Home
About me
Contact us
Sign guest book
View guest book
 
 
Sepenggal Kisah Perjalanan
 
"Saat pertama kali aku melakukan pendakian, banyak pertanyaan yang muncul di benak ini. Terbersit perasaan takut, penasaran, dan semangat semua bersatu dalam dada ini. Apakah yang akan ku temui disana ? ada apakah diatas sana ? dibalik lebatnya hutan, dibalik selimut kabut yang tebal, dibalik kepekatan malam yang penuh mistery"
 

Sejak saat itu hari-hari ku penuh dengan petualangan dan pencarian jati diri. Apa yang kucari selama ini? Saat itu yang ada dibenak-ku adalah bagaimana aku bisa lepas dari hiruk-pikuk di kampus, lepas dari masalah dirumah ataupun masalah dengan teman-teman dekatku. Aku ingin bebas menikmati ketenangan dan kedamaian jauh diatas sana, sembunyi di balik pohon-pohon, semak belukar dan hitamnya malam yang bisa membuatku terlena.
 
Berikut beberapa kisah perjalanan yang sempat tertulis dibuku harian :  
Smilling Gede  
Opsih di Gede-Pangrango bersama komunitas #pendaki (kosong)  
Bakti Sosial Gn. Gede MAPA Gunadarma (kosong)  
Pendakian Gn. Rinjani (kosong)  
Upacara di Mahameru (kosong)  
Pendakian Gn. Kerinci  
Pendakian Gn. Slamet (kosong)  
Pendakian Gn. Sumbing (kosong)  
Pendakian Keluarga ke Salak I  
Pendakian Masal Argopuro-Rengganis   
Jalur Maut Merapi-Selatan  
Napak Tilas HIJJAU di Gn. Salak  
Serpihan rindu Ku (Gede Episode November Rain)  
     
Serial Lone Ranger
Camp di Pondok Seladah Papandayan (kosong)  
Pendakian Ceremai-Linggarjati (kosong)  
Kunjungan ke Gn. Agung  
Napak Tilas Hijjau Ceremai-Apuy  
     
 
 
 
 
 

 

Smilling Gede 3078 Mdpl 22-23 Mei  '93

 Pendakian ke puncak Gunung Gede yang dimotori oleh MAPA (Mahasiswa Pecinta Alam) GUNADARMA, merupakan pendakian resmi pertamaku yang melelahkan. Gunung Gede pula yang merupakan gunung pertama yang Aku daki. Pendakian ini Aku jadikan sebagai pelajaran pertama serta pembangkit semangat untuk memantapkan diri dan sebagai motivasi yang positif untuk melakukan petualangan sendiri.

Di sini Aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berarti dan pengalaman yang menarik serta membanggakan. Pendakian ini diikuti sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari anak-anak tingkat I, II, maupun anak-anak yang lebih senior. Acara ini sebagai ajang perkenalan bagi mahasiswa-mahasiswa baru dengan MAPA GUNADARMA.

Aku salah satu mahasiswa baru yang yang tertarik untuk ikut acara tersebut. Maka Aku pun mengajak dua orang teman sekelasku (Doni dan Ami). Kami pun mendaftarkan diri ke sekretariat MAPA GUNADARMA. Di sana Aku bertemu dengan Endit (teman satu SMA) dan Ira.

Sore itu tanggal 22 Mei 1993 jam 17.00, tampak dua buah truk TNI beriringan dari kampus GUNADARMA Pondok Cina menuju Cibodas (Cianjur). Kedua truk melaju dengan cepat menelusuri jalan raya puncak yang menyuguhkan pemandangan yang indah.

Malam itu jam 21.00, para peserta Smilling Gede tampak bergerak menuju Pos Penjagaan untuk melapor. Satu jam berikutnya pendakian Gunung Gede dimulai. Aku mendapat regu 11, sedang Ami, Doni, Endit dan Ira bergabung dengan regu 9. Semua mendaki dengan santai sambil bersenda gurau, membuat pendakian ini begitu menyenangkan. Setiap 1-2 jam perjalanan kami selingi dengan istirahat. Selama perjalanan banyak ditemui pos/selter yang sengaja didirikan untuk tempat beristirahat para pendaki. Pos-pos itu diberi nama yang unik. Ada 'Kandang Badak' ada 'Pemandangan', ada 'Kandang Batu' dll. Selama pendakian Aku bergabung dengan regu Endit. Ketika sampai di Kandang Badak, sebagian pendaki beristirahat untuk tidur atau masak, tetapi ada juga yang terus mendaki. Di sini Aku terpisah dengan regu Endit, Aku mencari kemana-mana tapi tak ku temui mereka.

  Aku berpikir mereka meneruskan pendakian tanpa terlihat olehku. Maka Aku pun menyusulnya seorang diri. Aku berjalan dengan cepat, harapanku dapat segera menyusul meraka. Tetapi setelah sekian lama Aku berjalan, mereka tak kunjung terlihatt. Aku bingung.... dan tiba-tiba Aku sadar bahwa Aku telah cukup jauh berjalan seorang diri. Waktu itu sekitar jam 2.00 pagi, Aku begitu ketakutan. Aku mencoba menunggu beberapa saat dengan harapan bertemu dengan regu lainnya. Semakin lama Aku menunggu, semakin menjadi ketakutanku. Ingin rasanya Aku berteriak dan menangis. Akhirnya dengan perasaan yang tak menentu Aku putuskan untuk terus mendaki. Aku terus mendaki dengan sejuta rasa takut yang terus menghantuiku. Selama perjalanan sering kali Aku dibuat terkejut oleh binatang-binatang malam. Aku terus berdoa semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang menimpaku.

Hari hampir menjelang pagi, akhirnya stelah sekian lama berjalan aku bertemu dengan regu lain yang berada di depanku. Aku mengucapkan syukur pada Allah SWT karena telah mempertemukan dengan regu lain. Aku merasa lega, dan ternyata Puncak Gunung Gede semakin dekat. Track atau jalur terakhir yang harus kulalui adalah jalur yang paling menanjak. Track ini dinamakan 'Tanjakan Setan' atau 'Tanjakan Rante' dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dengan sisa-sisa tenaga aku kuatkan untuk terus mandaki. Sampai akhirnya...."Alhamdulillah...!!!", teriakku tak kala kugapai Puncak Gunung Gede. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku begitu terpesona melihat pemandangan yang ada disekelilingku. Ternyata saat itu Sunrise di Gunung Gede sedang berlangsung. Warna awan yang keemasan menyelimuti seluruh permukaan puncak Gunung Gede. Suatu pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah Aku lihat sebelumnya. Aku bagaikan berada di Negeri Awan yang hanya ada di dongeng-dongeng klasik. Ingin Aku mengabadikan kejadian yang mempesona itu, namun Aku lupa kalau kamera dibawa oleh Endit.

