|
|
|||||||||||||||||||
Sepenggal
Kisah Perjalanan |
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
Sejak saat itu hari-hari ku penuh dengan petualangan dan pencarian jati diri. Apa yang kucari selama ini? Saat itu yang ada dibenak-ku adalah bagaimana aku bisa lepas dari hiruk-pikuk di kampus, lepas dari masalah dirumah ataupun masalah dengan teman-teman dekatku. Aku ingin bebas menikmati ketenangan dan kedamaian jauh diatas sana, sembunyi di balik pohon-pohon, semak belukar dan hitamnya malam yang bisa membuatku terlena. |
|||||||||||||||||||
| Berikut
beberapa kisah perjalanan yang sempat tertulis dibuku harian : |
|||||||||||||||||||
| Serial Lone Ranger | |||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
|
Smilling Gede 3078 Mdpl 22-23 Mei '93 Pendakian ke puncak Gunung Gede yang dimotori oleh MAPA (Mahasiswa
Pecinta Alam) GUNADARMA, merupakan pendakian resmi pertamaku yang melelahkan.
Gunung Gede pula yang merupakan gunung pertama yang Aku daki. Pendakian
ini Aku jadikan sebagai pelajaran pertama serta pembangkit semangat untuk
memantapkan diri dan sebagai motivasi yang positif untuk melakukan petualangan
sendiri. Di sini Aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berarti
dan pengalaman yang menarik serta membanggakan. Pendakian ini diikuti
sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari anak-anak tingkat I, II, maupun
anak-anak yang lebih senior. Acara ini sebagai ajang perkenalan bagi mahasiswa-mahasiswa
baru dengan MAPA GUNADARMA. Aku salah satu mahasiswa baru yang yang tertarik untuk ikut
acara tersebut. Maka Aku pun mengajak dua orang teman sekelasku (Doni
dan Ami). Kami pun mendaftarkan diri ke sekretariat MAPA GUNADARMA. Di
sana Aku bertemu dengan Endit (teman satu SMA) dan Ira. Sore itu tanggal 22 Mei 1993 jam 17.00, tampak dua buah truk
TNI beriringan dari kampus GUNADARMA Pondok Cina menuju Cibodas (Cianjur).
Kedua truk melaju dengan cepat menelusuri jalan raya puncak yang menyuguhkan
pemandangan yang indah. Malam itu jam 21.00, para peserta Smilling Gede tampak bergerak
menuju Pos Penjagaan untuk melapor. Satu jam berikutnya pendakian Gunung
Gede dimulai. Aku mendapat regu 11, sedang Ami, Doni, Endit dan Ira bergabung
dengan regu 9. Semua mendaki dengan santai sambil bersenda gurau, membuat
pendakian ini begitu menyenangkan. Setiap 1-2 jam perjalanan kami selingi
dengan istirahat. Selama perjalanan banyak ditemui pos/selter yang sengaja
didirikan untuk tempat beristirahat para pendaki. Pos-pos itu diberi nama
yang unik. Ada 'Kandang Badak' ada 'Pemandangan', ada 'Kandang Batu' dll.
Selama pendakian Aku bergabung dengan regu Endit. Ketika sampai di Kandang
Badak, sebagian pendaki beristirahat untuk tidur atau masak, tetapi ada
juga yang terus mendaki. Di sini Aku terpisah dengan regu Endit, Aku mencari
kemana-mana tapi tak ku temui mereka. Hari hampir menjelang pagi, akhirnya stelah sekian lama berjalan
aku bertemu dengan regu lain yang berada di depanku. Aku mengucapkan syukur
pada Allah SWT karena telah mempertemukan dengan regu lain. Aku merasa
lega, dan ternyata Puncak Gunung Gede semakin dekat. Track atau jalur
terakhir yang harus kulalui adalah jalur yang paling menanjak. Track ini
dinamakan 'Tanjakan Setan' atau 'Tanjakan Rante' dengan kemiringan hampir
90 derajat. Dengan sisa-sisa tenaga aku kuatkan untuk terus mandaki. Sampai
akhirnya...."Alhamdulillah...!!!", teriakku tak kala
kugapai Puncak Gunung Gede. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 pagi.
Aku begitu terpesona melihat pemandangan yang ada disekelilingku. Ternyata
saat itu Sunrise di Gunung Gede sedang berlangsung. Warna awan yang keemasan
menyelimuti seluruh permukaan puncak Gunung Gede. Suatu pemandangan yang
menakjubkan yang belum pernah Aku lihat sebelumnya. Aku bagaikan berada
di Negeri Awan yang hanya ada di dongeng-dongeng klasik. Ingin Aku mengabadikan
kejadian yang mempesona itu, namun Aku lupa kalau kamera dibawa oleh Endit. Sekitar jam 7.00 barulah regu Endit sampai di puncak. Kami pun berphoto bersama. Lalu aku bertanya kepada mereka mengapa mereka terlambat sampai di puncak...? |
|||||||||||||||||||
| :: Back To Top :: |
|
Kedalaman
hati merengkuh dunia, tiada berbekas dan berharap. diary ‘hijjau’… “Uhhh…akhirnya aku kembali berada dibelantara lebatnya hutan seorang diri, terasa kesunyian dan kedamaian dirasakan”. Yaa, setelah lebih dari lima tahun aku tak lagi melakukan pendakian solo mengunjungi gunung-gunung yang menjadi sahabat terbaik-ku. Begitu ku menikmati saat-saat kesendirian seperti ini, banyak hal yg bisa aku renungi, seperti memutar kembali kisah kehidupan yg lalu. Kadang tersimpul senyum mengingat kembali kisah-kisah ku dulu. Hmm…saat itu pendakian benar-benar sepi, hanya aku sendiri. Pendakian kumulai pada tgl 22 Jan 2004 pukul 12:00 setelah melaporkan diri pada petugas jaga Gn. Ceremai jalur Apuy, Bapak Suljo yang dikenal juga sebagai kuncennya. diary ‘hijjau’… Pos I yang berjarak tempuh 1 jam perjalanan dapat kutemui dipinggiran hutan Gn. Ceremai, di tengah ladang penduduk. Setelah itu mulailah memasuki hutan, pohon-pohon yang tinggi, semak-semak yang rapat, udara yg lembab/basah menjadi ciri khas hutan tropis. Dinginya udara, kicauan burung , bisikan angin, serta belaian kabut membuai mahluk yang berada disekelilingnya. Ditengah perjalanan menuju Pos II kutemui aliran sungai kecil yg jernih untuk mengisi persediaan air. Satu jam sudah perjalanan ini, akhirnya Pos II-Perempatan Lima pun aku capai. diary ‘hijjau’… Suasana siang itu masih terasa sepi sekali tak ada pendaki lain yang terlihat. Ketenangan dan kedamaian tampak terasa, obat yang tak akan mampu diracik tangan manusia yang menjadi penyembuh segala macam penyakit didunia ini J. Pendakian ini terasa lama, tak ada gelak tawa dan canda yang terdengar. Hanya desahan nafas yang memburu seirama ritme pendakian, sesekali keluar kata-kata yang menyanjung Sang Penguasa Alam Semesta. Hanya 10 menit aku beristirahat di pos ini. Hari ini cuaca cukup bersahabat, udara yg lembab, sesekali sinar matahari ikut membagi keceriaanya menembus atap-atap rimba. Tak ketinggalan kabut pun berlomba-lomba memenuhi seisi hutan ini, menambah suasana semakin mengasyikan (serem maksudnya!!!J). Lalu setelah itu cuaca menjadi mendung dan suara geledek terus mengikuti setiap langkah kaki ini. diary ‘hijjau’… Satu jam sudah Pos II terlewati, tampak lah Pos III-Tegal Mawasa 2400 Mdpl didepan mata. Saat itu menunjukkan pukul 15:20, tak lama aku beristirahat disana, lalu aku bangkit dan mendaki