Home

About me

Contact us

Sign guest book

View guest book

 Coretan Dinding

 
Fenomena Upacara 17 Agustus di Puncak Gunung
Hari Lingkungan Hidup
Kepedulian Sebuah Keluarga
Dilema Sang Volunteer
Makna Pecinta Alam
Takdir Atau Kesalahan Manusia
Selamat Datang Volunteer Muda
Behind the Screen (GATNAS #pendaki)
Dan Airlaut pun Menjadi Airmata
Celoteh sang Elang yang terluka
Agustus, Seribu sembilan ratus empat lima (makna buat pendaki)
Bodogol, sisi lain TNGP yang patut jadi percontohan

Menepis Sebuah Keinginan

17-an (semangat atau ego)

Yang tak lagi sendiri

antara Cinta, Kewajiban dan sebuah Tanggung jawab

Dia yang bernama perubahan

Melati suci masih tampak seperti dulu

 

Disaat kita terlena dengan apa yang dijalani, banyak ungkapan hati yang ingin ditorehkan pada dinding-dinding tak bermakna. Bergelincir pena kehidupan menyuarakan apa yang sedang dirasakan, satu persatu rangkaian kata itu menjadi sebuah makna yang berbeda memenuhi lembar putih buku kehidupan dirinya.



Fenomena Upacara 17 Agustus di Puncak Gunung

Mengikuti jejak atau napak tilas perjuangan dan semangat yang dikobarkan para pendahulu kita sungguh sebuah perbuatan yang sangat terpuji, dimana kita bisa mengambil pelajaran yang begitu berharga akan artinya sebuah kecintaan terhadap tanah air, serta mencoba menghayati nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Setiap tahunnya banyak dilakukan pesta rakyat yang sudah menjadi sebuah adat disetiap negara, hal yang wajar.

Tak ketinggalan pula kaum pendaki atau mereka yang menamakan Pecinta Alam pun tak mau kalah untuk ikut merayakannya. Berbagai ragam bentuk kegiatan yang dilakukan mereka dengan satu tujuan memperingati Hari Kemerdekaan Ibu Pertiwi tercinta. Upacara 17 Agustus di 'Puncak Gunung’ salah satu fenomena yang paling banyak dilakukan oleh para pendaki (pecinta alam) saat ini.

Beratus-ratus pendaki, bahkan beribu-ribu orang mencoba untuk mengikuti upacara tersebut. Tak ayal lagi gunung yang menjadi tempat kesunyian bernaung, tempat para penghuninya bebas menikmati hidup…menjadi hiruk-pikuk layaknya mall-mall metropolis yang penuh dengan gemerlapnya dunia. Begitu senangnya hati kita disaat seperti itu, semua kegembiraan terluapkan tanpa batas. Seolah-olah seisi rimba raya ikut menikmati apa yang kita rasakan saat itu.

Tapi, benarkah seperti itu ?!?!?!
Pernah kah kita merenung dan memikirkan hal itu, yang dulu kita anggap hal sepele bahkan mungkin tak terbersit dihati kita (karena ke-egoisan ?!?!?!). Dalam sebuah pendakian normal saja, alam cukup repot untuk mengembalikan habitatnya yang kita rusak. Bayangkan bila ratusan bahkan ribuan pendaki dengan berbagai macam sifat dan karakteristik yang berbeda, bahkan terselip sifat merusak (vandalisme). Berpuluh-puluh ton kita cemari alam ini dengan sampah, beribu-ribu liter zat kimia kita tabur disana, berapa banyak racun yang telah kita semai di dalamnya?. Bisakah alam ini menjaga amanat yang dipikulnya? Amanat untuk melayani kehidupan manusia.. Mampu kah mereka melakukannya?!?!?!. Salahkah bila alam menjadi murka, menjerit akibat ulah manusia yang ingin memuaskan nafsu tak terbatasnya.

Oh, betapa malangnya nasib-mu, Ibu Pertiwi
Kau berikan...Keindahan.............
Kau berikan...Kedamaian ............
Namun semua kebaikan-mu terbalas sudah dengan menguras air mata-mu

Kawan…
Apa yang telah kita perbuat selama ini belumlah terlambat. Tak ada istilah terlambat kecuali kita membiarkan hal ini terus berlanjut. Tidak ada larangan untuk mendaki gunung, tidak ada anjuran untuk berhenti berpetualang, namun tak ada salahnya bila kita mulai memperbaiki perilaku kita terhadap alam ini mencoba untuk lebih perhatian dan lebih mencintainya seperti kita mencintai diri sendiri.

:: Back To Top ::

 

Momentum Hari Lingkungan Hidup

Tak pernah bosan-bosanya permasalahan dan pembicaraan seputar lingkungan terus saja bergulir. Entah sejak kapan hal ini dimulai, mungkin sejak lahirnya Revolusi Industri di barat sana pertengahan abad 19. Memang ini sebuah konsekuensi dari perkembangan peradaban manusia, dimana banyak dihasilkan penemuan-penemuan baru yang membuka mata manusia dalam sebuah era teknologi. Membuat sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan oleh akal kita, namun kini bisa terwujud.

Tapi apakah itu semua bisa menjadi sebuah alasan untuk mengeruk harta dunia tanpa batas-batas norma, dengan dalih demi perkembangan, kemajuan dan kesejahteraan segelintir orang (mungkin) maka hal itu dianggap halal. Sungguh nyata bahwa nafsu manusia tak akan bisa terkendali dan terpuaskan.