Sekitar jam 7.00 barulah regu Endit sampai di puncak. Kami pun berphoto bersama. Lalu aku bertanya kepada mereka mengapa mereka terlambat sampai di puncak...?

:: Back To Top ::
 
Ceremai 22-23 Jan’ 2004

 Kedalaman hati merengkuh dunia, tiada berbekas dan berharap.
Angkara murka tak mampu berharap hanya menanti kehancuran.
Bingkai dunia melenakan mata, hanya nurani yang mampu menghentikannya

  diary ‘hijjau’…

 “Uhhh…akhirnya aku kembali berada dibelantara lebatnya hutan seorang diri, terasa kesunyian dan kedamaian dirasakan”. Yaa, setelah lebih dari lima tahun aku tak lagi melakukan pendakian solo mengunjungi gunung-gunung yang menjadi sahabat terbaik-ku.  Begitu ku menikmati saat-saat kesendirian seperti ini, banyak hal yg bisa aku renungi, seperti memutar kembali kisah kehidupan yg lalu. Kadang tersimpul senyum mengingat kembali kisah-kisah ku dulu.

Hmm…saat itu pendakian benar-benar sepi, hanya aku sendiri. Pendakian kumulai pada tgl 22 Jan 2004 pukul 12:00 setelah melaporkan diri pada petugas jaga Gn. Ceremai jalur Apuy, Bapak Suljo yang dikenal juga sebagai kuncennya.

  diary ‘hijjau’…

Pos I yang berjarak tempuh 1 jam perjalanan dapat kutemui dipinggiran hutan Gn. Ceremai, di tengah ladang penduduk. Setelah itu mulailah memasuki hutan, pohon-pohon yang tinggi, semak-semak yang rapat, udara yg lembab/basah menjadi ciri khas hutan tropis. Dinginya udara, kicauan burung , bisikan angin, serta belaian kabut membuai mahluk yang berada disekelilingnya. Ditengah perjalanan menuju Pos II kutemui aliran sungai kecil yg jernih untuk mengisi persediaan air. Satu jam sudah perjalanan ini, akhirnya Pos II-Perempatan Lima  pun aku capai.

diary ‘hijjau’…

 Suasana siang itu masih terasa sepi sekali tak ada pendaki lain yang terlihat. Ketenangan dan kedamaian tampak terasa, obat yang tak akan mampu diracik tangan manusia yang menjadi penyembuh segala macam penyakit didunia ini J. Pendakian ini terasa lama, tak ada gelak tawa dan canda yang terdengar. Hanya desahan nafas yang memburu seirama ritme pendakian, sesekali keluar kata-kata yang menyanjung Sang Penguasa Alam Semesta. Hanya 10 menit aku beristirahat di pos ini. Hari ini cuaca cukup bersahabat, udara yg lembab, sesekali sinar matahari ikut membagi keceriaanya menembus atap-atap rimba. Tak ketinggalan kabut pun berlomba-lomba memenuhi seisi hutan ini, menambah suasana semakin mengasyikan (serem maksudnya!!!J). Lalu setelah itu cuaca menjadi mendung dan suara geledek terus mengikuti setiap langkah kaki ini.

diary ‘hijjau’…

 Satu jam sudah Pos II terlewati, tampak lah Pos III-Tegal Mawasa 2400 Mdpl didepan mata. Saat itu menunjukkan pukul 15:20, tak lama aku beristirahat disana, lalu aku bangkit dan mendaki lagi. Hari semakin senja keadaan dihutan semakin gelap. Aku berpikir mencoba menganalisa situasi dan keadaan dilapangan. Tadinya aku akan memdirkan tanda di Pos V, namun karena keadaan yg tidak memungkinkan, aku harus camp di Pos IV saja. Pendakian semakin ku percepat untuk segera sampai disana. Setelah lima puluh menit, akhirnya sampai juga di Pos IV, saat itu jam menunjukkan pukul 16:10.

diary ‘hijjau’…

 Disana tertulis Pos IV-Tegal Jamuju (2.600 Mdpl), aku pun tak buang-buang waktu lagi. Segera ku bongkar carrier dan mengeluarkan tenda yang cukup utk 3 orang. Sekitar 15 menit, tenda pun telah berdiri. Bersamaan dengan itu hujan pun mulai membasahi lantai-lantai hutan. “Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang”.  Setelah semua peralatan masuk tenda, aku pun mulai memasak nasi. Perut yg belum diisi semenjak pagi mulai berontak. Aku hanya membawa perbekalan seadanya, 4 potong roti dan 1/5 liter beras saja. Menjelang maghrib mencoba utk beristirahat sejenak, lalu jam 20:00 aku terbangun. Keadaan tenda yg gelap gulita karena sengaja aku tak menyalakan lilin. Lalu shalat dan membereskan peralatan kemudian melanjutkan istirahat. Tak ada aktifitas yg berarti, suasana Diluar begitu mencekam. Bunyi air hujan, suara-suara binatang malam, deru nafas angin, gesekan dedaunan bersatu menyanyikan lagu Sang Alam.

diary ‘hijjau’

 Pagi-pagi menghangatkan nasi sisa semalam, lalu sarapan pagi. Lalu diteruskan dgn packing peralatan ke dalam carrier. Jam 8:20 aku lanjutkan pendakian yg tertunda menuju puncak. Jalur yg dilalui semakin menanjak dan lumayan terjal dengan keadaan medan yang licin akibat seringnya hujan. Pos V-Sanghiang Rangkah (2800 Mdpl). Aku coba beristirahat sejenak sambil meluruskan kaki dan melonggarkan beban yg ada di pundak, saat itu pukul 9:05. Sambil menikmati roti yang tersisa, tampak MOMON (begitu panggilan mesra-ku utk mahluk cantik yg katanya adalah nenek moyang kita J) berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Begitu ceria dan jenaka, seolah tak ada beban kehidupan. Kabut dengan setia terus menemani, ditengah perjalanan aku bertemu dgn rombongan pendaki dari Jakarta, akhirnya bertemu juga dengan sesama J.

