|
|
||||
Jalur Pendakian
|
|
"Tapi...inilah
petualangan, Aku melangkah ke dalam ruang ketidak-tahuan. Ku sadari sepenuhnya,
ada bahaya disekitarku. Kuakui lebih merupakan bayangan ketimbang kenyataan,
dan sebuah kecintaan atas kelengangan liar di bukit-bukit sekitarku" ( Chris Benington ) |
||
Mendaki Gunung ada benarnya dikatakan menyerempet bahaya. Mencari jawaban dari sebuah ketidak-pastian dan ketidak-tahuan. |
|||
|
|||
| Beberapa jalur gunung-gunung di Indonesia : |
|||
Sumatera |
||
![]() |
Leuseur (kosong) | |
![]() |
Sibayak (kosong) | |
![]() |
Kerinci | 3800 mdpl |
![]() |
Merapi (kosong) | |
![]() |
Singgalang (kosong) | |
![]() |
Dempo (kosong) | |
![]() |
||
![]() |
||
Jawa |
||
![]() |
G. Karang | 1778 mdpl |
![]() |
Salak | 2211 mdpl |
![]() |
Gede-Pangrago | 2958 mdpl & 3019 mdpl |
![]() |
Ceremai | 3078 mdpl |
![]() |
Slamet | 3418 mdpl |
![]() |
Sindoro-Sumbing | 3136 mdpl & 3371 mdpl |
![]() |
Merapi | 2914 mdpl |
![]() |
Merbabu | 3142 mdpl |
![]() |
Lawu | 3265 mdpl |
![]() |
Semeru & Bromo | 3676 mdpl & 2203 mdpl |
![]() |
Argopuro | 3088 mdpl |
![]() |
Arjuno & Welirang | 3339 mdpl & 3156 mdpl |
![]() |
Raung | 3332 mdpl |
Bali |
||
![]() |
Batur (kosong) | |
![]() |
Agung | 3142 mdpl |
NTB-Sumbawa |
||
![]() |
Rinjani (kosong) | 3728 mdpl |
![]() |
Tambora (kosong) | 2851 mdpl |
![]() |
||
Sulawesi |
||
![]() |
Latimojong | |
![]() |
Bawakaraeng (kosong) | |
![]() |
Nokilalaki | 2355 mdpl |
Maluku |
||
![]() |
Gamalama | 1715 mdpl |
Papua |
||
![]() |
Cartenz (kosong) | |
![]() |
||
|
|
Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. JALUR CANGKUANG CIDAHU Jakarta naik bus jurusan
Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi turun di Cicurug.
Dari Cicurug naik angkot jurusan Cidahu. Dari Bumi perkemahan - Shelter I = 1 jam Shelter I - Shelter II = 1 jam Shelter II - Shelter III = 1 jam Shelter III - Shelter IV = 1 jam Shelter IV - Shelter V = 1 jam Shelter V - Shelter VI = 1 jam Shelter VI - Shelter VII = 1 jam Shelter VII - Puncak = 30 menit * MENUJU KAWAH RATU Dari Shelter IV masih diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Kawah Ratu. Kawah ini terdiri 3 kawah, Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang. JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG ) P puncak Gunung Salak dapat melalui Jalur Giri Jaya dengan waktu tempuh sekitar 5 - 8 jam perjalanan. Jalur ini tepatnya berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug dengan ongkos sekitar Rp. 7.500,- Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan. Tidak ada kendaraan umum yang menuju Giri Jaya sehingga tempat ini tidak begitu dikenal. * Cicurug (Jakarta -Sukabumi) * Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu * Pertapaan Eyang Santri * Perkebunan Damar * Hutan Tropis * Makam Pangeran Santri * Shelter VII * Puncak Gn. Salak 1 JALUR GIRI JAYA ( CISAAT - CICURUG ) Jakarta - Sukabumi turun di Cicurug, kemudian disambung dengan menggunakan mobil angkot ke Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. yang hanya ada di pagi hari. Dapat juga di tempuh dengan menggunakan kendaraan ojeg yang ongkosnya berkisar Rp.10.000,- bila ingin berjalan kaki dapat memakan waktu sekitar 3,5 jam. * Cicurug (Jakarta -Sukabumi) * Cicurug - Cisaat * Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu * Gapura pintu masuk Gn. Salak * Kebun dan Persawahan * Hutan tropis * Makam Pangeran Santri * Shelter VII * Puncak Salak I SUMBER : merbabu.com :: Back To Top :: |