Saling tuding, saling menyalahkan sudah menjadi bagian dari polemik yang sudah tercipta. Tidak ada keinginan untuk mengoreksi dan berkaca dengan apa yang telah terjadi. Semua ini hanya pemenuhan nafsu. Mungkin pemerintah tidak bijak terhadap masyarakatnya, mungkin juga pengusaha-pengusaha kaya yang teramat serakah mengeruk kekayaan alam demi kantongnya sendiri, atau ada segelintir LSM yang berkedok lingkungan ikut meramaikan kerusakan ini, mungkin…mungkin…dan mungkin.

Jangan dulu mengadakan demo besar-besaran menentang pengrusakan hutan, tidak usah dulu mendirikan LSM berwawasan lingkungan, nanti saja dulu untuk mengutuk si A, mencaci-maki si B. Pernahkan tersirat dalam diri ini untuk berbuat hal yang baik, tidak perlu yang besar-besar, jangan pikirkan untuk merubah dunia. Cukup dilakukan dimana kita tinggal.

Ada hal sepele (seharusnya) yang bisa kita lakukan, menjaga kebersihan diri dan juga lingkungan. Bahkan di dalam salah satu agama kebersihan ini mendapat perhatian yang besar ‘Kebersihan sebagian dari pada Iman’. Ya, seharusnya pola hidup bersih sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Memberi contoh dan teladan yang baik bukan berarti ingin dipuji. Sayangnya justru hal itu menjadi bahan cemo’ohan.

Maka hari ini saat diperingatinya Hari Lingkungan Hidup Sedunia hanyalah sebuah momentum untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali akan arti pentingnya menjaga kebersihan, mencintai lingkungan. Setiap hari pun kesadaran itu harus tetap terjaga tanpa harus menunggu.

:: Back To Top ::

 

Kepedulian Sebuah Keluarga

Pagi itu saat sedang menikmati hangatnya mentari pagi di TNGP, setelah ½ jam berolah raga mengelilingi Kebun Raya Cibodas. Tampak serombongan keluarga memasuki Pos Penjagaan TNGP Cibodas. Lalu mereka melaporkan diri kepada Petugas yang berjaga. Kemudian rombongan itu pun mulai melakukan perjalanan menuju Curug Cibeureum. Sesaat setelah itu petugas mendekati volunteer yang berdiri tak berapa jauh dari Pos penjagaan. Petugas mengatakan kepada volunteer bahwa rombongan itu adalah dari Keluarga Besar H. Sobari yang akan melakukan OPSIH di Cibeureum dan akan memperbaiki MCK yang sudah sangat rusak.

Keluarga Besar Haji Sobari?!?!?! Rasanya tak pernah mendengar nama itu selama di TNGP. Mungkin mereka bukanlah pejabat tinggi di Cianjur ataupun konglomerat ternama di kotanya. Mereka hanyalah warga kota Cianjur biasa. Namun ada perasaan kagum dan respek dengan apa yang mereka lakukan ini.

Seperti biasa bila pagi hari berada di TNGP, beberapa Volunteer melakukan olah raga ke Curug Cibeureum sambil memunguti sampah-sampah plastik. Berlari-lari kecil menuju Air Terjun sambil menikmati keindahan dan kesegaran alam Gunung Gede.

Tak berapa lama sampailah volunteer, disana terlihat para pengunjung yang menikmati pemandangan di pagi hari yang begitu indah. Canda-tawa terdengar begitu ceria sambil berphoto bersama. Disela-sela keceriaan itu tampak sekumpulan keluarga yang dengan giatnya mengumpulkan sampah dan membersihkan MCK. Tampak pula bapak-bapak yang memegang parang sedang membersihkan semak-semak liar dan mengumpulkan plastik-plastik aqua. Begitu juga dengan remaja-nya. Kegiatan itu mereka lakukan sambil bersenda gurau, bahkan keceriaan, tawa dan canda turut pula berbagi dengan para volunteer. Suasana yang begitu bersahabat. Saat volunteer selesai memunguti sampah dan pamit pada mereka, mereka menawarkan untuk makan bersama.

Sungguh sebuah keluarga yang harmonis yang tidak hanya mendidik anak-anaknya dengan pendidikan formal, namun juga mendidiknya dengan terjun langsung ke lapangan. Mereka memberikan contoh yang sangat positif yang akan tertanam dalam diri dan jiwa mereka.

:: Back To Top ::

 

Dilema Sang Volunteer

Sudah beberapa kali obrolan ini menjadi topik yang sangat mengasyikan sekaligus timbul keprihatinan atas apa yang tengah terjadi. Ya, kisah klasik yang tak pernah pupus menjadikan kehidupan ini terus berputar.

Dari obrolan itu terbersit rasa putus-asa, kecewa dan lelah yang terdengar, betapa dia berusaha untuk mempertahankan bahkan mencoba untuk melakukan hal yang lebih baik, namun selama periode yang dia pegang usaha itu seakan menemui rintangan besar bahkan seolah menjadi sia-sia belaka. Akan bisa dimengerti atas semua keluh-kesah yang diungkapkannya, wajar bila hal itu menerpa dirinya. Ada rasa tanggung jawab moral yang di-embannya, kewajiban yang tanpa pamrih dilakukannya dengan niat yang luhur. Namun bila ahirnya harus menyerah, itu mungkin jalan terakhir yang harus ditempuhnya.

Selama hampir 10 tahun dirasakannya bersama-sama, susah-senang dilalui dengan beragam bentuk emosi. Beberapa kali pergantian ikut pula menyertai langkahnya. Selama ini semua itu bisa diredamnya, tapi saat ini semua ketegaran dan keperkasaan yang pernah dimilikinya seperti tak lagi tampak, yang ada hanyalah rasa keputus-asaan dan kelelahan yang menghantui perasaannya.