 diary ‘hijjau’…

 Aku putuskan untuk meninggalkan semua beban yang kubawa di tepi jalur pendakian, dengan pertimbangan cuaca yg semakin memburuk sehingga aku harus segera sampai di puncak. Tanpa beban aku semakin leluasa bergerak dan semakin cepat pendakian ini. Tak lama kemudian  sampailah di Gua Walet 2950 Mdpl. Tampak disisi kanan terlihat Gua yang cukup nyaman utk camp atau berteduh. Namun aku tak langsung turun utk melihat gua itu, “mungkin setelah turun dari puncak saja”’ pikirku.

 diary ‘hijjau’…

 Kabut semakin menjadi-jadi, Jarak pandangan hanya berkisar 10 m saja. Aku cukup merasa khawatir juga dengan keadaan cuaca yg mulai tak bersahabat ini. Pendakian semakin ku percepat, dgn berlari-lari kecil diantara batu-batu karang ku terus mendaki. “ALHAMDULILLAH :)!!!", puncak Ceremai tergapai sudah. Untuk kedua kalinya tanah tertinggi di Jawa Barat ini aku kunjungi lagi, saat itu tepat pukul 10:45.  Pohon Cantigi yg  belum berbuah, pohon Edelweiss yang masih segar. Tampak pula kawah yg berwarna hijau kebiruan terisi air hujan. Puncak yg sepi, begitu kuat kebisuan tercipta disana, hanya kepakan sayap-sayap burung diatas sana.

 diary ‘hijjau’…

 Semua beban terlepas sudah. Alam telah memberiku penawar racun dunia, semoga ini tak hanya sementara. Lima belas menit aku berada dipuncak, suara gemuruh kilat menggelegar, tanda akan segera turun hujan. Segera aku turun sambil berlari-lari, tak berapa lama hujan pun turun. Cepat-cepat aku menuju gua untuk berteduh, baru saja aku memasuki gua, hujan menjadi reda. “Wah, sepertinya Gua ini hanya ingin aku menjenguknya walaupun sesaat”, bathin ku berkata. Kuliat-lihat sebentar kadaan di sekitar gua tak lama kemudian kulanjutkan perjalanan. Sambil terus berlari ku turuni batu-batu, tak lama berselang hujan kembali turun, saat itu telah sampai ditempat aku menaruh barang-barangku. Lalu kuambil ponco dan melanjutkan perjalanan. Deras-nya hujan tak membuat surut langkahku untuk segera sampai dibawah.

diary ‘hijjau’…

 Akhirnya sampai juga di pos I setelah bergelut selama hampir 3 jam. “Wuuiiihhhh, cepat juga perjalanan turun ini, hanya ditemput dalam waktu tiga jam”, senyum ku dalam hati. Sepertinya hujan terus saja mengikuti ku, selangkah demi selangkah sepertinya lama sekali. Hujan yg semakin deras dan fisik yang semakin menurun memperlambat jalan-ku. Lalu aku melihat rumah-rumahan di tepi ladang, tampak asap mengepul dari perapian didalamnya. Tak ku sia-siakan untuk mampir dan berteduh disana. “Kebetulan sekali”, pikirku. Aku mendatanginya dan mengucapkan salam, Pintu dibuka, sambil berbasa-basi dgn logat sundaku yang halus dan mereka mempersilahkan masuk. Tampak sepasang petani yg ternyata juga sedang berteduh. Disana aku bisa menikmati ubi dari pohon disekeliling gubuk itu. “hhhmmmm…enak sekali rasanya, hujan-hujan seperti ini menikmati ubi bakar yang manis”.


:: Back To Top ::

 

Merapi  Selatan 1-2 Jan 2004

Setiap kali melihat Merapi, seperti ada daya magis terpancar dari gunung itu. Terbesit perasaan yang sulit dilukiskan saat itu. Seolah tak percaya dgn pemandangan yg ada didepan mata. Saat itu 2 tahun yg lalu, pertama kalinya menginjakan kaki di bawah Merapi (Jalur Selo / Utara) yg begitu tegar menantang sang awan. Timbul keraguan, apakah mungkin dia dapat didaki menggapai puncak Garuda? Bila melihat dari kejauhan, sepertinya mustahil mendaki kesana, dgn kontur dan bebatuan yg terlihat sangat labil serta kemiringan yang sangat tajam. Wuuihhh…seperti ‘mission impossible’ saja, namun akhirnya patut dicoba untuk menggapai puncaknya. Ternyata…semua keraguan terjawab sudah, Puncak Garuda akhirnya dapat ku peluk, dengan berbagai resiko yg harus dihadapi.

Sore itu pukul 15.30 sore, kembali ku pandangi kegagahan Merapi dari sisi Selatan. Apa yg terlihat sungguh sangat mencengangkan. Dulu ku-berpikir Merapi Utara / Jalur Selo tak mungkin bisa didaki sampai puncak. Ternyata jalur yg kulihat sore itu sungguh tak pernah terbayangkan. Dengan pemandangan yang lebih extrem dari Merapi Utara / Selo. 

Jam menunjukkan pukul 21.00, saat itu kami baru saja mendirikan tenda di Pos IV Merapi. Hampir 4 jam kami melakukan pendakian malam itu. Dengan cuaca yg sangat bersahabat dan angin yang bertiup dengan kencangnya, menusuk persendian. Namun pemandangan yg indah membuat rasa lelah, pegal dan dingin bagai tak terjamah. Malam itu sengaja kami membuat tenda lebih awal untuk memulihkan tenaga dan melanjutkan pendakian esok harinya menuju Puncak.

Pagi itu sekitar pukul 7, tampak 3 pendaki mulai merayapi tebing-tebing terjal, yang didampingi lembah serta jurang-jurang yg siap menyongsong tubuh-tubuh yang tak berdaya. Batu-batu cadas yang harus dilalui, memotong pinggir jurang untuk mencari jalur pendakian karena banyak jalur yg blank. Kadang hrs merangkak, bergelantungan pada dinding jurang, membuat tanda untuk jalur pendakian agar tak tersesat. Jalur yang dilalui adalah jalur yg dahulu sering dikunjungi pendaki, namun setelah letusan tahun 90-an, maka yang ada hanyalah jalan lahar yg tak lagi layak utk pendakian. Perlahan tapi pasti tampak 3 titik yg terus bergerak merayap pd dinding-dinding tebing Selatan Merapi. Angin kenyang dan licinya bebatuan, serta tajamnya karang tak mampu menghentikan niatnya untuk bisa merasakan keindahan Sang Pencipta.