lagi. Hari semakin senja keadaan dihutan semakin gelap. Aku berpikir mencoba menganalisa situasi dan keadaan dilapangan. Tadinya aku akan memdirkan tanda di Pos V, namun karena keadaan yg tidak memungkinkan, aku harus camp di Pos IV saja. Pendakian semakin ku percepat untuk segera sampai disana. Setelah lima puluh menit, akhirnya sampai juga di Pos IV, saat itu jam menunjukkan pukul 16:10. diary ‘hijjau’… Disana tertulis Pos IV-Tegal Jamuju (2.600 Mdpl), aku pun tak buang-buang waktu lagi. Segera ku bongkar carrier dan mengeluarkan tenda yang cukup utk 3 orang. Sekitar 15 menit, tenda pun telah berdiri. Bersamaan dengan itu hujan pun mulai membasahi lantai-lantai hutan. “Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang”. Setelah semua peralatan masuk tenda, aku pun mulai memasak nasi. Perut yg belum diisi semenjak pagi mulai berontak. Aku hanya membawa perbekalan seadanya, 4 potong roti dan 1/5 liter beras saja. Menjelang maghrib mencoba utk beristirahat sejenak, lalu jam 20:00 aku terbangun. Keadaan tenda yg gelap gulita karena sengaja aku tak menyalakan lilin. Lalu shalat dan membereskan peralatan kemudian melanjutkan istirahat. Tak ada aktifitas yg berarti, suasana Diluar begitu mencekam. Bunyi air hujan, suara-suara binatang malam, deru nafas angin, gesekan dedaunan bersatu menyanyikan lagu Sang Alam. diary ‘hijjau’ Pagi-pagi menghangatkan nasi sisa semalam, lalu sarapan pagi. Lalu diteruskan dgn packing peralatan ke dalam carrier. Jam 8:20 aku lanjutkan pendakian yg tertunda menuju puncak. Jalur yg dilalui semakin menanjak dan lumayan terjal dengan keadaan medan yang licin akibat seringnya hujan. Pos V-Sanghiang Rangkah (2800 Mdpl). Aku coba beristirahat sejenak sambil meluruskan kaki dan melonggarkan beban yg ada di pundak, saat itu pukul 9:05. Sambil menikmati roti yang tersisa, tampak MOMON (begitu panggilan mesra-ku utk mahluk cantik yg katanya adalah nenek moyang kita J) berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Begitu ceria dan jenaka, seolah tak ada beban kehidupan. Kabut dengan setia terus menemani, ditengah perjalanan aku bertemu dgn rombongan pendaki dari Jakarta, akhirnya bertemu juga dengan sesama J. diary ‘hijjau’… Aku putuskan untuk meninggalkan semua beban yang kubawa di tepi jalur pendakian, dengan pertimbangan cuaca yg semakin memburuk sehingga aku harus segera sampai di puncak. Tanpa beban aku semakin leluasa bergerak dan semakin cepat pendakian ini. Tak lama kemudian sampailah di Gua Walet 2950 Mdpl. Tampak disisi kanan terlihat Gua yang cukup nyaman utk camp atau berteduh. Namun aku tak langsung turun utk melihat gua itu, “mungkin setelah turun dari puncak saja”’ pikirku. diary ‘hijjau’… Kabut semakin menjadi-jadi, Jarak pandangan hanya berkisar 10 m saja. Aku cukup merasa khawatir juga dengan keadaan cuaca yg mulai tak bersahabat ini. Pendakian semakin ku percepat, dgn berlari-lari kecil diantara batu-batu karang ku terus mendaki. “ALHAMDULILLAH :)!!!", puncak Ceremai tergapai sudah. Untuk kedua kalinya tanah tertinggi di Jawa Barat ini aku kunjungi lagi, saat itu tepat pukul 10:45. Pohon Cantigi yg belum berbuah, pohon Edelweiss yang masih segar. Tampak pula kawah yg berwarna hijau kebiruan terisi air hujan. Puncak yg sepi, begitu kuat kebisuan tercipta disana, hanya kepakan sayap-sayap burung diatas sana. diary ‘hijjau’… Semua beban terlepas sudah. Alam telah memberiku penawar racun dunia, semoga ini tak hanya sementara. Lima belas menit aku berada dipuncak, suara gemuruh kilat menggelegar, tanda akan segera turun hujan. Segera aku turun sambil berlari-lari, tak berapa lama hujan pun turun. Cepat-cepat aku menuju gua untuk berteduh, baru saja aku memasuki gua, hujan menjadi reda. “Wah, sepertinya Gua ini hanya ingin aku menjenguknya walaupun sesaat”, bathin ku berkata. Kuliat-lihat sebentar kadaan di sekitar gua tak lama kemudian kulanjutkan perjalanan. Sambil terus berlari ku turuni batu-batu, tak lama berselang hujan kembali turun, saat itu telah sampai ditempat aku menaruh barang-barangku. Lalu kuambil ponco dan melanjutkan perjalanan. Deras-nya hujan tak membuat surut langkahku untuk segera sampai dibawah. diary ‘hijjau’… Akhirnya sampai juga di pos I setelah bergelut selama hampir 3 jam. “Wuuiiihhhh, cepat juga perjalanan turun ini, hanya ditemput dalam waktu tiga jam”, senyum ku dalam hati. Sepertinya hujan terus saja mengikuti ku, selangkah demi selangkah sepertinya lama sekali. Hujan yg semakin deras dan fisik yang semakin menurun memperlambat jalan-ku. Lalu aku melihat rumah-rumahan di tepi ladang, tampak asap mengepul dari perapian didalamnya. Tak ku sia-siakan untuk mampir dan berteduh disana. “Kebetulan sekali”, pikirku. Aku mendatanginya dan mengucapkan salam, Pintu dibuka, sambil berbasa-basi dgn logat sundaku yang halus dan mereka mempersilahkan masuk. Tampak sepasang petani yg ternyata juga sedang berteduh. Disana aku bisa menikmati ubi dari pohon disekeliling gubuk itu. “hhhmmmm…enak sekali rasanya, hujan-hujan seperti ini menikmati ubi bakar yang manis”. |
| Merapi Selatan 1-2 Jan 2004 Setiap kali melihat Merapi, seperti ada daya magis terpancar dari gunung itu. Terbesit perasaan yang sulit dilukiskan saat itu. Seolah tak percaya dgn pemandangan yg ada didepan mata. Saat itu 2 tahun yg lalu, pertama kalinya menginjakan kaki di bawah Merapi (Jalur Selo / Utara) yg begitu tegar menantang sang awan. Timbul keraguan, apakah mungkin dia dapat didaki menggapai puncak Garuda? Bila melihat dari kejauhan, sepertinya mustahil mendaki kesana, dgn kontur dan bebatuan yg terlihat sangat labil serta kemiringan yang sangat tajam. Wuuihhh…seperti ‘mission impossible’ saja, namun akhirnya patut dicoba untuk menggapai puncaknya. Ternyata…semua keraguan terjawab sudah, Puncak Garuda akhirnya dapat ku peluk, dengan berbagai resiko yg harus dihadapi. Sore itu pukul 15.30
sore, kembali ku pandangi kegagahan Merapi dari sisi Selatan. Apa yg terlihat
sungguh sangat mencengangkan. Dulu ku-berpikir Merapi Utara / Jalur Selo
tak mungkin bisa didaki sampai puncak. Ternyata jalur yg kulihat sore
itu sungguh tak pernah terbayangkan. Dengan pemandangan yang lebih extrem