Bila dilihat apa yang sekarang terjadi dengan para sukarelawan, TNGP dan petugas dilapangan tak ada yang berubah, bahkan seperti jalan ditempat. Ada keinginan dari-nya untuk membuat perubahan yang lebih berarti, yang lebih mempunyai nilai yang lebih dalam menjaga kelestarian TNGP.

Ada rasa sedih dan sia-sia rasanya atas apa yg selama ini dilakukan, setiap kali melakukan rutinitas selalu saja ada pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, dan pelanggaran-pelanggaran itu tak juga mengerucut. Apa sebenarnya yang terjadi???

Sering hal ini menjadi bahan diskusi antara mereka, namun belum juga menemukan solusi yang berarti. Percuma mereka mati-matian melakukan tugasnya bila tak didukung pihak lain. Dan keinginan untuk melakukan sebuah perubahan yang nyata pun akhirnya kandas bila dari dalam sendiri tak ada niat untuk merealisasikannya.

Mungkin kita yang tak tahu menahu atau memang tak ingin tahu karena tak ingin direpotkan dengan masalah yang tak ada untungnya (karena kita hanya mengambil untung untuk setiap kegiatan yang kita lakukan), akhirnya turut pula menjadikan semua itu terjadi.

Mungkin esok atau lusa akan lebih banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.
Mungkin esok atau lusa pendakian ke TNGP tak ada acara periksa-periksa.
Mungkin juga esok atau lusa tak lagi terdengar derai tawa-canda atau perselisihan antara pendaki dan penjaga.
Mungkin juga esok atau lusa sudah tak ada lagi TNGP…

:: Back To Top ::

 

Makna Pecinta Alam

Pecinta Alam identik dengan pelestarian alam, tapi nyatanya? justru bertolak belakang

Saat ini keberadaan klub Pecinta alam tumbuh subur di bumi pertiwi ini, seperti jamur dimusim hujan. Dengan kondisi alam yang begitu mendukung kegiatan tersebut. Sebuah usaha positif dalam menyalurkan kegiatan tersebut. Namun terbersit ke khawatiran dengan banyaknya klub/kelompok pecinta alam tersebut. Apalagi bila ke hadiran klub-klub ini tidak diiringi misi dan visi yang jelas dalam organisasinya. Lihat saja gunung-gunung di Indonesia, contohnya Gede-Pangrango. Begitu kotor dan penuh dengan sampah...!

Mereka yang menamakan dirinya pecinta alam seharusnya menjadi ujung tombak dalam pelestarian alam ini bukan justru sebaliknya.
Makna pecinta alam dewasa ini sudah jauh dari makna yang sebenarnya.

Pecinta Alam bukanlah mereka yang yang telah menggapai atap-atap dunia, bukan mereka yang berhasil melakukan expedisi yang berbahaya, bukan pula mereka yang ahli dalam mendaki. Tapi mereka adalah orang-orang yang mau menjaga kebersihan lingkungan dimana mereka berada.

Sudah banyak manusia-manusia yang telah menggapai atap-atap dunia, tapi hanya segelintir orang yang benar-benar sebagai pecinta alam.
Semoga kita termasuk segelintir orang yang peduli dengan alam.

:: Back To Top ::

 

Takdir Atau Kesalahan Manusia ???

Setiap tahun banyak sudah korban berjatuhan disetiap pendakian....takdirkah? atau kerena ulah manusianya sendiri?

Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan-rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah 'takdir'.

Ya...itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?

Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal (memang tidak semuanya), mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan.

Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan/Pendakian. Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal-hal kecilpun harus dipikirkan.

Bila saja para pendaki memahami dasar-dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkan musibah dan korban kegiatan alam bebas ini. Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif (dari diri sendiri). Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas.

Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor 'X' pun bisa menjadi sebabnya.

:: Back To Top ::

 

Selamat Datang Volunteer Muda

Akhirnya selama penantian 2 tahun lebih, maka keluarga besar Volunteer MONTANA kedatangan anggota baru sebanyak 19 personil.

Setelah menjalani program selama beberapa bulan oleh panitia Penabu, akhirnya pada tanggal 27 Oktober 2002, mereka resmi bergabung bersama keluarga besar Volunter MONTANA. Dengan bergabungnya mereka semoga kinerja dan pengabdian Volunteer MONTANA terhadap TNGP akan lebih optimal.

Semoga jiwa-jiwa muda dan ide-ide dari mereka akan menambah khasanah dalam mengelola Volunteer MONTANA ini.

Dengan bekerja sama, bahu-membahu maka keberadaan Volunteer di TNGP akan semakin terasa nilai dan pengabdiannya. Tidak hanya untuk TNGP tapi juga untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Semoga.....

Selamat datang saudaraku, selamat bergabung di MONTANA. Ayo singsingkan lengan baju, sumbangkan tenaga dan pikiran kalian untuk mengabdi kepada alam. Semoga niat tulus kalian mendapatkan balasan dari Allah SWT, amin.

:: Back To Top ::

 
Behind The Screen (Gathering Nasional I #pendaki Indonesia)
Awal dari keinginan mengadakan acara ini adalah terbawa oleh sebuah rasa dan niat untuk bisa berkumpul dan bertemu dengan sahabat-sahabat di cyber dari berbagai komunitas.

Bertahun-tahun mengikuti beberapa milist dan beberapa forum diskusi pecinta alam indonesia memberikan banyak hal yang dirasakan dan didapat dari semua itu. Mengerti sifat dan karakter individu-individu maupun sebuah komunitas. Beragam corak ditemui, dari hal yang positif maupun yang negatif, semua ikut meramaikannya.