Satu jam sudah perjuangan itu terlewati, jalur yg dilalui semakin sulit dan harus memutar  ke Timur memotong dan melintas jurang yang menjadi aliran lahar ketika Sang Alam memuntahkan amarahnya. Sungguh panorama yang disajikan membuat mata ini takjub dan terpancar rasa kagum atas kemurahan Sang Pencipta atas kesempatan yg diberikannya. Pendakian yg dilakukan memang hrs menerapkan semua kemampuan kita. Teknik memanjat, dan membaca medan harus benar-benar teliti. Setiap jejak langkah adalah nyawa taruhannya. Kelengahan, kesombongan serta kurangnya pengalaman mungkin bisa menjadi makanan empuk jurang dibawah sana. Disinilah alam menggembleng kita dengan kearifannya agar kita bisa laku santun dan bertindak dengan hati nurani.

:: Back To Top ::
Pendakian Kerinci 3800 Mdpl 14-20 Agustus 2001

 

Pagi itu sekitar jam 09.00 aku sudah menunggu di terminal Rawamangun menunggu teman-teman pendaki yang belum pernah bertemu (aneh yaaaaa...!!!), maklumlah aku kenal meraka lewat dunia cyber. Pokoknya yang membawa carrier besar pasti mereka. Satu jam sudah aku bengong sendiri."Aduh..., mana sich mereka. Janji jam 09.00 kok belum juga muncul", gerutu-ku dalam hati. Bayangin aja udah 1 jam aku dibikin seperti patung.

"Hhmm, kayaknya salah satu dari mereka datang." Tebak-ku dalam hati. ternyata benar dugaanku, baru Risa yang datang. Tapi kemana yang lainnya...?. Aku dan Risa menunggu lagi dengan gelisah, karena yang lain belum juga tampak batang-hidungnya. Waktu sudah menunjukkan jam 10.20. Akhirnya satu persatu dari mereka datang, pertama Widias lalu disusul Ali kemudian Joe dan Lydia dan terakhir Eric orang yang paling dicari (abis dia sich yang pegang ticketnya hehehehe). Sudah beberapa kali nama Eric CS dipanggil oleh operator untuk segera melapor karena bis yang akan kami tumpangi akan segera berangkat. "Save by the bell ", karena pada saat-saat terakhir semuanya baru kumpul.

    Perjalanan pun dimulai saat jarum jam menunjukan angka 10.55. Di dalam bis kami mulai mengakrabkan diri sambil bersenda gurau. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk saling mengenal, karena saat itu juga sudah saling bercanda dan tertawa. Perjalanan yang kami lalui begitu panjang dan melelahkan. Jam 11.00 siang tiba di kota Bangko - Jambi. Itu berarti 24 jam sudah perjalanan kami lalui. Dari Bangko perjalanan dilanjutkan menuju Sungai Penuh yang memakan waktu sekitar 4-5 jam, dengan pemandangan yang tidak membosankan. Dari Sungai penuh berganti kendaraan menuju Kayu Aro sekitar 1-2 jam perjalanan, disana dapat dijumpai perkebunan teh yang indah yang menghampar luas di kaki gunung Kerinci. Hari itu kami bermalam di rumah Misdi yang baru saja kami kenal sore harinya. Keluarga mereka begitu ramah dan baik mau menerima kami apa adanya.

    Pagi jam 08.00 tampak serombongan pendaki memulai perjalananya. Setelah sebelumnya melaporkan diri pada petugas Penjaga kawasan Taman Nasional kerinci Seblat (TNKS). Awal pendakian dari Pintu Rimba dengan keadaan medan yang dilalui masih normal sampai ke Pos I. Sepanjang perjalanan tidak menemui kesulitan karena didukung cuaca yang sangat bersahabat. Selanjutnya perjalanan dari Pos I ke Pos II kami lalui dengan santai sambil menikmati pemandangannya. Keadaan alamnya tak jauh berbeda dengan Taman Nasional Gede - Pangrango (TNGP). Jenis tumbuhan dan faunanya hampir sama saja. Hutan Tropis yang begitu familiar dengan-ku. Setelah sekian lama kami sampai juga di Salter I (Pos III), disana terdapat mata air sehingga para pendaki bisa mengisi perbekalan air. Dari situ kamu lanjutkan perjalanan menuju Salter II. Medan yang dilalui terasa lebih sulit dan terjal. Karena terkadang harus memanjat akar-akar pohon. Pemandangan menuju Salter II agak terbuka, sehingga kita dapat melihat punggungan sebelah kiri dan dapat melihat desa-desa di bawahnya. Dalam pendakian kami banyak berkenalan dengan pendaki yang lainnya. Mereka kebanyakan dari daerah Jambi dan Padang. Ada pula sebagian dari Aceh, jakarta, bahkan dari Bandung.

    Selama pendakian aku berada paling belakang. Mungkin sudah menjadi kebiasaanku, bila pendakian beregu aku hampir selalu ada dibelakang. Karena aku paling senang menjadi motivator. Dan biasanya aku menjadi lebih cerewet (untuk hal yang positif loh...). Selama berada di belakang bersama Risa atau Eric, kami pun ditemani oleh Hendry, pendaki asal Padang. Dengan setia dia menemani pendakian ini. Kami saling bercerita, tertawa dan saling bertukar makanan. Saat-saat seperti inilah pendakian menjadi sangat berkesan. Kekompakan, rasa saling menghormati dan saling tolong-menolong menjadi bagian yang begitu penting.

    Akhirnya kami sampai di Salter II menjelang maghrib, disana sudah penuh terisi oleh tenda-tenta pendaki. Kami harus mencari tempat untuk mendirikan tenda. Kami mendapatkan tempat untuk mendirikan tenda agak miring dan mau tak mau harus merapikan tempat tsb. Saat mendirikan tenda kami berkenalan dengan Tommy and Iin, pendaki dari Jambi.