dari Merapi Utara / Selo. Jam menunjukkan pukul 21.00, saat itu kami baru saja mendirikan tenda di Pos IV Merapi. Hampir 4 jam kami melakukan pendakian malam itu. Dengan cuaca yg sangat bersahabat dan angin yang bertiup dengan kencangnya, menusuk persendian. Namun pemandangan yg indah membuat rasa lelah, pegal dan dingin bagai tak terjamah. Malam itu sengaja kami membuat tenda lebih awal untuk memulihkan tenaga dan melanjutkan pendakian esok harinya menuju Puncak. Pagi itu sekitar pukul 7, tampak 3 pendaki mulai merayapi tebing-tebing terjal, yang didampingi lembah serta jurang-jurang yg siap menyongsong tubuh-tubuh yang tak berdaya. Batu-batu cadas yang harus dilalui, memotong pinggir jurang untuk mencari jalur pendakian karena banyak jalur yg blank. Kadang hrs merangkak, bergelantungan pada dinding jurang, membuat tanda untuk jalur pendakian agar tak tersesat. Jalur yang dilalui adalah jalur yg dahulu sering dikunjungi pendaki, namun setelah letusan tahun 90-an, maka yang ada hanyalah jalan lahar yg tak lagi layak utk pendakian. Perlahan tapi pasti tampak 3 titik yg terus bergerak merayap pd dinding-dinding tebing Selatan Merapi. Angin kenyang dan licinya bebatuan, serta tajamnya karang tak mampu menghentikan niatnya untuk bisa merasakan keindahan Sang Pencipta. Satu jam sudah perjuangan itu terlewati, jalur yg dilalui semakin sulit dan harus memutar ke Timur memotong dan melintas jurang yang menjadi aliran lahar ketika Sang Alam memuntahkan amarahnya. Sungguh panorama yang disajikan membuat mata ini takjub dan terpancar rasa kagum atas kemurahan Sang Pencipta atas kesempatan yg diberikannya. Pendakian yg dilakukan memang hrs menerapkan semua kemampuan kita. Teknik memanjat, dan membaca medan harus benar-benar teliti. Setiap jejak langkah adalah nyawa taruhannya. Kelengahan, kesombongan serta kurangnya pengalaman mungkin bisa menjadi makanan empuk jurang dibawah sana. Disinilah alam menggembleng kita dengan kearifannya agar kita bisa laku santun dan bertindak dengan hati nurani. |
| :: Back To Top :: |
|
Pagi itu sekitar jam 09.00 aku sudah menunggu di terminal Rawamangun menunggu teman-teman pendaki yang belum pernah bertemu (aneh yaaaaa...!!!), maklumlah aku kenal meraka lewat dunia cyber. Pokoknya yang membawa carrier besar pasti mereka. Satu jam sudah aku bengong sendiri."Aduh..., mana sich mereka. Janji jam 09.00 kok belum juga muncul", gerutu-ku dalam hati. Bayangin aja udah 1 jam aku dibikin seperti patung. "Hhmm, kayaknya salah satu dari mereka datang."
Tebak-ku dalam hati. ternyata benar dugaanku, baru Risa yang datang. Tapi
kemana yang lainnya...?. Aku dan Risa menunggu lagi dengan gelisah, karena
yang lain belum juga tampak batang-hidungnya. Waktu sudah menunjukkan
jam 10.20. Akhirnya satu persatu dari mereka datang, pertama Widias lalu
disusul Ali kemudian Joe dan Lydia dan terakhir Eric orang yang paling
dicari (abis dia sich yang pegang ticketnya hehehehe). Sudah beberapa
kali nama Eric CS dipanggil oleh operator untuk segera melapor karena
bis yang akan kami tumpangi akan segera berangkat. "Save by the bell
", karena pada saat-saat terakhir semuanya baru kumpul. Perjalanan pun dimulai saat jarum jam menunjukan
angka 10.55. Di dalam bis kami mulai mengakrabkan diri sambil bersenda
gurau. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk saling mengenal, karena saat
itu juga sudah saling bercanda dan tertawa. Perjalanan yang kami lalui
begitu panjang dan melelahkan. Jam 11.00 siang tiba di kota Bangko
- Jambi. Itu berarti 24 jam sudah perjalanan kami lalui. Dari
Bangko perjalanan dilanjutkan menuju Sungai Penuh yang
memakan waktu sekitar 4-5 jam, dengan pemandangan yang tidak membosankan.
Dari Sungai penuh berganti kendaraan menuju Kayu Aro
sekitar 1-2 jam perjalanan, disana dapat dijumpai perkebunan teh yang
indah yang menghampar luas di kaki gunung Kerinci. Hari itu kami bermalam
di rumah Misdi yang baru saja kami kenal sore harinya. Keluarga mereka
begitu ramah dan baik mau menerima kami apa adanya. Pagi jam 08.00 tampak serombongan pendaki
memulai perjalananya. Setelah sebelumnya melaporkan diri pada petugas
Penjaga kawasan Taman Nasional kerinci Seblat (TNKS). Awal pendakian dari
Pintu Rimba dengan keadaan medan yang dilalui masih normal
sampai ke Pos I. Sepanjang perjalanan tidak menemui kesulitan karena didukung
cuaca yang sangat bersahabat. Selanjutnya perjalanan dari Pos I ke Pos
II kami lalui dengan santai sambil menikmati pemandangannya. Keadaan alamnya
tak jauh berbeda dengan Taman Nasional Gede - Pangrango (TNGP). Jenis
tumbuhan dan faunanya hampir sama saja. Hutan Tropis yang begitu familiar
dengan-ku. Setelah sekian lama kami sampai juga di Salter I (Pos III),
disana terdapat mata air sehingga para pendaki bisa mengisi perbekalan
air. Dari situ kamu lanjutkan perjalanan menuju Salter II. Medan yang
dilalui terasa lebih sulit dan terjal. Karena terkadang harus memanjat
akar-akar pohon. Pemandangan menuju Salter II agak terbuka, sehingga kita
dapat melihat punggungan sebelah kiri dan dapat melihat desa-desa di bawahnya.
Dalam pendakian kami banyak berkenalan dengan pendaki yang lainnya. Mereka
kebanyakan dari daerah Jambi dan Padang. Ada pula sebagian dari Aceh,
jakarta, bahkan dari Bandung. Selama pendakian aku berada paling belakang.
Mungkin sudah menjadi kebiasaanku, bila pendakian beregu aku hampir selalu
ada dibelakang. Karena aku paling senang menjadi motivator. Dan biasanya
aku menjadi lebih cerewet (untuk hal yang positif loh...). Selama berada
di belakang bersama Risa atau Eric, kami pun ditemani oleh Hendry, pendaki
asal Padang. Dengan setia dia menemani pendakian ini. Kami saling bercerita,
tertawa dan saling bertukar makanan. Saat-saat seperti inilah pendakian
menjadi sangat berkesan. Kekompakan, rasa saling menghormati dan saling
tolong-menolong menjadi bagian yang begitu penting. Akhirnya kami sampai di Salter II menjelang
maghrib, disana sudah penuh terisi oleh tenda-tenta pendaki. Kami harus
mencari tempat untuk mendirikan tenda. Kami mendapatkan tempat untuk mendirikan
tenda agak miring dan mau tak mau harus merapikan tempat tsb. Saat mendirikan
tenda kami berkenalan dengan Tommy and Iin, pendaki dari Jambi. Pagi-pagi sekali jam 03.30 memulai pendakian
menuju puncak Kerinci. Medan yang ditempuh semakin sulit apalagi suhu
udara yang sangat dingin dan angin yang berhembus cukup kencang. Salter
III pun kami lalui, itu adalah batas daerah vegetasi. Setelah itu yang
terlihat hanyalah jalan berbatu, mirip dengan jalur menuju puncak Semeru.
Disini pendaki mulai berhati-hati karena batu-batuan yang labil, bila
salah melangkah maka batu-batuan akan jatuh menggelinding ke bawah dan
itu sangat membahayakan keselamatan pendaki dibawahnya. Suhu yang begitu
dingin dan hembusan angis yang kencang menjadikan tubuhku menggigil. Tapi
semua itu tak menghalangiku untuk terus mendaki menggapai atap Sumatera.