Dari semua itu, muncul hasrat untuk mencoba menyatukan dan memperkecil perbedaan yang terjadi, omong kosong bila tak ada rasa egois dari masing-masing komunitas yang merasa paling bagus atau terbaik. Ada perbedaan yang seharusnya tak menjadikan halangan untuk bersatu. Tapi hal itu masih jelas tergambar dan bisa dirasakan.

Maka terbersitlah ide untuk mencoba menyatukan perbedaan-perbedaan dengan tidak menghapuskannya, sehingga direncanakanlah sebuah acara yang mungkin bisa menampung niat tersebut. Maka GATNAS #pendaki pun digelar dengan berbagi keterbatasan yang ada. Satu persatu niatan baik itu diungkapkan dan dipublikasikan baik secara personal maupun kelompok.

Banyak tanggapan positif dari rekan-rekan yang mendukung usaha itu (alhamdulillah), walaupun tak sedikit juga yang pesimis dengan acara ini. Namun dengan niat yang tulus dan keinginan luhur, tak ada kata menyerah. Sampai akhirnya terlaksananya acara tersebut. Ada rasa gembira yang menaungi hati ini, juga ada terbersit rasa kecewa karena tak bisa menghadirkan semua komunitas yang diharapkan (hal yang wajar mungkin).

Ini adalah awal dari perjuangan untuk terus mencoba dan mencoba, mempersatukan misi dan visi yang bisa memayungi keinginan kita bersama tanpa memperbesar perbedaan yang negatif sifatnya, mengurangi gesekan-gesekan dan sifat egois komunitas maupun individu.

Semoga apa yang telah dirintis dengan niat yang baik dan tulus ini dapat dilanjutkan oleh rekan-rekan lain tanpa memandang komunitas maupun individu.

Saat ini mungkin kita belum bisa bersama, namun Insya Allah suatu hari nanti dengan kesadaran yang kita miliki, bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi menyatukan keinginan yang luhur ini, amin.

Semoga...

:: Back To Top ::
 
Dan Airlaut pun Menjadi Airmata
Serambi Mekah, sebuah sebutan yang begitu akrab bagi kita, dengan penduduk yang taat dalam menjalankan syariat serta norma-norma agama yang luhur.

Kini hanya menyisakan sejuta tangis yang menggenangi lautan manusia tanpa jiwa. Sebuah tragedi kemanusia yang tak akan bisa terhapus dari ingatan kita.

Ratap dan isak yang mengetuk nurani kemanusian tanpa mampu dibendung oleh hati insan bernyawa, pekatnya awan kelabu yang menyelimuti Aceh menghentak logika manusia. Daya manusia hanya sebatas menjalaninya tanpa mampu membuat keputusan yang hakiki.

Ini sebuah nasib...
Ini sebuah takdir...

Pelajaran berharga manusia akan kehidupan yang lebih banyak didominasi keinginan duniawi. Kita tak tau apa yang akan terjadi detik berikutnya, namun satu yang tak boleh sedetikpun kita lupakan, dekatkan Sang Pencipta dihati kita.

Ya, Allah...ku-tengadahkan muka ini, kumohonkan Kemurahan dan Kasih Sayang-Mu untuk saudara-saudaraku disana. Ku panjatkan Do'a-do'a penuh harap, berilah kekuatan iman dan teguhkanlah hati mereka agar tidak berpaling dari-Mu, berilah secercah Cahaya-Mu yang Agung dan terangilah jalan kami, amin.

" Dukacita atas Tragedi kemanusia di Aceh, Sumut, Nias dan dunia "

:: Back To Top ::

Celoteh sang Elang yang terluka
"Penetapan Taman Nasioanl Gunung Ceremai
Demi Elang Jawa atau Masyarakat Sunda ?????
(kompas, 12/12/2004)

Setelah penolakan bertubi-tubi menghadang penetapan Taman Nasional Gunung Merapi & Merbabu di Jawa Tengah, kini penolakan juga bermunculan dan semakin menghangat berkenaan dgn ditetapkannya Gunung Ceremai menjadi Taman Nasional di Jawa Barat. Penolakan itu lebih mengedepankan kepentingan masyarakat etnis Sunda, yang tinggal disekitar gunung tersebut, dari pada usaha pelestarian burung dan binatang yang melata didalamnya.

Dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut II/2004, pemerintah pusat melalui Menhut terdahulu, M Prakosa menetapkan Gn. Ceremai sebagai Taman Nasional.

Sebelumnya berdasarkan keanekaragaman hayati, kawasan wisata dan daerah resapan air (water catchment area), Menhut menerbitkan SK Menhut No.419/KPts-II/1999 tentang penetapan kawasan Ceremai menjadi kawasan lindung. SK Menhut disambut pula oleh SK Gubernur Jabar No 552/1224/Binprod tentang perlindungan dan pengamanan hutan di Jabar, dengan salah satu point pelarangan tumpang sari di kawasan lindung dan penanaman di kemiringan tertentu.
...............
...............
.............. "

Selalu saja, setiap kebijakan yang diambil pemerintah tidaklah sebijak pelaksanaanya dilapangan karena selalu saja rakyat kecil yang menjadi korbannya. Hingga kapan akan selalu begini???? padahal rakyat tidak pernah meminta yang macam-macam, tapi mereka selalu menjadi tumbal dan akan terus dibodohi pemerintah, sedangkan pemerintah kerap kali dikibuli para pengusaha dan oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Kita tahu, rakyat tak meminta yg aneh-aneh, mereka hanya ingin mengisi perut mereka dari alam yang ada disekitarnya, bukan mobil dan rumah mewah yang diinginkan, bukan untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri yang menjadi tujuan para pengusaha dan oknum-oknum dalam mencuri kekayaan alam kita.