    Pagi-pagi sekali jam 03.30 memulai pendakian menuju puncak Kerinci. Medan yang ditempuh semakin sulit apalagi suhu udara yang sangat dingin dan angin yang berhembus cukup kencang. Salter III pun kami lalui, itu adalah batas daerah vegetasi. Setelah itu yang terlihat hanyalah jalan berbatu, mirip dengan jalur menuju puncak Semeru. Disini pendaki mulai berhati-hati karena batu-batuan yang labil, bila salah melangkah maka batu-batuan akan jatuh menggelinding ke bawah dan itu sangat membahayakan keselamatan pendaki dibawahnya. Suhu yang begitu dingin dan hembusan angis yang kencang menjadikan tubuhku menggigil. Tapi semua itu tak menghalangiku untuk terus mendaki menggapai atap Sumatera. Kadang aku pun menghawatirkan teman-temanku yang lainya.

    Hari itu lumayan banyak pendaki, kadang harus antri . Karena cukup rapat aku mengambil jalan yang ada disebelah kanan jalur pendakian. Jalan itu sangat menanjak dan licin. Aku pilih jalur ini agar antrian dibawah tidak menjadi panjang. Namun apa yang aku lakukan mengandung resiko yang tinggi. Baru beberapa langkah aku mendaki, tiba-tiba aku sadari bahwa aku tak mungkin terus mendaki melalui jalur ini. Namun aku tetap saja mencobanya. Tiba-tiba aku tergelincir beberapa meter ke bawah. Pendaki yang berada di jalur umum berteriak memperingatkanku. Beruntung aku, saat terperosok aku sempat meraih batu karang yang lumayan kokoh yang mampu menahan laju tubuhku. " ALHAMDULILLAH", aku memanjatkan puji syukur kehadirat-Nya. Namun posisiku tak menguntungkan untuk bertahan lama. Pada saat-saat seperti itu timbul pikiran-pikiran negatif dan terbersit perasaan putus asa dan menyerah. Untuk beberapa saat aku terdiam, berusaha menanamkan rasa percaya diri untuk terus bertahan. "Kenapa mesti aku yang harus menjadi korban...? Ini 'nggak boleh terjadi !!!!" Begitu tekadku dalam hati.

    Akhirnya aku putuskan untuk melompat ke jalur normal. Sebelumnya aku kasih tau Widias bahwa aku akan melompat ke jalur normal yang terdapat banyak pasir-pasir halus. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku melompat juga. "Alhamdulillah, aku selamat". Setelah keadaan tenang aku melanjutkan pendakian-nya. Diperjalanan  menuju puncak aku menemui batu nisan yang bertuliskan nama seorang pendaki yang tewas. Pendakian semakin ku percepat, angin bertiup semakin kencang dan suhu udara yang membuat tubuhku beku.

    "ALHAMDULILLAH ALLAHU AKBAR...!!!" pekik-ku dalam hati saat kugapai gunung tertinggi di Sumatera yang begitu ku impikan. Saat itu menunjukkan jam 6.00, moment yang begitu menggembirakan. Pemandangan dari puncak cukup mempesona, di bawah tampak Gunung Tujuh dengan danau Gunung Tujuh tepat di tengah-tengahnya. Namun sayang kawah kerinci tertutup kabut tebal, sehingga tak bisa menikmatinya. Di areal puncak kulihat para pendaki sedang mengabadikan keberhasilnya, adapula beberapa pendaki yang memotong rambutnya sebagai tanda kegembiraan mereka. Aku tak lama berada di puncak karena udara yang begitu menusuk tulang, setelah 15 menit berada di puncak aku putuskan untuk segera turun.

    Diperjalanan pulang kami melanjutkan pendakian ke Danau Gunung Tujuh. Pemandangan disana begitu indah dan sangat mempesona.   Akhirnya Aku dan Widias harus pulang ke Jakarta, sedangkan Joe, Lydia, Eric, Aly dan Risa menuju Muara Enim. Kami pun berpisah. Dalam perjalanan pulang berbagai perasaan berkecamuk di dada ini, ada seribu cerita yang ingin ku-katakan pada teman-temanku.

 --------------------------------------------------------------------------------------

Special Thanks to :

                      -  Misdi and Family yang begitu baik mau menerima kami
                      -  Hendry and temannya yang menjadi teman pendakian yang menyenangkan
                      -   Anton and the gang yang mau memandu kami di Gunung Tujuh

 Semoga kita bisa bersama lagi di pendakian yang akan datang.

:: Back To Top ::

Pendakian ke Gn. Salak 2211 Mdpl 28 Des '93 - 3 Jan  '94

 Ajakan yang tak terduga datang dari kakakku untuk ikutan mendaki Gunung Salak. Dengan senang hati aku terima ajakan itu. Hanya dengan membawa 2 helai pakaian dan 1 celana pengganti aku berangkat dengan mereka. Peralatan mendaki yang cukup komplit yang aku punya tidak kubawa. Aku cukup nekat ikutan mendaki, karena seminggu lagi aku menghadapi Ujian Semester III.

 Hari pertama peserta berjumlah 5 orang (Aku, Dede [kakak laki-laki], Umi [kakak perempuan], Hedi [saudaraku], Iwan [teman kakakku]). Kami menginap dirumah Pak Dana penduduk setempat kenalan kakakku. Paginya kami berangkat dengan mengajak Pak Dana ikut serta. Perjalanan cukup menggembirakan dengan cuaca yang cukup cerah (padahal sedang musim hujan).

 Setiap 2 jam kami beristirahat sejenak. Perjalanan baru kami lalui selama 3 jam, tiba-tiba turun hujan dengan lebatnya. Namun begitu kami tetap melanjutkan perjalanan tanpa sedikit pun merubah rencana semula. Tak seorang pun yang memakai ponco atau pun rain coat sehingga kami semua basah kuyup, begitu pula dengan barang bawaannya. Jalan yang kami lalui tak pernah terpikirkan akan begitu berat dan sulit. Kadang kami harus merangkak atau merayap. Udara yang semakin dingin dan beban yang semakin berat, yang membuat perasaanku semakin tak menentu.

 Hampir setiap 10 menit aku berdiri mematung untuk mengusir rasa lelah. Jalanan yang semakin licin, hawa dingin, rasa haus, dan lelah begitu menusuk. Membuat perjalanan ini semakin menyiksa. Dengan tertatih-tatih kami terus mendaki.