|
Jalur Cibodas Dari arah Jawa/Bandung naik Bis jurusan
Jakarta atau Bogor yg lewat puncak Pos Penjagaan – Telaga Biru = 20 menit Dari kandang badak ada 2 puncak yg bisa
dituju Puncak Gede – Alun-alun Suryakencana =
30 menit NB = Air sepanjang Jalur Cibodas sangat berlimpah. Terakhir dpt ditemui di Kandang Badak. Jalur Putri Dari arah Jawa/Bandung naik Bis jurusan
Jakarta atau Bogor yg lewat puncak Pos Penjagaan – Buntut Lutung = 1 jam NB = Air tidak sebanyak jalur Cibodas, hanya bisa ditemui dibawah, dan di Alun-alun Suryakencana. Catatan :
|
| :: Back To Top :: |
|
Gunung Ceremai memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Pulau jawa, gunung ini terletak berjauhan dari gunung-gunung tinggi lainnya dan dekat dengan Laut Jawa. Jalur Linggar Jati Dari terminal Cirebon, naik bus menuju Kuningan turun di Cilimus. Dari Cilimus kita ganti kendaraan ojek atau colt ke desa Linggarjati. Jika ingin mendaki G. Ceremai sebelumnya harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari petugas jaga disana. Linggar Jati – Batu Lingga = 6 – 7 jam NB : Air hanya ada di Cibunar (base camp dibawah) Jalur Apuy
Apuy - Pos I = 1 jam
|
| Slamet Gunung Slamet merupakan gunugn nomor dua tertinggi di P. Jawa. Untuk menuju puncak G. Slamet ada 3 jalur; lewat sebelah barat, lewat Batu Raden dan lewat Bambangan, dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat jalur Bambangan. Jalur Bambangan Purwokerto ke arah Purbalingga dan dilanjutkan
ke Bobotsari. Berjalan ke arah kanan, kita akan melewati kebun sayur dan hutan pinus, bila naik terus akan masuk ke dalam hutan tropika yang indah. Sebelum sampai di Samalantu, pada ketinggian 2.900 m, ada sebuah bangku untuk beristirahat dan juga terdapat sebuah pondok yang rusak, pada umumnya para pendaki beristirahat dan bermalam disini. Bila naik terus 1-2 jam lagi, kita akan sampai si Sampiyan Jampang, inilah batas antara antara hutan terakhir dan dari sini pula kita dapat melihat matahari terbit. Dari Sampiyan Jampang perjalanan menuju puncak ditempuh dalam waktu 1-2 jam dengan melalui batu-batu lahar yang cukup sukar. Setelah kita tiba di puncak, akan terlihat hamparan padang lahar yang sungguh luas dan menakjubkan, kita juga dapat menyaksikan pemandangan yang eksotis ke arah kawah yang masih aktif. Ledakan besar pada kawah ini terjadi pada tanggal 13 Juli 1988. Pendakian dari Bambangan ke Samarantu memerlukan wktu 6 jam, dari Samarantu menuju puncak G.Slamet sekitar 2-3 jam lagi, dan untuk turunya diperlukan waktu 4-5 jam. |
| :: Back To Top :: |
|
Menuju puncak G. SindoroDari
Magelang - Wonosobo dan turun di jalan raya tertinggi di desa Kledung.