Terkadang kita pun ikut andil memperparah keadaan alamnya. Berbondong-bondong kita melakukan pendakian dengan menaburkan racun-racun serta limbah-limbah disana, memang tak semuanya berniat seperti itu. Tapi dari apa yg terlihat dilapangan porsi terbesar pendaki seperti itu.

Bila saja kita menyatukan visi dan misi serta lebih arif dalam bertindak, mungkin ada hal kecil yg bisa kita perbuat. Komunitas kita sangatlah beragam dan luas yang bisa dijadikan alat untuk ikut memperbaiki keadaan yg semakin tak menentu ini.

Adakah kesadaran kita untuk menuju kearah itu???? ataukah kita masih menyimpan sejuta rasa egois yg tak bermanfaat????????

:: Back To Top ::

 

Agustus , seribu sembilan ratus empat lima (makna buat pendaki)

 

Berapa lama kita mengalami pergantian tahun, mengikuti perayaan hari- hari besar yang semarak dengan hingar-bingar keindahan dunia. Turut meramaikan kemeriahan dan kebahagiaan sesaat yang kita jalani, lalu setelah itu, seperti hilang dihembuskan angin perubahan. Ada kesan yang hinggap dalam diri, namun tak banyak membawa perubahan. Seperti terminal yang hanya dilewati.

Tahun demi tahun berganti, menanti perubahan diri yang tak jua membuahkan nilai yang nyata. Kadang merasa diri ini berjalan ditempat, bahkan sepertinya mundur kebelakang :(
Pencarian jati diri yang terus berlanjut juga ikut menyembul saat memperingati 17 agustus. Beragam aktifitas dilakukan untuk menyemarakannya, berduyun-duyun lintasan manusia memenuhi seisi hutan dan lembah untuk satu tujuan memeriahkannya.

Semangat yg begitu bergelora kita habiskan untuk sebuah kebanggaan dialam sana, menapaki rimba raya dan seisinya. Begitu meluap kegembiraan itu, terkadang membuat kita khilaf dengan makna dan tujuan yang sebenarnya.

Waktu...
semua bergulir begitu saja mengikuti detik waktu berjalan. Saat ini mungkin kita belum menemukan apa makna yang hakiki dari semua itu, tapi teruslah berharap semoga kita akan mendapatkan kearifan waktu dan alam yang selalu dekat dengan kita.

Semoga....

:: Back To Top ::

 

Bodogol, sisi lain TNGP yang patut jadi percontohan

 

Tampak dikelebatan hutan dan di ke-terisolasi-an dari keramaian, nampak beberapa bangunan dari kayu yang terlihat alami berada disebuah punggungan kawasan TNGP. Suasana damai yang selalu mendendangkan lagu serta nyanyian alam yg tak pernah jera mengumandangkan sabda sang alam.

Tampak disekelilingnya berdiri kokoh pohon2 yang ingin menyembunyikan keberadaannya. Sungguh suasana yang begitu diimpikan, tempat yang bersih dari sampah dan polusi udara.

Begitu pula saat kita berkunjung ke Canopy trial dgn didampingi guide yg telah disediakan, aturan yg berani dan patut diacungi jempol adalah tak boleh merokok selama perjalanan ( mengebiri / membatasi hak kita kah????), sungguh sebuah niatan yang sangat baik.

Sepanjang jalan sangat-sangat jarang sekali kita temui sampah2 yg biasanya menjadi pemandangan yg sangat umum di TNGP. Begitupula saat kita mengunjungi Air Terjun yang berjarak sekitar 4 km yg hrs dilalui selama 2 jam. Jalur menuju kesana benar2 masih apa adanya, walaupun ada beberapa bagian yg sengaja ditata rapi seperti tangga. Sebagian besar jalannya berupa jalan setapak yg terus mengikuti lekuk-lekuk punggungan gunung. Sungguh menakjubkan, sepanjang perjalanan hanya menemui sampah 1 potongan botol aqua dan 1 bungkus permen.

Ada kah yang beda????

Pada dasarnya Bodogol punya peraturan yg sama dgn TNGP, hanya ada beberapa yang mereka lakukan dengan berani tanpa takut dan ragu mendapatkan kritikan dan caci-maki pengunjung. Dengan sistem booking pula (bila ingin menginap) dan paket2 yg ditawarkan bila ingin menikmati fasilitas (seperti paket ke Air terjun, paket ke Canopy trial), sehingga setiap paket kita hrs membayar karena disediakan guide utk memberikan cerita tentang keadaan disana dan memonitor pengunjung agar tidak bertindak semaunya.

Mahalkah dan sangat Reseh-kah seperti pendaki bilang bila inigin ke Gunung Gede-Pangrango?????

Bila kita hanya berpikir tanpa mau mengkaji maka yg akan keluar adalah : "tempat yg reseh, paling rumit, dll". Tapi liat apa yg bisa dilakukan oleh mereka????? Setidaknya kerusakan alam dapat di minimalkan dan dapat terlihat dengan jelas. Apa yg kita keluarkan tak seimbang dengan kehancuran alam ini. Jangan bandingkan uang dan kerusakan yg akan terjadi bila dibiarkan. Alam tak akan bisa dibeli dgn harta dan permata.