 Ketika harus menyeberangi jembatan yang tak terlalu panjang, tetapi di sisi kanan dan kirinya, "Oh, Tuhan...!", ternyata telah terbantang jurang vertikal yang sangat dalam tanpa ada sesuatu pun yang menghalanginya. Aku gemetar ketakutan begitu melihat jurang yang menganga lebar siap menerkam tubuh ini. Disaat perasaan lelah, pegal, dingin serta pikiran yang semakin kalut, ingin rasanya aku meloncat ke sana. Begitu pula halnya dengan kakak perempuanku, dia bahkan sampai menangis, 'nggak mau menyeberangi jembatan itu.

 Pendakian semakin berat saja, beban yang ku bawa seakan-akan menindih tubuhku, akhirnya aku memanggil saudaraku untuk bergantian membawa ransel. Hujan semakin deras dan aku semakin menggigil kedinginan. Ditengah derasnya hujan kami membuka perbekalan dan minum air hangat.

 Tigaratus meter menjelang puncak (sebelumnya kami tidak tau), kakak perempuanku sudah tak kuat untuk terus mendaki. Dia menggigil, dengan muka yang pucat serta kejang dibeberapa bagian tubuh. Akhirnya kami putuskan untuk mendirikan bivak dengan menggunakan selembar ponco dan plastik berukuran 1x2 meter yang sobek disana-sini. Dengan tangan beku dan rasa dingin yang menusuk tulang, kami terpaksa memdirikan bivak. Tangan sepertinya tak mempunyai rasa ketika aku menggenggam pisau atau tambang. Dibawah guyuran hujan akhirnya bivak-pun berdiri. Aku mengalami kram di paha, saudaraku mengalami kram perut dan yang lainya merasa pusing. Selama 6 jam kami diguyur hujan, akhirnya hujan pun reda. Kami masak supermi dan membuat minuman hangat. Malam hari kami tidak bisa tidur dengan baik, karena keadaan bivak sangat sempit dan harus ditempati 6 orang.

 Malam yang menyiksa itu pun akhirnya dapat kami lalui. Paginya kami lanjutkan pendakian menuju puncak dengan mengenakan pakaian basah yang kemarin. Tak seberapa lama kami berjalan akhirnya puncak Gunung Salak kami gapai. Tepat ditengah-tengah puncak terdapat makam yang cukup tua, namun masih jelas terlihat. Belum sempat kami memeriksanya, hujan kembali turun. Semua menggigil kedinginan dan memaksa kami untuk membuat bivak lagi.

 Malam itu tanggal 31 Desember 1994, itu berarti malan tahun baru. Kami merencanakan untuk berphoto bersama tepat pada jam 00.00 tengah malam nanti. Namun ketika saatnya tiba hanya aku dan saudaraku yang masih terjaga, sedangkan yang lainnya tertidur dengan lelap karena kelelahan. Ketika jam hampir menunjukkan jam 24.00, sayup-sayup Aku dengar suara terompet dan ledakan petasan jauh di bawah sana. Bulan yang bersinar penuh tampak begitu mempesona dengan beberapa warna pelangi yang melingkar mengelilinginya. Ingin Aku mengabadikan pemandangan tersebut, namun kameraku tak mampu mengabadikannya. Malam itu Aku mencoba untuk memejamkan mata, namun hal itu tak bisa Aku lakukan. Angin bertiup begitu kencang, suaranya bergemuruh seperti topan yang sedang mengamuk.

 Pagi harinya setelah sarapan indomie, kami pun bersiap-siap untuk turun. Pakaian yang kami kenakan diganti dengan pakaian bekas kemarin yang basah. Sebelum turun kami sempat berziarah ke makam tua tersebut. Setelah itu barulah perjalanan dilanjutkan dengan menempuh jalur Sukamantri dan bermaksud memotong kompas ke arah Kawah Ratu. Begitu rencananya. Jalan yang dilalui begitu terjal dan licin. Aku terpaksa bertelanjang kaki agar tidak selalu terjatuh. Kadang untuk bisa turun terpaksa harus menggunakan tambang. Perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan.

 Kami mengikuti tanda-tanda yang telah ada, yang dibuat oleh MAPA JUANDA, BASARNAS ataupun oleh Pecinta Alam lain. Setelah 3 jam perjalanan melalui jalur resmi, kami memotong kompas dengan membuat jalan sendiri, dan sebagai pemandu adalah Pak Dana yang hanya berbekal sebilah golok. Selama 4 jam kami menyelusuri hutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di perjalanan lagi-lagi kami harus menerima guyuran hujan yang sangat lebat. Dan selama perjalanan pula aku sering menginjak duri atau pun batu-batu tajam serta pacet yang menggerayangi kakiku. Dan itu membuatku tersiksa selama perjalanan. Pacet-pacet yang menempel dikakiku dan darah yang mulai mengering tak lagi dihiraukan.

Sepertinya perjalanan itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sampai akhirnya kami sadari, bahwa kami tersesat. "OhTuhan...!" Seru bathinku. Dan tak terasa Aku terkencing dicelana. Yang tersirat dibenakku adalah kejadian yang menimpa anak-anak STM dari Jakarta, yang menelan 7 korban di gunung ini. Aku berdo'a dan memohon lindungan-Nya. Dalam hatiku Aku memohon agar kami tidak mengalami hal buruk seperti anak-anak STM itu. Dan bila harus ada korban biarlah Aku saja, asalkan yang lain selamat. Itu pintaku. Dan bila kami semua selamat Aku berjanji akan memotong ayam sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

Hari mulai sore dan kami masih saja terjebak dengan lebatnya hutan dan derasnya hujan. Akhirnya diputuskan untuk membuat bivak dari batang pohon dan daun-daun. Persediaan makanan hanya tersisa terigu 1/4 kg. Untuk menghemat terpaksa setiap orang mendapat sekerat terigu goreng. Pak Dana terpaksa memakan sejenis umbi-umbian. Aku tadinya ingin sekali memakannya, namun Pak Dana melarangnya karena bila tak terbiasa akan keracunan. Malam itu kami pun tak bisa tidur karena bivak yang kami buat tidak melindungi kami dari terpaan angin.

 Pagi itu perjalanan terus dilanjutkan dan mencari jalur yang benar. Sebagai keputusan terakhir kami sepakat untuk menelusuri sungai dan berharap sungai itu tak banyak bercabang. Selama berjam-jam kami terus menelusuri sungai, terkadang harus masuk hutan bila menemui jeram.