Kadang aku pun menghawatirkan teman-temanku yang lainya. Hari itu lumayan banyak pendaki, kadang
harus antri . Karena cukup rapat aku mengambil jalan yang ada disebelah
kanan jalur pendakian. Jalan itu sangat menanjak dan licin. Aku pilih
jalur ini agar antrian dibawah tidak menjadi panjang. Namun apa yang aku
lakukan mengandung resiko yang tinggi. Baru beberapa langkah aku mendaki,
tiba-tiba aku sadari bahwa aku tak mungkin terus mendaki melalui jalur
ini. Namun aku tetap saja mencobanya. Tiba-tiba aku tergelincir beberapa
meter ke bawah. Pendaki yang berada di jalur umum berteriak memperingatkanku.
Beruntung aku, saat terperosok aku sempat meraih batu karang yang lumayan
kokoh yang mampu menahan laju tubuhku. " ALHAMDULILLAH", aku
memanjatkan puji syukur kehadirat-Nya. Namun posisiku tak menguntungkan
untuk bertahan lama. Pada saat-saat seperti itu timbul pikiran-pikiran
negatif dan terbersit perasaan putus asa dan menyerah. Untuk beberapa
saat aku terdiam, berusaha menanamkan rasa percaya diri untuk terus bertahan.
"Kenapa mesti aku yang harus menjadi korban...? Ini 'nggak boleh
terjadi !!!!" Begitu tekadku dalam hati. Akhirnya aku putuskan untuk melompat ke
jalur normal. Sebelumnya aku kasih tau Widias bahwa aku akan melompat
ke jalur normal yang terdapat banyak pasir-pasir halus. Dengan sisa-sisa
tenagaku, aku melompat juga. "Alhamdulillah, aku selamat". Setelah
keadaan tenang aku melanjutkan pendakian-nya. Diperjalanan menuju
puncak aku menemui batu nisan yang bertuliskan nama seorang pendaki yang
tewas. Pendakian semakin ku percepat, angin bertiup semakin kencang dan
suhu udara yang membuat tubuhku beku. "ALHAMDULILLAH ALLAHU AKBAR...!!!"
pekik-ku dalam hati saat kugapai gunung tertinggi di Sumatera yang begitu
ku impikan. Saat itu menunjukkan jam 6.00, moment yang begitu menggembirakan.
Pemandangan dari puncak cukup mempesona, di bawah tampak Gunung Tujuh
dengan danau Gunung Tujuh tepat di tengah-tengahnya. Namun sayang kawah
kerinci tertutup kabut tebal, sehingga tak bisa menikmatinya. Di areal
puncak kulihat para pendaki sedang mengabadikan keberhasilnya, adapula
beberapa pendaki yang memotong rambutnya sebagai tanda kegembiraan mereka.
Aku tak lama berada di puncak karena udara yang begitu menusuk tulang,
setelah 15 menit berada di puncak aku putuskan untuk segera turun. Diperjalanan pulang kami melanjutkan pendakian
ke Danau Gunung Tujuh. Pemandangan disana begitu indah dan sangat mempesona.
-------------------------------------------------------------------------------------- Special
Thanks to :
- Misdi and Family yang begitu baik mau menerima kami Semoga
kita bisa bersama lagi di pendakian yang akan datang. |
| :: Back To Top :: |
| Pendakian ke Gn. Salak 2211 Mdpl 28 Des '93 - 3 Jan '94 Ajakan yang tak terduga datang
dari kakakku untuk ikutan mendaki Gunung Salak. Dengan senang hati aku
terima ajakan itu. Hanya dengan membawa 2 helai pakaian dan 1 celana pengganti
aku berangkat dengan mereka. Peralatan mendaki yang cukup komplit yang
aku punya tidak kubawa. Aku cukup nekat ikutan mendaki, karena seminggu
lagi aku menghadapi Ujian Semester III. Hari pertama peserta berjumlah 5 orang (Aku, Dede [kakak laki-laki],
Umi [kakak perempuan], Hedi [saudaraku], Iwan [teman kakakku]). Kami menginap
dirumah Pak Dana penduduk setempat kenalan kakakku. Paginya kami berangkat
dengan mengajak Pak Dana ikut serta. Perjalanan cukup menggembirakan dengan
cuaca yang cukup cerah (padahal sedang musim hujan). Setiap 2 jam kami beristirahat sejenak. Perjalanan baru kami
lalui selama 3 jam, tiba-tiba turun hujan dengan lebatnya. Namun begitu
kami tetap melanjutkan perjalanan tanpa sedikit pun merubah rencana semula.
Tak seorang pun yang memakai ponco atau pun rain coat sehingga kami semua
basah kuyup, begitu pula dengan barang bawaannya. Jalan yang kami lalui
tak pernah terpikirkan akan begitu berat dan sulit. Kadang kami harus
merangkak atau merayap. Udara yang semakin dingin dan beban yang semakin
berat, yang membuat perasaanku semakin tak menentu. Hampir setiap 10 menit aku berdiri mematung untuk mengusir
rasa lelah. Jalanan yang semakin licin, hawa dingin, rasa haus, dan lelah
begitu menusuk. Membuat perjalanan ini semakin menyiksa. Dengan tertatih-tatih
kami terus mendaki. Ketika harus menyeberangi jembatan yang tak terlalu panjang,
tetapi di sisi kanan dan kirinya, "Oh, Tuhan...!", ternyata
telah terbantang jurang vertikal yang sangat dalam tanpa ada sesuatu pun
yang menghalanginya. Aku gemetar ketakutan begitu melihat jurang yang
menganga lebar siap menerkam tubuh ini. Disaat perasaan lelah, pegal,
dingin serta pikiran yang semakin kalut, ingin rasanya aku meloncat ke
sana. Begitu pula halnya dengan kakak perempuanku, dia bahkan sampai menangis,
'nggak mau menyeberangi jembatan itu. Pendakian semakin berat saja, beban yang ku bawa seakan-akan
menindih tubuhku, akhirnya aku memanggil saudaraku untuk bergantian membawa
ransel. Hujan semakin deras dan aku semakin menggigil kedinginan. Ditengah
derasnya hujan kami membuka perbekalan dan minum air hangat. Tigaratus meter menjelang puncak (sebelumnya kami tidak tau),
kakak perempuanku sudah tak kuat untuk terus mendaki. Dia menggigil, dengan
muka yang pucat serta kejang dibeberapa bagian tubuh. Akhirnya kami putuskan
untuk mendirikan bivak dengan menggunakan selembar ponco dan plastik berukuran
1x2 meter yang sobek disana-sini. Dengan tangan beku dan rasa dingin yang
menusuk tulang, kami terpaksa memdirikan bivak. Tangan sepertinya tak
mempunyai rasa ketika aku menggenggam pisau atau tambang. Dibawah guyuran
hujan akhirnya bivak-pun berdiri. Aku mengalami kram di paha, saudaraku
mengalami kram perut dan yang lainya merasa pusing. Selama 6 jam kami
diguyur hujan, akhirnya hujan pun reda. Kami masak supermi dan membuat
minuman hangat. Malam hari kami tidak bisa tidur dengan baik, karena keadaan
bivak sangat sempit dan harus ditempati 6 orang. Malam yang menyiksa itu pun akhirnya dapat kami lalui. Paginya
kami lanjutkan pendakian menuju puncak dengan mengenakan pakaian basah
yang kemarin. Tak seberapa lama kami berjalan akhirnya puncak Gunung Salak
kami gapai. Tepat ditengah-tengah puncak terdapat makam yang cukup tua,
namun masih jelas terlihat. Belum sempat kami memeriksanya, hujan kembali
turun. Semua menggigil kedinginan dan memaksa kami untuk membuat bivak
lagi. Malam itu tanggal 31 Desember 1994, itu berarti malan tahun
baru. Kami merencanakan untuk berphoto bersama tepat pada jam 00.00 tengah
malam nanti. Namun ketika saatnya tiba hanya aku dan saudaraku yang masih
terjaga, sedangkan yang lainnya tertidur dengan lelap karena kelelahan.