Masihkan kita terus mengedepankan rasa ego ini??? yang selalu mencari pembenaran utk dpt melakukan keinginannya yg tanpa batas. Yang menganggap alam ini bebas utk siapapun tanpa ada aturannya.

Semoga dengan seringnya kita berinteraksi dengan alam banyak kebajikan-kebajikan yang akan kita dapatkan bukan hanya bermain tanpa mendapatkan apa-apa, sungguh sangat sia-sia.

:: Back To Top ::

 
Menepis Sebuah Keinginan

 

Suasana tak jauh berbeda saat pertama kali mengunjunginya. Ya...dua tahun lalu kuinjakan kaki seorang diri didesa ini. Begitu juga saat bertemu dengan sesepuh apuy, Abah Suljo ('bah Suljo). Seorang bapak tua yang memancarkan rasa teduh dan arif yang siap menyambut pengunjung dengan keramahan yang begitu tulus. Walau telah termakan usia, namun tetaplah seorang manusia yang tegar :)   Saat kami mengunjungi beliau untuk ijin pendakian ke ceremai, Abah Suljo seperti biasanya mempersilahkan kita masuk dan menyediakan minuman dan makanan tanpa lagi berbasa-basi (melly nech kayaknya yg ngabisin makanannya Abah Suljo hihihi), gerai tawa dan gurauan kerap kali terdengar dari mulut mungil yg tak bisa berdiam diri. Arahan dan nasihat tak luput dari kewajiban Abah Suljo untuk meredam gejolak darah muda yang tak terkendali.   Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 siang sabtu itu, dengan santai dan saling bercanda kami memulai pendakian ini. Terik matahari tak luput ikut menyemarakan keceriaan kami.   Mulai memasuki pintu rimba, matahari tepat diatas kepala. Pendakianpun lebih santai dengan suasana yang redup dan tenang. Menetramkan pikiran dan rasa yang teracuni oleh hiruk-pikuk kehidupan kota .   Saat itu banyak keinginan dan rencana menuju puncak, sejuta harap bergemuruh saling menampakkan kekuatan yang akan sirna. Seribu godaan menghantui setiap langkah kaki yang menapaki jalan penuh liku. Ego dan rasa ikut menyemarakan sebuah pertarungan jiwa, berharap dapat menaklukan sang jiwa yang kerap terlena.   Kebimbangan terus saja menggelitik kalbu, menyuarakan egoisme dan rasa jumawa yang beriringan mengikuti langkah ini. APa yang harus kulakukan? Masih adakah sejuta keinginan dan gelora tanpa batas yang dulu begitu dekat dengan diri ini.   Lalu tak terasa semua jejak-jejak langkah masa lalu terbentang dipelupuk mata, berbagai kejadian kembali diputar. Seperti sebuah lentera yang menampakan kembali sinarnya walau redup, tapi pelita itu membuka hati dan rasa yang mulai tergoda.   Lalu emosi dan rasa ego mulai memudar, seiring keinginan untuk berbagi dan berharap pelajaran dari Sang Alam.   Akhirnya harus ku-tepis sebuah keinginan yang selalu menghantui jiwa, yang selalu ingin menurutkan ego, emosi dan rasa.   Lalu ku berharap, semoga akan lebih baik dari hari-hari yan pernah kujalani.     Apuy, 7-9 April 2006.     "Aku sadari, suatu hari nanti mungkin tak kan seberuntung kisah- kisahku yang lalu"

: Back To Top ::

 
17 -an (semangat atau ego)

Itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka...sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
...
...
...

Sepenggal bait dari lagu kebangsaan negeri tercinta yang sering kita dengarkan. Dulu saat kita masih duduk di bangku SD atau SMP atau SMA, semangat itu begitu membakar darah muda yg bergejolak dengan mengikuti upacara 17-an disertai acara perlombaan yang beragam.

Ya, semangat itu masih tersisa walau tak sebergejolak dulu. Dulu salah satu kebangaan dan keinginan yang selalu ingin diwujudkan adalah upacara 17-an di atap-atap tertinggi tanah Indonesia. Hmmm...betapa mengasyikan sekaligus membanggakan bila hal itu terwujud.

Ya, untuk hal yang satu itu kadang berbagai cara dilakukan demi 17-an dipuncak gunung :D, tak peduli ratusan bahkan ribuan pasang kaki memenuhi seisi rimba raya. Masih bisa bersabar ikut mengantri dalam pendakian.

Sorak-sorai dan gemuruh derap langkah kaki membuat semangat berada pada titik yang tertinggi hingga terkadang lepas kendali. Sepanjang jalan pendakian terlihat beragam corak dan warna tenda berdiri kokoh, tak peduli menghalangi jalan ataupun ber-rela-rela menebas pohon-pohon disekelilingnya untuk area camp.

Jenggala yang biasanya sunyi-senyap kini tak ubahnya pasar malam ataupun diskotik dadakan. Kita puaskan segala kegembiraan yang ada saat itu, tak peduli alam dan segala isinya terganggu ataupun tidak. Masa bodoh...yang penting kita bangga dan jumawa.

Kadang kita merasa sangat berat untuk menepis sebuah keinginan antara keyakinan dan ego, sulit untuk bisa belajar dari setiap langkah kaki yang kita tempuh melewati beribu belukar dan akar yang menjadi saksi perjalanan ini.

Semoga saja kebajikan alam dapat kita serap yang merupakan salah satu inti sari kehidupan ini.

Akankah sia-sia????????