 Dengan ketabahan dan keinginan yang kuat untuk pulang, akhirnya kami sampai di Kawah Ratu. Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, dan berteriak melepaskan kegembiraan yang tak terkira. Lalu kami pun langsung pulang ke rumah Pak Dana, rindu rasanya ingin merasakan nikmatnya makan nasi. Sampai di rumah kami disuguhi nasi dengan lauknya ikan asin serta lalapan. Kami makan begitu lahap seperti orang yang baru mendapatkan nasi. Malamnya Aku memenuhi janji-ku untuk memotong ayam sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah SWT.

 Paginya sepulang dari Curug Seribu dan memetik buah gambas, kami pun pamit pada Pak Dana dan keluarganya, serta tak lupa mengucapkan terima kasih. Dengan langkah yang agak terpincang aku terus melangkah pulang. Walaupun dalam perjalanan pulang diguyur hujan, kami sudah tak peduli lagi. Semua rindu dengan kasur yang empuk dan selimut yang hangat serta makanan-makanan lezat.

 Dan satu lagi yang penting. Besok Aku harus menghadapi Ujian Akhir Semester III.

Disana untuk pertama kali 'HIJJAU' terlahir, yang akan membawa sebuah perubahan pada diri ini.

 :: Back To Top ::
Pendakian ke Gunung Agung  3145 Mdpl 26 Juli - 2 Agustus '94

  

Menjelang liburan akhir semester Aku bingung akan pergi kemana. Yang menjadi harapanku adalah dapat pergi mendaki gunung ke Jawa Tengah atau Jawa Timur, bahkan kalau bisa keluar Pulau Jawa. Namun hal itu menimbulkan keraguan dalam hatiku. Aku perlu seorang temen untuk pendakian tersebut, namun tak satu pun teman-temanku yang mau ku ajak. Akhirnya dengan perasaan ragu Aku putuskan untuk pergi ke Bali dengan tujuan mendaki Gunung Agung seorang diri (pokoknya nekat dech).

 Selama beberapa hari Aku sibuk mengurus surat jalan. Mulai dari RT, Kelurahan sampai Kantor Polisi. Setelah selesai semua urusan, lalu Aku mulai packing peralatan-peralatan yang akan dibawa dan check ke Stasiun Kota untuk mengetahui jadwal kereta api.

 Pagi itu pukul 9.00, Aku berangkat setelah berpamitan pada orang tuaku. Dari Bogor Aku naik kereta ke Jakarta, lalu Aku berganti kereta. Di Jakarta naik jurusan Surabaya (KA. Jayabaya).

 Dari Jakarata kereta berangkat jam 13.30 dan sampai di Surabaya jam 6.00. Lalu perjalanan dilanjutkan ke terminal Surabaya. Dari sana Aku naik Bis VIP jurusan Denpasar. Perjalanan ini pun membuatku lelah. Apalagi ketika menyeberang dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) ke Pelabuhan Gilimanuk (Bali) Aku hampir saja mabuk laut.

 Akhirnya perjalanan yang sangat melelahkan ini berakhir di terminal Ubung Denpasar. Saat itu menjelang malam, lalu Aku putuskan untuk bermalam di Pantai Kuta. Namun belum sampai di Pantai Kuta, Aku tersesat di Kota Denpasar. Ini disebabkan karena mobil yang Aku tumpangi tak bisa melanjutkan perjalanan dikarenakan jalanan menjadi macet akibat ada upacara Ngaben. Maka Aku putuskan untuk mencari kantor polisi terdekat sebagai tempat untuk bermalam sementara. Selama beberapa jam Aku berjalan mengelilingi Kota Denpasar.

 Malam semakin larut dan Aku semakin kebingungan di kota yang begitu asing bagi-ku. Selama 2 jam Aku berjalan mengelilingi Kota Denpasar. Karena kantor polisi belum juga ku temukan, akhirnya Aku putuskan untuk pergi ke Pantai Kuta lagi. Di perjalanan menuju Pantai kuta Aku berkenalan dengan tiga orang teman. Aku beruntung karena mereka telah mengenal Denpasar dengan baik. Dengan bantuan mereka akhirnya aku sampai di Pantai Kuta yang sangat terkenal dengan keindahannya itu. Namun maksudku untuk bermalam di sana tak kesampaian, karena mereka bilang bahwa bermalam di Pantai Kuta tidak aman karena sering terjadi peristiwa yang tidak baik. Akhirnya kami mencari tempat lain untuk melepas lelah. Mulanya kami tidur-tiduran di pinggir pertokoan, tetapi kemudian pindah ke pos ronda yang berada tak jauh dari Pantai Kuta.

 Esoknya kami pergi ke Pantai Kuta sekedar berphoto bersama dan juga untuk 'cuci mata'. Pemandangan disana begitu indah dengan ombak Pantai Kuta yang saling kejar-kejaran. Dan yang membuat mata ini semakin terpana tak kala turis-turis asing dengan asyiknya mereka berjemur menikmati mentari pagi tanpa memakai bra. Permata kali Aku melihatnya, Aku jadi malu sendiri (tapi sayik lho...!). Namun lama-lama terbiasa juga dengan keadaan disana. Menjelang sore, setalah kami cukup berkeliling akhirnya Aku harus berpisah dengan tiga orang temanku yang baru ku kenal. Aku melanjutkan perjalanan ke Karang Asem. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih, Aku pun berpisah dengan mereka.

  Dari terminal Ubung Aku naik angkutan kota menuju terminal Batu bulan, kemudian dilanjutkan ke Karang Asem dengan bis kota. Di perjalanan Aku kembali berkenalan dengan seorang yang tinggal di daerah Karang Asem. Oka Ambara namanya, dia tinggal di dekat Candi Dasa dan bekerja sebagai Manager sebuah Agen Biro Perjalanan. Kami saling bercerita dan bertukar kartu nama. Setelah sekian lama bercerita, dia mengajakku untuk menginap dirumahnya. Selain itu dia memberikan alternatif lain yaitu bila Aku menolaknya maka dia akan mencarikan penginapan untukku. Tadinya Aku akan menginap di kantor Polisi Karang Asem, namun karena mendapat tawaran untuk menginap, akhirnya Aku terima ajakannya. Selain itu ternyata Gunung Agung yang akan ku daki ternyata sudah jauh terlewati. Aku diajak ke rumahnya, ternyata dia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama istri dan seorang anaknya. Mas Oka dan keluarganya begitu baik dan penuh perhatian.

