu
meyeruak dikedalam aliran darah
menghanyutkan riak-riak nafas kehidupan
membawa sebuah pesan keimanan

Hati tertunduk nan malu
rasa tergoda untuk bicara
bukan kata dan raga yang bergerak
tapi hati dan jiwa yang bicara

Senandung doa menjadi padu
dalam lantunan nan syahdu
sebait kata keagungan Illahi Rabbi
menancap dikedalaman nurani

   
Celoteh 45
Celoteh 46
Rindu-ku (Kenangan sahabat lama)

Ku rindu masa lalu-ku
yang ku lalui dengan keceriaan
ku rindu sahabat-sahabat-ku
yang memberi tawa dalam kehangatan siang

Mereka memberi candanya yang mesra
mereka memberi warna kisahku
mereka menorehkan cerita sedihku
mereka memberi cinta yang melenakan

Sejuta bintang bertaburan disana
berkelap-kelip memainkan keindahannya
saling berputar beraturan
saling berbagi dalam kehangatan

namun ku tak ingin kembali ke masa lalu
karena masa itu bukan lagi milik-ku
biarkan angan saja yang menyentuhnya
tidak untuk kuraih lagi

Rentang waktu semakin berlari
tak terasa jauh sudah terlewati
banyak hal terjadi tanpa kusadari
entah berapa banyak yang telah tersakiti

Memupuk semangat melalui hari-hari baru
mencoba mendapatkan sisa dari sebuah perjalanan
hiruk-pikuk nuansa hidup silih berganti
menjajakan sebuah kenikmatan semu

Hari ini ku coba meresapi sendiri
akan jalan yang telah panjang ku lalui
entah itu lurus yang telah kulalui
yang pasti ku melangkah dengan sebuah keyakinan

Entah apalagi yang harus ku tuju
sementara semua telah ku lalui
apakah masih ada asa yang sama
sementara perubahan pasti akan menjelma

   
Celoteh 47 Celoteh 48

 

Di dibawah payung rembulan dan gemerlap bintang
dalam bayang-bayang kesunyian yang menghampiri
terpukau oleh keindahan alam semesta
berbagi asa dan harap yang bergelora

Malam kian larut menemani bumi
menyibak sebuah misteri yang berjalan
hilir angin memberi ruang
berbisik turut berbagi hati

Malam nan indah penuh pesona
tak luput dari makna yang terbawa
sejuta senyum terus mendera
melewati malam nan sempurna

Sebuah kesan mengalir lembut
menambah suasana yang kiat larut
geliat hati bersenandung merdu
membawa sebuah kebahagiaan syahdu

Kesucian Cinta pada Alam

Cerita lama itu masih saja dipelupuk mata
berbagai petualangan pernah dilakukannya
beribu kisah masih memenuhi pita kalbu
memainkan peran yang dulu dilakoninya

Sejuta hasrat terus menggoda jiwa
menjelajah berbagai sudut misteri
untuk menyibak dinding hati yang terselimuti
mengajak kembali berpetualang kemasa lalu

Kulihat berjuta nuansa warna berbaur disana
berpacu untuk saling menerangi
berperang untuk sebuah nama
namun semua membias bisu dalam kepenatan

Ingin kuraih kesucian itu
merengkuhnya dalam belai mesra kehangatan
yang akan terbawa dalam keseharian
berbaur dalam keceriaan yang nyata

Cinta itu tak akan sama
waktu jua yang membuatnya berbeda
namun kesucian tetap terjaga
terbawa sampai akhir sebuah raga

Kesucian itu masih tetap terjaga
walau bukan diatas jenggala
dia hadir dalam detak waktu
yang mengelilingiku disetiap waktu

Tak harus kudapatkan kesucian itu jauh disana
karena telah kutanam mereka disekelilingku
tak hanya akan terasa olehku
tapi oleh orang-orang tercintaku

Kesucian cinta itu kita telah tertanam
pada pekarangan rumah yang menawan
setiap pagi pasti kan kusirami
agar harumnya dapat kita nikmati

   
   
   

 

 

Hakcipta hijjau@pendakierror.com 2004