Ketika jam hampir menunjukkan jam 24.00, sayup-sayup Aku dengar suara
terompet dan ledakan petasan jauh di bawah sana. Bulan yang bersinar penuh
tampak begitu mempesona dengan beberapa warna pelangi yang melingkar mengelilinginya.
Ingin Aku mengabadikan pemandangan tersebut, namun kameraku tak mampu
mengabadikannya. Malam itu Aku mencoba untuk memejamkan mata, namun hal
itu tak bisa Aku lakukan. Angin bertiup begitu kencang, suaranya bergemuruh
seperti topan yang sedang mengamuk. Pagi harinya setelah sarapan indomie, kami pun bersiap-siap
untuk turun. Pakaian yang kami kenakan diganti dengan pakaian bekas kemarin
yang basah. Sebelum turun kami sempat berziarah ke makam tua tersebut.
Setelah itu barulah perjalanan dilanjutkan dengan menempuh jalur Sukamantri
dan bermaksud memotong kompas ke arah Kawah Ratu. Begitu rencananya. Jalan
yang dilalui begitu terjal dan licin. Aku terpaksa bertelanjang kaki agar
tidak selalu terjatuh. Kadang untuk bisa turun terpaksa harus menggunakan
tambang. Perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan. Kami mengikuti tanda-tanda yang telah ada, yang dibuat oleh
MAPA JUANDA, BASARNAS ataupun oleh Pecinta Alam lain. Setelah 3 jam perjalanan
melalui jalur resmi, kami memotong kompas dengan membuat jalan sendiri,
dan sebagai pemandu adalah Pak Dana yang hanya berbekal sebilah golok.
Selama 4 jam kami menyelusuri hutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Di perjalanan lagi-lagi kami harus menerima guyuran hujan yang sangat
lebat. Dan selama perjalanan pula aku sering menginjak duri atau pun batu-batu
tajam serta pacet yang menggerayangi kakiku. Dan itu membuatku tersiksa
selama perjalanan. Pacet-pacet yang menempel dikakiku dan darah yang mulai
mengering tak lagi dihiraukan. Sepertinya perjalanan itu tak menunjukkan tanda-tanda akan
berakhir. Sampai akhirnya kami sadari, bahwa kami tersesat. "OhTuhan...!"
Seru bathinku. Dan tak terasa Aku terkencing dicelana. Yang tersirat dibenakku
adalah kejadian yang menimpa anak-anak STM dari Jakarta, yang menelan
7 korban di gunung ini. Aku berdo'a dan memohon lindungan-Nya. Dalam hatiku
Aku memohon agar kami tidak mengalami hal buruk seperti anak-anak STM
itu. Dan bila harus ada korban biarlah Aku saja, asalkan yang lain selamat.
Itu pintaku. Dan bila kami semua selamat Aku berjanji akan memotong ayam
sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Hari mulai sore dan kami masih saja terjebak dengan lebatnya
hutan dan derasnya hujan. Akhirnya diputuskan untuk membuat bivak dari
batang pohon dan daun-daun. Persediaan makanan hanya tersisa terigu 1/4
kg. Untuk menghemat terpaksa setiap orang mendapat sekerat terigu goreng.
Pak Dana terpaksa memakan sejenis umbi-umbian. Aku tadinya ingin sekali
memakannya, namun Pak Dana melarangnya karena bila tak terbiasa akan keracunan.
Malam itu kami pun tak bisa tidur karena bivak yang kami buat tidak melindungi
kami dari terpaan angin. Pagi itu perjalanan terus dilanjutkan dan mencari jalur yang
benar. Sebagai keputusan terakhir kami sepakat untuk menelusuri sungai
dan berharap sungai itu tak banyak bercabang. Selama berjam-jam kami terus
menelusuri sungai, terkadang harus masuk hutan bila menemui jeram. Dengan ketabahan dan keinginan yang kuat untuk pulang, akhirnya
kami sampai di Kawah Ratu. Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah
SWT, dan berteriak melepaskan kegembiraan yang tak terkira. Lalu kami
pun langsung pulang ke rumah Pak Dana, rindu rasanya ingin merasakan nikmatnya
makan nasi. Sampai di rumah kami disuguhi nasi dengan lauknya ikan asin
serta lalapan. Kami makan begitu lahap seperti orang yang baru mendapatkan
nasi. Malamnya Aku memenuhi janji-ku untuk memotong ayam sebagai ucapan
rasa syukur kepada Allah SWT. Paginya sepulang dari Curug Seribu dan memetik buah gambas,
kami pun pamit pada Pak Dana dan keluarganya, serta tak lupa mengucapkan
terima kasih. Dengan langkah yang agak terpincang aku terus melangkah
pulang. Walaupun dalam perjalanan pulang diguyur hujan, kami sudah tak
peduli lagi. Semua rindu dengan kasur yang empuk dan selimut yang hangat
serta makanan-makanan lezat. Dan satu lagi yang penting. Besok Aku harus menghadapi Ujian
Akhir Semester III. |
| :: Back To Top :: |
|
Menjelang liburan akhir semester Aku bingung akan pergi kemana.
Yang menjadi harapanku adalah dapat pergi mendaki gunung ke Jawa Tengah
atau Jawa Timur, bahkan kalau bisa keluar Pulau Jawa. Namun hal itu menimbulkan
keraguan dalam hatiku. Aku perlu seorang temen untuk pendakian tersebut,
namun tak satu pun teman-temanku yang mau ku ajak. Akhirnya dengan perasaan
ragu Aku putuskan untuk pergi ke Bali dengan tujuan mendaki Gunung Agung
seorang diri (pokoknya nekat dech). Selama beberapa hari Aku sibuk mengurus surat jalan. Mulai
dari RT, Kelurahan sampai Kantor Polisi. Setelah selesai semua urusan,
lalu Aku mulai packing peralatan-peralatan yang akan dibawa dan check
ke Stasiun Kota untuk mengetahui jadwal kereta api. Pagi itu pukul 9.00, Aku berangkat setelah berpamitan pada
orang tuaku. Dari Bogor Aku naik kereta ke Jakarta, lalu Aku berganti
kereta. Di Jakarta naik jurusan Surabaya (KA. Jayabaya). Dari Jakarata kereta berangkat jam 13.30 dan sampai di Surabaya
jam 6.00. Lalu perjalanan dilanjutkan ke terminal Surabaya. Dari sana
Aku naik Bis VIP jurusan Denpasar. Perjalanan ini pun membuatku lelah.
Apalagi ketika menyeberang dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) ke Pelabuhan
Gilimanuk (Bali) Aku hampir saja mabuk laut. Akhirnya perjalanan yang sangat melelahkan ini berakhir di
terminal Ubung Denpasar. Saat itu menjelang malam, lalu Aku putuskan untuk
bermalam di Pantai Kuta. Namun belum sampai di Pantai Kuta, Aku tersesat
di Kota Denpasar. Ini disebabkan karena mobil yang Aku tumpangi tak bisa
melanjutkan perjalanan dikarenakan jalanan menjadi macet akibat ada upacara
Ngaben. Maka Aku putuskan untuk mencari kantor polisi terdekat sebagai
tempat untuk bermalam sementara. Selama beberapa jam Aku berjalan mengelilingi
Kota Denpasar. Malam semakin larut dan Aku semakin kebingungan di kota yang
begitu asing bagi-ku. Selama 2 jam Aku berjalan mengelilingi Kota Denpasar.