Perjalanan ke puncak dimulai melalui kebun sayur, hutan pinus dan terus naik. Mendekati puncak, kita mengambil jalan memutar dari kiri ke kanan ke arah puncak. Dari desa Kledung menuju ke puncak memakan waktu 8 jam dan turunnya kita membutuhkan waktu 5 jam. Untuk menuju puncak G. Sumbing, kita turun dari bus di gapura desa Garung dimana jalan mulai menurun ke Kota Wonosobo. Perjalanan melalui kebun sayur dan jalan menanjak seperti dalam saluran air. Kita kemudian melewai kebun akasia dan menjumpai padang rumput, dari sini kita dapat melihat puncak G. Sumbing. Perjalanan sampai ke punggung gunung, makin lama makin curam dan disini terdapat batu besar tempat berlindung dari hembusan angin yang keras. Dari tempat ini menuju ke puncak masih dibutuhkan waktu 1-2 jam lagi. Puncak G. Sumbing berbentuk kaldera kecil yang bergaris tengah 800 m dengan kedalaman 50-100 m, dan beberapa puncak yang runcing. Untuk menuju puncak tertinggi harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi. Di kaldera G. Sumbing banyak kawah kecil dimana asap belerang keluar, yang merupakan pemandangan yang menarik. Daru desa Butuh untuk menuju
puncak memakan waktu 8 jam perjalanan sedangkan turunnya memakan waktu
5 jam. Air harus sudah dipersiapkan secukupnya di desa garung, untuk perjalanan
menuju puncak dan kembalinya, karena dalam perjalanan tidak ada mata air
lagi. |
| :: Back To Top :: |
|
Gunung Merbabu dan G. lawu keduanya amat serupa. Kedua gunung itu tidak mempunyai kawah yang aktif karena tergolong gunung api tua, dan berbentuk dataran tinggi yang lebar dan terpisak puncak-puncaknya oleh erosi dan hampir kehilangan hutan alamnya. Dari Selatan, di desa Selo kita bias menuju ke G. Merapi maupun G. Merbabu. Jalur yang lainnya yaitu arah utara; Kopeng, yang hanya menuju G. Merbabu. Jogjakarta - Magelang –
Salatiga – Kopeng. Perjalanan akan melalui kebun sayur dan kebun akasia, naik terus sampai ke punggung gunung dan kita akan jumpai sebuah pondok yang telah rusak yang berada di ketinggian 2.4000 m dpl. Dari sini menuju puncak melalui lagi punggungan gunung dan dimana dapat terlihat pemandangan yang sangat indah dengan leluasa tanpa terhalang pepohonan. Di puncak yang pertama terdapat sebuah pondok untuk mengukur cuaca yang berada pada ketinggian 2.800 mdpl. Dari sini kita akan menuju puncak tertinggi yang sudah terlihat jelas didepan kita dengan membutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan. Ditengah perjalanan ini kita akan menemui bekas kawah dan punggung gunung terjal dan curam. Total perjalanan dari Kopeng menuju puncak memakan waktu 8 jam dan turunya membutuhkan waktu 5 jam. Apabila kita ingin mengadakan
pendakian yang praktis atau pendakian marathon Merapi-Merbabu, kita bias
mulai mendaki dari desa Selo Kabupaten Boyolali, Akan tetapi mendaki G.
Merbabu dari desa Selo cukup terjal dan melelahkan. Lagi pula kita harus
mendaki sebuah gunung lagi yang tingginya hampir sama dengan puncak G.
Merbabu. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Total perjalanan ke
puncak Merbabu 6-7 jam, dan turunnya 5 jam. |
| :: Back To Top :: |
|
Biasanya para pendaki berangkat
dari Selo sekitar pukul 2 atau 3 pagi yang memakan waktu selama 4-5 jam
perjalanan. Di Selo, persediaan air harus dicukupi, karena dalam perjalanan
menuju puncak sudah tidak ada mata air. Jalan setapak dari Selo terus
menanjak dan akan ditemui Hutan Pinus, setelah perjalanan 2–3 jam kita
akan sampai diperbatasan hutan dan daerah berpasir. Dari sini kita berjalan
langsung ke Puncak garuda selama 1-2 jam. Turun dari Puncak Garuda sampai
desa Selo memakan waktu 3-4 jam. Jalur Selatan (Kaliurang / Bebeng) Jakarta - Jogja Labuhan dalem ini merupakan
semacam tempat berdoa. Atau tempat mengadakan upacara2 Jawa, yang menghubungkan
Kesultanan Yogyakarta dan Penguasa Gunung Merapi. Minggu ini katanya ada
upacara labuhan di sini.. Sayang gak sempet menyaksikan. Kendit ini merupakan batas vegetasi. NB : Jalur Selatan ini sangat sulit dan berbahaya, diperlukan perlatan memanjat untuk bisa ke atas. Jalurnya lebih banyak yg blank, tak ada jalur resmi jadi harus mencari sendiri. |
| :: Back To Top :: |
|