Bintang...
kau ajari aku rasa kagum akan ke-Agungan-nya

Hutan...
kau ajari aku akan rasa ketenangan yg hakiki

Bumi...
kau ajarkan aku rasa berserah diri pada-Nya
kau begitu kuat menahan beban dunia dipundakmu, rela dirimu dibanjiri
bau amis darah manusia, kau tegar saat dirimu dibumi hanguskan oleh
keserakahan manusia.

Karang...
kau ajari aku makna sebuah kesombongan

Sungai...
hikmahmu membuatku mengerti apa yang kau tanamkan pd alam ini

Tapi...
aku mohon maafmu, wahai sang alam, karena apa yg kau ajarkan tak
membuat diri ini lebih baik dari hari ke hari. Sepertinya diri ini
tak jua berubah. Masih saja terlempar baju kesombongan, masih banyak
kata yang menusuk hati mereka, masih sering... dan sering lagi
terjadi.

Oh, alam...
akan kah sia-sia dari setiap perjalananku ini???
janganlah berlalu apa yg telah kau ajarkan padaku

:: Back To Top ::

 
Yang tak lagi sendiri
Tak terasa waktu berlalu...
satu...dua...tiga...
jari disebelah tangan kiri tak cukup untuk menghitungnya.
enam...tujuh...
ya, hampir tujuh tahun menjadi penghuni tetap milist ini.

"hey...!!!, kemana saja kalian sahabat2 lamaku?"
" huh!!! mereka membiarkanku sendiri terjebak disini"
Segudang rasa kecewa menghantui rasa ini. "Dasar kalian pen%@$%#!## !!!...meninggalkan begitu saja".
Sumpah serapah mampir dibenak ini, ingin rasanya kulontarkan pada mereka, namun ternyata mulut dan jari ini tak mampu mengungkapkannya pd mereka.

Sedih sering kali hinggap berlarut-larut, semua kenangan terkuak kembali membawa berjuta canda dan airmata. Oh...bayangan itu menari-nari dipelupuk mata ini, seolah sebuah film lama yang kembali diputar.
Kulihat keceriaan saat itu, ketika kebersamaan begitu terlena. Hhmmmm...juga kulihat air mata dan kekecewaan disana, saat badai menerpa sebuah persahabatan dan kesetiaan.

"Mereka tak akan kembali, keadaan itu tak akan sama kurasakan...", bathinku parau berbisik.
Tak mungkin aku terus terlena dengan semua itu, tapi untuk bertahan rasanya sangat sulit. Sudah banyak sekali yang berubah, karena alur kehidupan akan terus berganti halaman.

"Kawan...berapa lama lagi kau akan bisa bertahan, ditengah ladang kehidupan yang terus tumbuh berbagai macam kehidupan", kembali bathin ini berbisik.
"Satu atau dua tahun lagi...", ucapku lirih seperti tak berdaya.

:) *_^
"Oh...kulihat denyut aktifitas disana, tak seperti biasanya terjadi".
Kuperhatikan dari hari kehari perkembangan itu, ada harap-harap cemas terpatri disini.
"Akan kah....", tak berani kuteruskan kelanjutannya.
" Hey..........."
Sepertinya akan sesuai rencana. Tak sia-sia rasanya menunggu untuk sesuatu yang baru.
"hihihi...weks...:p~ ", canda dan senyum itu kembali terkuak. Sedikit lapang rasanya didada ini.

Ya, ada angin perubahan yang berhembus menyusuri jalan yang dirintisnya. Memang tak sama, tapi membawa aura generasinya sendiri.
"Ada yang surprise lho, ternyata kita bisa", bisik-bisik itu sempat kudengar.

Seulas senyum kian terkembang, dan 'Menepis Sebuah Keinginan'

:: Back To Top ::

 
antara Cinta, Kewajiban dan sebuah Tanggung jawab

Lama terasa udara yang selalu dirindukan itu dapat kuhirup kembali. Tak seperti dulu yang begitu dekat dan menjadi bagian dari kegiatan rutin yang dijalani. Berseda gurau dan bercengkrama dengan alam menjadi kenikmatan yang tak terkirakan.

Ahhh...terasa kenangan itu menyeruak hebat diantara gemuruh aliran darah dalam dada, bergolak membangkitkan semangat yang tak pernah surut. Tak ada yang berubah dan tak ada rasa menyesal untuk tetap merengkuh keyakinan yang terpatri.

Waktu boleh berganti, namun rasa cinta dan kangen sepertinya tak kan tergantikan. Perubahan adalah hal yang pasti dan tak bisa dipungkiri, begitupun dengan diri ini. Saat ini ku tak lagi sendiri mengelana mencari sebuah pertanyaan yang selalu menghantui. Kali ini aku tak seorang diri merasakan kenikmatan akan bisik sebuah kebajikan dari belukar yang sering kulewati.

Tak terasa, saat ini telah hadir pendamping setiaku dalam mengarungi hidup ini. Dan...seorang bidadari kecilku yang cantik membuat rasa itu semakin kencang berpacu. Kapan keinginan yang terpendam ini bisa terjadi?

Oh, betapa indah bayang-bayang yang menari-nari didepan mata ini. Kulihat keceriaan sebuah kesempurnaan yang mengajarkan sebuah kecintaan. Ditengah rimbunnya semak belukar, dikelilingi rapatnya tonggak raksasa yang saling berhimpitan memenuhi seisi jenggala.

Oh...nafas murni yang diberikan alam mungkin akan membawa sebuah kuncup kehidupan untuk sang tercinta. Betapa bahagianya bila saat-saat itu bisa kulalui bersama orang terkasih.

Detik demi detik saat-saat itu aku persiapkan. Kucoba untuk memulainya dalam canda dan tawa. Ingin kuajari dia untuk bisa merasakan apa yang selama ini menjadi bagian hidupku.