Karena kantor polisi belum juga ku temukan, akhirnya Aku putuskan untuk
pergi ke Pantai Kuta lagi. Di perjalanan menuju Pantai kuta Aku berkenalan
dengan tiga orang teman. Aku beruntung karena mereka telah mengenal Denpasar
dengan baik. Dengan bantuan mereka akhirnya aku sampai di Pantai Kuta
yang sangat terkenal dengan keindahannya itu. Namun maksudku untuk bermalam
di sana tak kesampaian, karena mereka bilang bahwa bermalam di Pantai
Kuta tidak aman karena sering terjadi peristiwa yang tidak baik. Akhirnya
kami mencari tempat lain untuk melepas lelah. Mulanya kami tidur-tiduran
di pinggir pertokoan, tetapi kemudian pindah ke pos ronda yang berada
tak jauh dari Pantai Kuta. Esoknya kami pergi ke Pantai Kuta sekedar berphoto bersama
dan juga untuk 'cuci mata'. Pemandangan disana begitu indah dengan ombak
Pantai Kuta yang saling kejar-kejaran. Dan yang membuat mata ini semakin
terpana tak kala turis-turis asing dengan asyiknya mereka berjemur menikmati
mentari pagi tanpa memakai bra. Permata kali Aku melihatnya, Aku jadi
malu sendiri (tapi sayik lho...!). Namun lama-lama terbiasa juga dengan
keadaan disana. Menjelang sore, setalah kami cukup berkeliling akhirnya
Aku harus berpisah dengan tiga orang temanku yang baru ku kenal. Aku melanjutkan
perjalanan ke Karang Asem. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih, Aku
pun berpisah dengan mereka.
Besoknya sebelum pulang Aku sempat membeli baju serta sovenir
untuk oleh-oleh. Setelah itu Aku pun pamit pada petugas dan mengambil
KTP-ku serta tak lupa mengucapkan terima kasih. Aku begitu terkesan dengan
keramah-tamahan penduduk setempat. Akhirnya Aku pulang dengan membawa
kesan yang sangat baik dan penuh dengan kenangan indah. -------------------------------------------------------------------------------- Ucapan
terima kasih-ku kepada :
Terima
kasih atas segala bantuan dan kebaikannya selama Aku berada disana. Semuga
Allah SWT membalas kebaikan kalian semua. Dan semoga kita dapat bertemu
lagi. |
| :: Back To Top :: |
|
25/12/03 08:00 Pagi itu Bre telah siap menjemput Saya dan Risa di stasiun Pasar Turi, kebetulan di kereta yg sama rombongan dari rekan Pangrango (4 orang) juga akan mendaki ke Gn. Argopuro, namun mereka masih menunggu rekan-rekannya yg akan datang besoknya. Tak lama berselang Joeitem dan Didi datang menjemput juga. Lalu ke rumah Didi untuk mempersipakan segala sesuatunya. Setelah check packing selesai, kami pun pergi ke terminal Bungur Asih. 13:00 Di terminal ternyata telah menunggu Ronadepatra, Arief , Bambang dan Iffa. Walaupun saya telah mengenal mereka semua lewat cyber, namun hanya Ronadepatra yang pernah bertemu. Setelah saling mengakrabkan diri, maka kami pun berangkat. Bre dan Iffa tak bisa ikut serta karena mereka ada urusan lain yang mendesak. Bis yang ditumpangi melewati Panjarakan. 16:00 Tepat di depan Mesjid Panjarakan bis berhenti, saat itu hujan lebat menyambut tim yang akan mendaki. Sambil menunggu hujan reda, sebagian melaksanakan kewajiban shalat. Lalu setelah mendapat angkot sewaan utk mengantar ke desa Bermi, perjalananpun dilanjutkan. 18:00 Sampai di Bermi, desa terkahir dibawah kaki Gn. Argopuro, lalu melapor ke Polsek setempat. Kemudian pergi ke pesanggrahan dimana rekan Pangrango lebih dulu ada di sana dan telah memesan 1 rumah (3 kamar) yang akan mereka tempati. Malam itu kami habiskan utk menyusun rencana sambil bersenda-gurau. Duh…saat-saat seperti ini yang sangat mengesankan, keakraban begitu terjalin dengan mesra J. 26/12/03 11:00 Setelah makan dan telah bertemu rombongan pangrango yang ke-2, pendakian ke Argopuro dimulai (tim Pangrango memulai pendakian tgl 27 Des). Saya. Ronadepatra, Risa, Bambang serta Didi berangkat lebih dulu, sedangkan Joeitem bergabung dengan tim Pangrango. 11.40 Jalur yang dilewati adalah perkebunan kopi yang cukup luas dan jalannya lumayan agak menanjak. Pos II pun dicapai. Tampak tower pos II yang dengan tinggi sekitar 5 meter sehingga dengan leluasa bisa melihat pemandangan jauh ke bawah. Saat itu hujan rintik-rintik, kami pun istirahat lama sekali, hingga beberapa rekan terlelap dgn tidur singkatnya…hihihi dasar Si Penidur…:p~. 15:30 Setelah lama beristirahat dan menunggu hujan yg tak kunjung reda, akhirnya perjalanan terus dilanjutkan, semuanya menyiapkan ponco. Saya pun tak ketinggalan menyiapkan senjata pamungkasnya (payung)…hihihi :D. Tak berapa lama mendaki kami memasuki hutan damar yang cukup bagus. Di bawah guyuran hujan kami terus berjalan, tak ketinggalan celoteh-celoteh lucu keluar dari mulut-mulut usil :p~. Berjam-jam perjalanan ini terus berlanjut, sesekali diselingi istirahat sambil membuka perbekalan. Hari menjelang malam, sudah berapa ‘pacet’ yang terus mengikuti perjalanan ini :D. Saya dan Didi menjadi target favorite pacet-pacet centil yang ingin mimi ‘darah’…hihihi (beginilah kalo jarang donor di PMI). Saat gelap tiba, satu per satu senter pun dinyalakan, dan perjalanan terus berlanjut. Kunang-kunang tak hentinya ikut menyemarakan pendakian ini, kerlap-kerlip cahayanya menambah keanggunan hutan Gn. Argopuro. 20:00 Akhirnya sampai di persimpangan, ke arah kanan adalah Taman Hidup dan ke kiri adalah jalur menuju puncak. Karena di Taman Hidup airnya tak begitu jernih, akhirnya kami putuskan untuk terus berjalan ke arah kiri dan membuat tenda di pinggir kali yang melintasi jalur pendakian. Setelah tenda terpasang dan membereskan semua peralatan, acara memasak pun dimulai. Malam itu dilalui dengan crita dan canda-tawa, malam yg hening terbelah oleh senda gurau dua penghuni tenda. 24:00 Semua bersiap untuk tidur, setelah sebelumnya merapikan peralatan masak, baru saja mata akan terpejam saya mendengar suara meminta tolong dari kejauhan, lalu saya tanyakan pada Arief apakah dia mendengarnya juga, pertama saya tanya dia tampak ragu, lalu suara itu terdengar kembali. Barulah Arief mengiyakan pertanyaan saya. Hhhmmm…suasana menjadi hening. Suara itu terus berulang hingga menjelang pukul 01:00. Saya tak ambil pusing dengan semua itu, karena ini bukan acara Ekspedisi Alam gaib, dan saya tak mengajak Pak Leo untuk scanning tempat ini, apalagi tak ada Uka-Uka, karena peserta Uka-Uka kita kali ini kabur semua !!! hihihi *_^. 27/12/03 07:00 Menyiapkan makan pagi sambil menikmati udara pagi dan mentari yang ikut menghangatkan suasana. Hari itu tak ada pendakian, kami hanya menunggu tim Pangrango sambil bercerita kejadian semalam. 09:00 Sambil mngisi waktu, kami semua pergi ke Taman Hidup untuk menikmati keindahan danau-nya. Tak lupa saya siapkan alat pancing dan menggali tanah mencari cacing untuk umpannya. Tiga jam sudah waktu dihabiskan disana, sambil memancing tak lupa menikmati teh manis hangat dan makana kecil yang kami bawa. Hhhhmmm…perkerjaan yang sangat mengasyikan hihihi. 