Gunung Lawu terletak dekat dengan kota dan jalan raya, karenanya lebih mudah dicapai, sehingga banyak sekali pendaki naik ke puncak G. lawu. Surabaya – Madiun - Sarangan
terus ke Cemorosewu. Di Cemorosewu kita harus melaporkan diri ke PERHUTANI serta melengkapi perbekalan pendakian. Dalan pendakian dari Cemorosewu menuju puncak, kita akan menjumpai 4 buah pondok pada ketinggian berturut-turut, yaitu 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m, dan 2.800 m dan Pesanggrahan Argo Dalem pada ketinggian 3.100 mdpl. Puncak G. Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit, serta masih banyak dijumpai sisa-sisa kawah yang telah lama tidak aktif. Dari puncaknya kita bias menyaksikan panorama yang sangat menawan juga lembah Tawangmangu dan sarangan dengan danaunya yang indah. Dari Cemorosewu sampai ke puncak memakan waktu 7-8 jm, sedangkan turunya membutuhkan waktu 4 ajm. Mata air dapat kita jumpai sebelum pertigaan pesanggrahan Argo Dalem, 1-2 jam perjalanan dari pondok terakhir. |
| :: Back To Top :: |
Puncak G. Arjuna dan G. Welirang terletak pada satu gunung yang sama. G. Arjuna dapat didaki dari berbagai arah; arah Utara (Tretes) melalui G. welirang, dari arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta). Surabaya - Malang, turun di Pandaan - Tretes. Dari Pos PHPA Tretes kita dapat langsung mendaki G. Welirang atau berbelok kekiri langsung ke arag G. Arjuna. Perjalanan dari pondok sampai ke puncak G. Welirang, akan melewati hutan Cemara yang jalannya berbatu. Setelah berjalan 3-4 jam kita akan sampai di puncak G. Welirang. Di bawah puncak G. Welirang ada sebuah kawah yang menyemburkan gas belerang. Perjalanan dari Tretes sampai ke puncak G. Welirang memakan waktu 7-8 jam. Bila kita akan melanjutkan
perjalanan menuju G. Arjuna maka setelah kita sampai di puncak G. Welirang
kita berjalan turun sekitar 10 menit tepatnya kearah selatan. Hutan
yang dilalui adalah hutan cemara dengan melewati satu jurang dan pinggiran
G. Kembar I dan G. Kembar II setelah berjalan 6-7 jam kita akan sampai
di puncak G. Arjuna. Tetapi sebelumnya kita akan melewati tempat yang
dinamakan “Pasar Dieng”, ketinggiannya hampir sama dengan puncak G.
Arjuna dan terdapat batu-batu yang sebagian tersusun rapi seperti pagar
dan tanahnya rata agak luas. Dari sini untuk ke Puncak G. Arjuna hanya
memakan waktu 10 menit. Untk mencapai G. Arjuno dari G. Welirang dibutukan
waktu 5-6 jam. Puncak G. Arjuna disebut dengan “puncak Ogal-Agil” atau
“Puncak Ringgil”. Jalur Lawang Dari desa Wonosari terus berjalan dan melewati kebun the Wonosari serta terus naik selama 3-4 jam perjalanan kita akan sampai di “Oro-oro Ombo” yang merupakan tempat berkemah. Dari “oro-oro Ombo” menuju puncak dibutuhkan 6-7 jam perjalanan dengan melewati hutan lebat yang disebut hutan “Lali Jiwo”. Untuk menuju puncak terakhir ini, setelah kita melewati Hutan Lali Jiwo, kita akan melalui padang rumput yang jalannya menanjak (curam) sekali. Mendekati puncak, kita akan berjalan melewati batu-batu yang sangat banyak dan menyerupai taman yang sangat indah setelah itu kita akan mencapai puncak G. Arjuna. Rute pendakian lainnya yaitu dari kota Batu lewat Selecta yang terletak di sebelah barat G. Welirang. Dari Kediri / Malang - Batu – Selecta - desa Kebonsari. Di desa ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Mendaki selama 5-6 jam akan mengantarkan kita pada punggungan gunung yang menghubungkan puncak G. Welirang dan G. Arhuno, tepatnya sebelah tenggara G. Kembar I. Kita masih harus menempuh perjalanan 1-2 jam lagi untuk menuju puncak G. Welirang ke arah kiri atau G. Arjuno ke arah kanan selama 4-5 jam . |
| :: Back To Top :: |