Istriku...ijinkan aku juga alam ini untuk mengajarkan anak kita ini. Menyerap sebuah makna dan hakekat sebuah kehidupan. Yang dulu banyak keterima disaat kesendirianku bersamanya.

Anaku...tak mesti kau ikuti jejak langkahku, tapi mencoba mencintai cintaan-Nya bukanlah sebuah kejahatan. Kelak kau akan menyadari dan mengerti apa yang ingin kusampaikan dari sebuah perjalanan yang selama ini aku lalui.

Tak ada satu pul hal yang akan sia-sia dari setiap jejak langkah kaki yang kita ayunkan, selama kesadaran dan keinginan untuk merengkuh inti sari kehidupan ini.

Semoga kita bisa bersama menikmati keindahan alam dan keagungan dari hasil karya Yang Maha Sempurna, entah esok atau lusa saat itu akan kita nikmati bersama.

:: Back To Top ::

 
Dia yang bernama perubahan
Tak terasa waktu, usia dan keadaan yang terus bergulir searah tergelicirnya matahari. Tak akan ada yang bisa menghentikannya, mengikuti atau diam untuk mati. Sang waktu tak mengenal keluh kesah dan keragu-raguan, lajur yang ditempuhnya jelas dan tak terbatas mengikuti kehendak Sang Pengatur.

Tak bisa ku gapai bayangan masa lalu yang bersandar dibelakangku. Lambaian tangan itu begitu menggoda untuk mengajakku kembali. Begitu riang dan bersahabat, dengan pakaian yang senada mencirikan kesamaan idealis yang dipakainya.

Begitu banyak kenangan terlintas disana, dengan baju kebesaran yang tersandang membuat sebuah kebanggaan dan semangat dalam melakukan aktifitas. Beriring bersama melantukan lagu perjuangan dalam mewujudkan keinginan yang satu.

Namun semua hanyalah kenangan masa lalu yang tergelincir seiring terbenamnya matahari, walau begitu semangat dan rasa itu masih tetap terbawa dan tertanam dalam setiap jejak langkah yang terbawakan.

Saat ini terasa berada dalam sebuah negeri asing, dengan warna yang berbeda-beda. Terlihat samar warna itu kian memudar, tergantikan beribu warna yang saling berlomba memancarkan sinar yang membias.

Coba untuk bertahan dengan sinar yang meredup, namun mampu menembus benteng terkuat di masanya.

Sampai kapan akan terus bertahan hanya untuk sebuah rasa tanggung jawab, bila tak lagi bayang-bayang itu terbawa. Hampa dan penat menggelayuti suasana hati saat tak lagi ada yang seirama dan sehati. Berjuang seorang diri mempertahankan keinginan para pendahulu yang satu persatu hilang tak menentu.

Ada waktu untuk bersama, ada masa untuk berkelana tak mungkin berhenti untuk sebuah perjalanan. Ada batas sebuah persinggahan yang dihampirinya untuk ikut memberikan nuansa yang berbeda. Walau tak akan mampu lama bertahan namun mampu memberikan senyum dan rasa bangga.

Perjalanan masih harus melalui terminal-terminal kehidupan yang antri menunggu untuk disinggahi, banyak sudah perbekalan yang terbawa melengkapi dan mengiringi sisa langkah kaki menuju arah yang dilaluinya untuk menemukan sebuah terminal baru yang layak disinggahi.

: Back To Top ::

 
Melati suci masih tampak seperti dulu (Gede-November Rain)


Ku coba mengigat lagi kapan terakhir kali menginjakkan kaki di gunung yang dulu begitu akrab, ya....begitu sangat akrab dalam menemani hari-hari yang dulu pernah menghantui kehidupanku.


Satu...dua...
kucoba meresapi kembali gairah yang mengalir dalam aliran darah ini. Terasa sentuhan dan belaian itu tetap mesra seperti dulu, menghanyutkanku pada kenangan lalu.

Juga seperti waktu itu, kumulai langkahku bersama kawan-kawan baruku, walau ada beberapa yang sudah begitu akrab J. Seperti biasa sang alam begitu cepat mengakrabkan kami dalam satu langkah pasti menuju sebuah bentuk persahabatan yang tak pernah sirna.

Tawa canda itu tak asing bagiku, seperti halnya dengan sesisi jenggala yang kerap kuhampiri. Selangkah demi selangkah jejak itu meninggalkan sebuah senyum kegembiraan yang terbawa dalam sejuta mimpi.

Satu persatu wajah-wajah itu mengisi paragrap-paragrap petualangan yang ikut memenuhi 'Sepenggal Perjalanan' ini. Banyak nuansa warna tergores menyemarakan garis-garis kehidupan yang mesti dilalui.

Seperti yang selalu kuharapkan, ada banyak buku yang harus kupahami dan kubaca untuk kembali mengingat pelajaran yang dulu sering kau berikan padaku. Untuk mengajariku dan mengenalkanku pada arti sebuah kehidupan yang hakiki. Walau mungkin banyak yang sudah terlupakan, namun masih terasa getaran-getaran nyata dalam diri.

Satu persatu kesempurnaan yang kau tampakkan membuat hati ini terpesona, seperti layaknya harum melati yang menyebarkan harus dilembah kesunyian "Surya Kencana".

Harum mewangi 'Melati Suci masih tampak seperti dulu"


*_^

diary "Hijjau" 2-4 Nov '07
-SepenggalPerjalanan-

: Back To Top ::

 
 

 HIJJAU

Hakcipta hijjau@pendakierror.com 2004