16:00 Sore hari-nya barulah Joeitem datang dengan membawa beberapa keperluan kami. Seharusnya menginap satu hari di sini, terpaksa menjadi 2 hari karena harus menunggu Joeitem. 23:00 Semua sudah masuk kedalam tendanya, tak lama berselang rekan saya terbangun dan ingin berganti tempat, dia ingin di tengah. Tak ada cerita ataupun penampakan yang terjadi …hihihi. 28/12/03 06:00 “Sarapan sudah siap !!!!”, sambil menyantap makanan, salah satu rekan saya bercerita, ketika semalam dia pindah tidur ke tengah karena dia mimpi yang sangat buruk sekali (Eureup-eureup / Bhs Sunda). Semua yang mendengarkannya jadi tertawa terbahak-bahak. Maka muncul keisengan dari Ronadepatra, dia langsung mengambil Spidol, kertas, dan plester. Lalu dia menulis di secarik kertas “Pos Eurreup-Eureup” dan menempelkannya di pohon yang berada di samping jalur pendakian. 09:45 Pendakian dilanjutkan, dengan badan yang segar membuat semangat lagi J. Perjalanan yg panjang masih harus dilalui, melewati bukit-bukit yang rusak, tampak sisa-sisa kebakaran yg hebat serta pohon-pohon yg bergelimpangan. Bukit-bukit yg longsor mengisyaratkan betapa alam ini sangat menderita oleh ulah kita L, hiks…L. 13:30. Hujan kembali membasahi bumi, terpaksa membuat bivak darurat sambil menunggu hujan reda. Dua jam sudah terlewati, namun hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya perjalanan dilanjutkan dibawah guyuran hujan. 18:00 Akhirnya sampai juga di Pos Aengkenik (Air yang mengalir kecil / sungai kecil – Bhs Madura). Di tengah hujan yg masih berlanjut, tenda pun mulai didirikan. 29/12/03 11:00 Setelah selesai masak dan membongkar tenda, serta tim pangrango telah bergabung, maka perdakian pun dilanjutkan. Kali ini lebih ramai dan lebih ceria dgn gelak canda sepanjang perjalanan. Medan yang dilalui cukup beragam, membuat mata tak penat memandangnya. 13:30 Pos Cisentor pun akhirnya dicapai. Pos ini titik temu antara jalur Bermi dan Baderan yang menjadi Base Camp. Disini kami istirahat sebentar, lalu saya menyusun rencana selanjutnya. Tiga puluh menit kemudian saya putuskan untuk terus mendaki, sementara tim Pangrango akan bermalam disini. 15:30 Setelah perjalanan memakan waktu 1.5 jam, sampailah di Rawaembik, dimana terdapat aliran sungai kecil tempat mengisi perbekalan air terakhir. Disini kami beristirahat sejenak dan memasak untuk memulihkan tenaga. 18:00 Setalah menempuh perjalanan yang melelahkan, maka sore itu kami sampai di Puncak Rengganis yang menyajikan pemandangan yang sangat mempesona. “Alhamdulillah…!!! Setelah berhari-hari pendakian yg sangat melelahkan, akhirnya sampai juga di puncak. Tampak lah setumpuk batu yg disusun rapi dengan berbagai aksesoris ritual adat penduduk setempat, menambah kesan magis disekelilingnya. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini utk berphoto bersama. Tiga puluh menit waktu dihabiskan di puncak. Lalu kami turun sekitar 50 meter ke sisa-sisa tempat altar/pemujaan . Disana kami pun mendirikan 1 tenda dan 1 bivak. 30/12/03 06:00 Pagi-pagi kami kembali ke Puncak Rengganis utk menikmati sunrise. Dingin yang masih menusuk tulang setelah semalaman hujan turun, tak menghalangi keinginan utk berada di Puncak. Setelah itu semua peralatan yg basah kami jemur sambil bermalas-malasan dibawah sinar mentari pagi J. Disana banyak terdapat sisa-sisa peninggalan Kerajaan Dewi Rengganis, berupa batu-batu yg tersusun rapi setinggi 1meter yang dulunya merupakan Istana mereka. Setelah puas kami pun packing dan melanjutkan perdakian menuju Puncak Argopuro. 11:15 Setelah mendaki dengan kemiringin sekitar 45 derajat, akhirnya tanah tertinggi Gn. Argopuro pun bisa tergapai sudah. Disana saya bertemu teman lama yg dulu sama-sama mendirikan ‘HEXAQUANDRON’. Hanya 15 menit menikmati puncak itu, kabut turn dgn cepat, lalu kami pun turun. 12:30 Sampailah di Cisentor, hanya beristirahat 10 menit, perjalanana pun dilanjutkan kembali memilih jalur Baderan yang panjang menuju Cikasur, Jalur yang dilewati sangat beragam, ada hutan tropis, hutan cemara, sabana, serta padang edelweiss. Sungguh pemandangan yang disajikan membuat mata dan hati ini merasa jernih J. Apalagi tak kala disenja hari saat melewati sebuah bukit, tampaklah pemandangan yg sangat menarik, seekor burung merak dgn berlenggak-lenggok bak peragawati dgn santainya berjalan menuju hutan. Sungguh elok dgn pakaian kebesarannya sangat banyak dikagumi. 15:00 Sampailah di Cikasur dgn menyajikan pemandangan yg membuat betah utk berlama-lama disana. Tampak jelas sisa-sisa bangunan yg dulu dipergunakan utk mengendalikan hilir-mudik kapal-kapal perang. Tampak didepannya lapangan yg sangat luas tersusun rapi yg dulu dijadikan landasan utk kapal perang. Kami beristirahat selama 1jam utkmasak, dam kesempatan ini saya pergunakan utk mandi, wuihhh…dingin dan segar sekali. Mandi di gemercik aliran sungai yg sangat jernih, seperti sang pangeran yang sedang mandi di taman khayalan hihihi…;p~. 20:00 Empat jam sudah kami terus berjalan melewai bukit-bukit yang tak sempat saya hitung berapa jumlahnya. Karena beberapa teman kecapaian dan kondisi yg kurang menguntungkan akhirnya saat sampai di Jati banteng, kamipun mendirikan tenda utk menginap dan memulihkan tenaga. 31/12/03 07:00 Pagi perjalanan kami lanjutkan, karena saya mengejar waktu agar bisa cepat sampai di Jogja untuk melakukan pendakian ke Gn. Merapi bersama teman #pendaki dari Jogja yang telah menunggu di Posko Mapala Unisi. Perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan harus kami hadapi lagi dibagian terakhir ini. Daerah terkahir yg hrs dilalui adalah perkebunan rakyat yg berada di bukit-bukit Gn. Argopuro. Akhirnya tepat tengah hari akhirnya sampai lah diperadaban manusia…hihihi. Terima kasih ya Allah yg telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam melakukan pendakian ini. Ucapan
terima kasih : Bre
/ sang_petualang and Iffa (Surabaya) à
team penyambut J Yang
Special : Risa
(Jakarta) Kawan, dalam setiap pendakian ini akan banyak kenangan tercipta diantara kit yang akan mengisi lembaran putih diary anak manusia. Terima kasih atas kebersamaan yang kita lalui. Semoga persahabatan ini akan terus terjalin dengan mesra, amin. |
| :: Back To Top :: |
uuhhh....... |
| :: Back To Top :: |
|
Serpihan rindu Ku (Gede Episode November Rain) |