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru termasuk dalam 4 wilayah Kabupaten, yaitu; Kab. Probolinggo, Kab. Pasuruan, dan Kab. Malang dan Kab. Lumajang. Kawasan ini banyak dikenal oleh wisatawan asing maupun domestik, terutama kawasan Bromo. Untuk menuju G. Bromo dari arah Pasuruan. Dari Surabaya - Probolinggo turun di Pasuruan - Tosari-Wonokitri. Disini kita meneruskan perjalanan menuju G. Penanjakan, atau masuk ke lautan Pasir dan menuju puncak G. Bromo. G. Pananjakan mrupakan titik pandang terbaik ke arah kawasan G. Bromo, dimana Kawah Bromo nampak sebagai suatu panorama yang amat eksotik, dengan kepulan asap dan warna-warni punggungan bukit bekas lelehan lava belerang disekitarnya dan hamparan padang pasir mengelilinginya. Disini pemandangan matahari terhimpun nampak lebih indah dengan puncak G. Semeru sebagai latanya. Bila dari arah Probolinggo - Sukapura terus ke Ngadisari. Dari Ngadisari - Cemoro Lawang 3 Km. Suhu kawasan Bromo antara 5-14 derajat selsius. Dari padang pasir Bromo kita dapat naik ke G. batok, G. Kursi, maupun Gunung Pananjakan. Di kawasan H. Bromo ini banyak dijumpai panorama yang sangat menkjubkan. Malang - Tumpang, kemudian menuju desa Ranupane (2.200 m) dengan melewati desa Gubug Klakah (1.100 m) dan Ngadas (2.000 m) dengan truk atau Jeep. Ranupane menuju Ranu
Kumbolo 2.400 m dpl berjarak 13 Km memakan waktu 3-4 jam. Dari puncak turun kembali ke Kalimati membutuhkan waktu1-2 jam, dan 2-3 jam untuk sampai di Ranu Kumbolo. Dari Ranu Kumbolo menuju Ranu Pane dibutuhkan waktu 3 jam. Turun dari Ranupane kearah Tumpang kita dapat juga menuju kawasan G. Bomo, melalui pertigaan Jemplang (2 Km. Sebelum desa Ngadas) ke arah kanan. |
|
Gunung Argopuro memiliki banyak puncak, beberapa puncaknya mempunyai struktur geologi tua dan sebagian lainnya lebih muda. Puncak Argopuro berada pada ketinggian 3.088 m dpl. Jalur Baderan atau lewat desa Bremi, Kab. Probolinggo. Tetapi dianjurkan lewat desa Bremi saja, karena lebih cepat. Dari terminal Bis Probolinggo - Bremi, jam 6.00 pagi dan jam 12.00 siang. Sebelum mendaki kita melapor pada polisi atau petugas PHPA setempat untuk meminta ijin pendakian. Setelah berjalan 3 jam sampai di Danau Taman Hidup. Lalu meneruskan pendakian ke puncak dengan mengitari separuh danau ke kiri, dengan menempuh perjalanan 6 jam. Puncak Argopuro disebut “Puncak Dewi Rengganis”, karena disana terdapat patung Dewi Rengganis. Puncak Dewi Rengganis ini, merupakan bekas kawah belerang. Turun dari puncak Argopuro, kita dapat memilih turun dengan mengintari gunung lewat Alun-alun Besar, kemudian menuju Besuki lewat Baderan. Alternatif lainnya yakni kembali lewat jalan semula yaitu Bremi. Alun-alun Besar adalah
hamparan padang rumput yang luas, dan pernah direncanakan sebagai landasan
pesawat terbang militer pada saat Tentara pendudukan Jepang. Hutan dikawasan G. Argopuro merupakan hutan yang masih asli. Binatang-binatang liar masih banyak dijumpai di daerah ini, seperti kijang, monyet, babi hutan, burung merak, ular, dan lainnya. |
|
Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari gunung pada umunya di Pulau Jawa. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang sekitar 500 meter dalamnya, selalu berasap dan sering menyemburkan api. G. Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan. Dari Bondowoso - desa Sumber Wringin Perjalanan diawali dari desa Sumber Wringin melalui kebun pinus dan perkebunan kopi, menuju Pondok Motor atau Pos pendaki dimana dapat menjumpai seorang juru kunci yang bernama P. Serani. Di Pondok Motor kita dapat melanjutkan perjalanan ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Dari Pondok Motor ke G. Raung, kita akan melewati perkebunan kopi, hutan pinus, hutan cemara, terus sampai di dataran tempat dimana kita dapat berkemah. Perjalanan dilanjutkan melalui padang alang-alang (sekitar 1 jam perjalanan), selanjutnya menuju puncak G. Raung yang sedikit berpasir dan berbatu-batu. Dari tempat berkemah menuju puncak G. Raung, hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam saja. Sedangkan perjalanan turun, memakan waktu sekitar 7 jam. Dalam perjalanan ke puncak G. Raung, tidak ada sumber air. Sebaiknya untuk air dipersiapkan di Sumber Wringin atau Sumber Lekan. Untuk mendaki G. Raung tidak diperlukan ijin khusus, hanya saja kita perlu melaporkan diri ke aparat desa di Sumber Wringin. |
Gunung Kerinci adalah gunung kedua tertinggi di Indonesia setelah Puncak Jaya Wijaya. Banyak cerita / legenda yang cukup menarik di sekitar Taman Nasional Kerinci-Seblat. Selain itu juga gunung ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, dimana kita juga dapat melihat Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara.
Pencapain ke lokasi : Dari Jakarta / P Jawa
- Jambi / Padang --> turun di Terminal Bangko
Pintu Rimba - Pos I Setiap pos bisa dicapai antara 1,5 - 2,5 jam perjalanan. |
Gunung Agung yang berada di Pulau Dewata ini sangatlah sakral buat masyarakat Bali, dimana banyak dijadikan tempat untuk ritual keagamaan mereka, dikaki Gunung Agung terdapat Candi Terbesar di Bali, yaitu Candi Besakih. Bila kita mendaki kegunung itu dipinggiran hutanya masih terdapat kuil kecil tempat persembahan penguasa Gunung Agung.
Versi petualang (irit and murah meriah ) Jakarta - Gubeng (Surabaya)
---> kereta ekonomi / bisnis Jakarta - Bali (Terminal
Ubung)
|
|
Pencapaian Lokasi Pendakian pertama dimulai dari G.Gamalama, gunung ini sudah beberapa kali meletus, terakhir tgl 1 Agustus 2003 yang lalu. Untuk mencapainya kita harus menuju P.Ternate terlebih dahulu. Ada 2 pilihan untuk menuju Ternate yaitu dengan pesawat udara atau dengan kapal laut. Untuk pesawat udara biasanya trayek yang dilalui adalah makassar-ternate atau menado-ternate. Saat melakukan pendakian penulis terpaksa harus melalui jalur laut dari manado ke ternate karena bandara Sultan Baabulah tertutup abu letusan setebal 10 cm. Untuk melakukan pendakian
ke G.Gamalama (1715 m dpl), kita harus menuju desa Moya (200 m dpl). Ada
cukup banyak angkutan yang menuju desa tsb dari dari terminal/pasar Gamalama,
perjalanan menuju Moya memerlukan waktu 30 menit dengan tarif per orang
Rp.1200. Sebenarnya ada beberapa jalur lain menuju puncak yaitu via malikurubu
,akehuda, dll, tapi berdasarkan informasi yang didapat Moya merupakan
jalur termudah walaupun sedikit lama.
|
| Pegunungan Latimojong terletak di tengah-tengah
Propinsi Sulawesi Selatan diapit 4 Kabupaten yaitu Tana Toraja di Utara,
Luwu di Timur, Sidrap di Selatan dan Enrekang di Barat, memiliki 8 puncak
(Buttu/Buntu) yang memanjang dari Selatan ke Utara mulai dari Buttu/Buntu
Latimojong, Nenemori, Rantemario, Rante Kambola, Pokahpinjan, Sikolong,
Lapande dan Sinaji ketinggiannya bervariasi 2900 - 3400 mdpl, tertinggi
adalah Rantemario yang juga merupakan titik tertinggi di Pulau Sulawei. Jalur pendakian yang ada, biasanya selama ini ke Rantemario. Dari Makassar naik Bus/Panter ke Enrekang, trus ke Pasar Baraka, dari sana naik Hardtop ke Buntu Dea. dari Buntu Dea jalan kaki sekitar 2 jam ke Desa Rantelemo, bisa nginap disana atau lanjut ke Dusun terakhir sebelum pendakian yaitu Dusun Karangan. Pendakian memakan waktu 3 hari sampai ke
puncak, bisaji 2 hari kalo ngebut, turunnya 1-2 hari. Sumber : He-man SAR Unhas |
Hakcipta hijjau@pendakierror.com 2004