Ada sedikit gundah sepanjang hari itu, padahal semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ya, sejak malam tadi aku telah packing semua barang-barangku. Sesekali kutengok bidadari kecilku yang begitu lelap didepanku, cahaya yang terpancar dari wajah nan suci. Oh, gelisah itu kian menggelayuti hati ini. Ingin sekali kuajak bidadari kecil ini untuk turut serta. Aku kembali memeriksa perlengkapan yang sudah tersusun rapi dalam carrier. Matras, sleeping bag, trangia kecil, spirtus, misting, makanan, pakaian ganti + kaos kaki cadangan, senter + battery & bohlam cadangan, victorinox kecil, peralatan makan, topi rimba & balaklava / kupluk, tali, ponco (yang selalu menjadi andalan dalam perjalananku), juga handbody dan pengharum tubuh. Hhmm…hanya tinggal menunggu tenda yang akan diantarkan oleh temen pendakianku. Aktifitas itu ternyata tak juga mengusir rasa gelisahku, berkali-kali kulirik malaikat kecilku itu, berharap dia terjaga dan menyapaku manja, "Ayah….gendong Najla". Suara yang begitu akrab dan yang sangat kutunggu. Akhirnya saat itu pun tiba, walau dengan berat hati dan gundah yang masih menyelubungi aku pamit pada istriku tercinta. Ku tengok sebentar si kecilku, berharap untuk kesekian kali. "Assalamu'alaikum….", kulangkahkan kaki meninggalkan gerbang rumah itu. Hampir satu jam aku dan temanku menunggu di depan Pos dan Giro Cibodas, sesekali aku dan temanku ngobrol dengan sopir angkot yang setia menanti teman-teman lainnya. Udara malam tak terasa menyengat, sambil menunggu mulut ini terus mengunyah kue hasil olah tangan istri ku. Waktu sudah menunjukan jam 1, mungkin tak lama lagi mereka akan sampai. Pagi itu semua sudah siap di Pos Pemeriksaan (Sekretariat GPO), setelah semalam menginap dirumah penduduk dan paginya menyempatkan untuk mengisi perbekalan sebelum pendakian. Setelah semua prosedure dilalui, akhirnya pendakian ke Gede lewat Putri pun dimulai. Rasanya badan ini agak kaku, setelah cukup lama absen dalam pendakian-pendakian yang diadakan teman-teman di dunia kabel. Perlu beberapa saat untuk beradaptasi dan membiasakan diri dengan suasana alam ini. Perjalanan dimulai dengan obrolan-obrolan ringan disertai canda dan tawa kian menyemarakan suasana. Sepertinya keakraban terjalin tanpa disadari, sebagian peserta masih belum ku kenal dengan baik, karena baru kali ini bertemu dan mendaki bersama. Tapi ternyata tak butuh waktu untuk bisa masuk dalam suasana persahabatan yang hangat dan mesra ini. Bahkan diantara mereka sudah terbiasa saling bersenda-gurau layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Keceriaan memenuhi seisi belantara, diiringi suasana yang teduh. Sepertinya matahari enggan untuk merusak suasana yang mesra diantara kami.
Irama nafas yang berbaur dengan gemuruh langkah kaki, tertatih-tatih namun tegap menapak pada perut bumi. Rasa yang dulu menjadi teman sejati kembali menyapa dan terus mengikuti, seperti dulu aku harus mampu melewati saat-saat seperti ini. Mencoba melintas batas yang tak setiap hari kutemui, melawan keangkuhan untuk menyerah dan kesombongan untuk berhenti. Tak ada waktu untuk mundur kembali, hanya semangat dan rasa rindu yang menjadi semangat baru. Satu…dua…tiga….terlewati sudah masa-masa sulit yang saling menghimpit. Langkah semakin menanjak, ketika kabut pun turut mengikuti dalam setiap hela nafas yang terbuang. Membelai lembut insan berjuang, menghangatkan semangat yang mulai meredup terbuai angan dan ilusi sesaat. Kaki terseret, hati terus melantunkan lagu syahdu Sang Maha Sempurna yang memberikan asa yang tak pernah putus. Ada rasa damai mengalir pada aliran darah disekujur tubuh. Memberikan kekuatan untuk terus melangkah dan menatap misteri di depan sana. Tak banyak berubah yang kunikmati, hanya kekaguman dan rasa syukur yang terus terbarui. Setiap kali kurenungkan, tak pernah terbersit akal untuk menjangkaunya. Ketika dataran itu kuraih, sejuta bebas terlepas sudah. Tampak didepanku sebuah Maha Karya Sempurna, bertebaran memainkan keindahannya dipelupuk mata. Tampak taman edelweiss begitu mempesona, terbungkus kabut tipis dan semilir angin yang menggoda. Tak kuasa aku dan mungkin teman-temanku untuk mengabadikannya dalam sebuah mekanik modern. Rasa narsis begitu menggelora, seolah lupa bahwa masih ada seni yang lebih sempurna J Akhirnya saat yang ditunggu pun sudah didepan mata, setelah mencari tempat untuk membuka tenda, akhirnya diputuskan untuk menempati dataran tinggi diseberang mata air alun-alun. Tempat yang terbuka dengan pemandangan yang lepas kesemua arah, namun menjadi sapuan angin yang empuk (alhamdulillah tidak hujan dan badai J). Diiringi hujan rintik-rintik membuat suasana cukup sunyi dengan hembusan angin yang deras menerpa wajah. Terlihat aktifitas di tenda-tenda yang gigih menopangkan pasak-pasak besi pada bumi, mendekap erat ibu pertiwi dari canda angin Surya Kencana. Canda dan tawa masih terdengar di tenda-tenda itu, deru tenda yang berkibar diterjang angin tak menyurutkan aktifitas didalamnya. Obrolan itu masih terus berlanjut untuk beberapa saat. Obrol yang penuh kehangatan menambah suasana semakin hidup. Sesekali terdengar lagu-lagu yang romantis terdengar dari salah satu tenda, mungkin terbawa suasana alam yang cukup membuat hati terpesona. Pagi itu tampak serombongan pendaki lintas milist mulai menuju puncak gede. Semangat di pagi hari terasa begitu kuat, pun ketika buah arbei hutan tak luput darinya. Sesekali arbei itu memberikan nuansa rasa yang membuat pipi tersenyum kecut :D. Asam-manis arbei hutan ikut menyemarakan pagi yang indah. Tak lama rombongan pun mennggapai puncak Gede. "Alhamdulillah….", sebuah ungkapan rasa yang tak terbayangkan. Lalu mulai kusalami mereka satu persatu untuk mengucapkan selamat J. Sayang, cuaca tak begitu ceria, kabut tebal menghalangi pemandangan indah puncak Pangrango dan kawah wadon yang menjadi daya tarik pendaki. Tebalnya kabut semakin semarak memenuhi seisi puncak Gede, rintik-rintik air pun mulai berjatuhan tak kuasa menahan beban di atas sana. Tak banyak aktifitas dilakukan diatas sana selain harus kembali meneruskan perjalanan pulang menuju Cibodas. Perjalanan sempat kita hentikan sejenak, saat salah seorang peserta melintasi batas kenangan seorang sahabat yang begitu membekas dalam kehidupannya. Sejenak kami pun diam sesaat untuk memberikan penghormatan dan doa untuknya. Semoga dia ditempatkan yang layak oleh Allah swt, amin J. Hujan tak hentinya mengikuti perjalanan kami pulang, sepertinya cuaca ini begitu kental selalu menyelimuti tegarnya Gede-Pangrango. Menambah semangat karena ingin cepat sampai di bawah untuk menikmati suasana hangat gubuk volunteer. Di Panyancangan kami bertemu dengan rekan-rekan yang tak bisa ikut ke Surya Kencana kemarin. Mereka dengan antusias menunggu kami disana, sungguh sebuah niatan persahabatan yang agung. Walaupun tak pernah bertemu sebelumnya, namun seperti ada ikatan yang tak terbantahkan. Malam itu sambil menunggu hujan reda, kami masih terus bercengkrama di gubuk Montana, sambil menimati kopi dan makanan kecil yang tersedia. Suasananya begitu mesra dan membuat betah berlama-lama disana. Banyak kawan lama dan baru bercampur disana, sebentuk perjalinan sebuah persahabatan yang sempurna. Gede, 02-04 Nov 2007 |
| :: Back To Top :: |
Hakcipta hijjau@pendakierror.com 2004