  Pagi-pagi Aku harus meneruskan perjalanan ke Gunung Agung. Aku pamit pada mereka, dan tak lupa Aku mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan mereka. Aku harus kembali menuju arah Denpasar yaitu ke Klungkung. Sampai di Klungkung Aku naik angkutan kota jurusan Besakih (Pura Besakih). Diperjalanan Aku berkenalan dengan Tri yang juga mau ke Candi Besakih. Tri berasal dari Bekasi, dia sedang berlibur selama beberapa hari di Bali. Sesampai di dekat Candi Besakih, Aku langsung melaporkan diri ke Pos Polisi untuk meminta ijin pendakian. Ternyata ijin pendakian disana begitu mudah. Aku hanya menyerahkan KTP Asli, mereka langsung mengijinkan ku untuk mendaki. Sebelum memulai pendakian Aku dan Tri berkeliling Pura Besakih yang merupakan objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan asing maupun domestik. Disana Aku dan Tri berphoto bersama. Setelah puas berkeliling, Aku pun bermaksud memulai pendakian pada jam 12.00 dan harus berpisah dengan Tri.

  Penjaga Pos maupun penduduk sekitar merasa terkejut mengetahui Aku akan mendaki seorang diri. Mereka kagum sekaligus heran. Pendakian baru saja dimulai. Selama dua jam Aku mencari-cari jalur utama pendakian dari pinggiran hutan pinus. Hari begitu panas dan persediaan air sudah banyak terpakai. Akhirnya Aku temui juga jalur utama pendakian menuju Gunung Agung. Aku merasa lega dan pendakian pun terasa semakin mengasyikan. Diperjalanan Aku bertemu dengan tiga orang wisatawan mancanegara (1 pria, 2 wanita) yang turun dari puncak. Aku sempat ngobrol dengan mereka walaupun dengan bekal bahasa Inggris yang kacau.

  Ketika jam menunjukkan pukul 16.00 WITA, Aku putuskan untuk istirahat. Aku pun membuat bivak dari ponco yang selalu ku bawa, lalu Aku memasak supermi. Setelah semua selesai Aku pun pergi tidur. Tidurku tak lelap karena dihinggapi rasa takut dan kesepian yang sangat. Saat akan tidur Aku persiapkan golok tebas disamping kiriku, pisau komando di samping kananku, dan pisau genggam kutaruh di dadaku. Yang aku takutkan bukanlah binatang buas ataupun orang jahat, tapi yang paling Aku takutkan adalah sesuatu hal yang berbau ghaib. Aku berpikir kalau ada binatang buas atau orang jahat, Aku masih bisa menghadapinya. Tapi bila hal-hal ghaib yang Aku hadapai, entah apa jadinya. Walaupun dikeheningan malam Aku selalu berdo'a dan memohon perlindungan-Nya, namun rasa takut itu tak kunjung hilang. Sekitar jam 2.00 tengah malam Aku dikejutkan oleh suara-suara langkah yang begitu menggema. Aku terkejut dan tiba-tiba rasa takut yang begitu besar hinggap pada diriku. Dengan debar jangtung yang begitu cepat dan rasa takut yang sangat, Aku mencoba melihat keluar bivak dan menunggu apa yang akan terjadi. Lalu terlihat olehku cahaya-cahaya senter serta suara-suara langkah kaki yang berat. Lalu Aku tersadar bahwa itu adalah para pendaki yang sedang mendaki ditengah malam. Mereka melangkahi bivak yang Aku buat. Sengaja bivak ku buat di tengah jalur pendakian. Setelah mereka lewat dan rasa takut serta terkejutku berkurang, Aku mencoba memejamkan mata.

  Paginya Aku bangun dan memakan beberapa potong biskuit. Karena udara yang dingin Aku pun membuat api untuk menghangatkan tubuh. Saat itulah datang tiga pendaki yang semalam mengejutkannku. Mereka terdiri dari dua orang WNA dan seorang guide. Kebetulan Aku kenal guide itu. Aku pun ngobrol dengan mereka. Sang Guide memanggilku Mas Bogor karena Aku berasal dari sana. Dia memintaku untuk membatalkan pendakian karena melihat persediaan airku yang semakin menipis. Tadinya Aku mengiyakan, tapi setelah mereka pergi Aku lanjutkan pendakian itu (nekat juga yaaa..). Sebelum berangkat, sebagian barang-barang Aku sembunyikan di semak-semak. Pendakian pun dilanjutkan. Pendakian yang ku lalui terasa begitu berat dan melelahkan. Tak ada teman yang bisa di ajak bicara ataupun pendaki lain yang bisa di ajak berkenalan. Disaat-saat itulah ketabahan dan kesabaranku diuji. Sesekali Aku berhenti untuk melepaskan lelah.

  Ditengah pendakian Aku bertemu dengan dua orang pendaki dari Denpasar yang sudah berada di didepanku. Entah dari jalur mana mereka mendaki. Aku pun berkenalan dengan mereka dan sempat mengobrol. Lalu Aku mendahului mereka dan terus mendaki dengan beban yang begitu berat dan terasa menyiksa tubuh ini, sehingga perjalananku semakin mengendur. Hampir setiap 10 menit Aku minum dan beristirahat. Persediaan air yang kubawa semakin menipis dan rasanya semakin membuatku mual, karena sebelumnya telah Aku campur dengan obat tenggorokan. Hal ini membuatku cemas apakah Aku mapu bertahan dan mencapai Puncak Gunung Agung.

  Dengan membulatkan tekad Aku terus, terus dan terus mendaki. Pendakian telah Aku lalui selama berjam-jam dan medan yang kulalui semakin berat, serta tanda-tanda pendakian akan berakhir belum juga terlihat. Dengan segala pertimbangan Aku putuskan untuk meninggalkan semua beban (carrier) yang Aku bawa. Carrier di punggung Aku campakan ke jalan. Badanku terasa lebih ringan dan pendakian semakin Aku percepat.

  Lalu Aku sampai di daerah yang jalurnya menanjak dan jalannya penuh dengan kerikil. Setiap kali Aku berjalan 3 langkah, maka Aku akan tergelincir 2 langkah ke belakang (mundur). Hal ini membuat tenaga ku terkuras. Namun dengan segala kegigihan akhirnya aku mampu melewatinya dan Puncak Gunung Agung semakin jelas terlihat.

  Alhamdulillah...., akhirnya Aku sampai di areal Puncak Gunung Agung. Namun hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba Aku merasa sangat cemas akan persediaan airku. Cepat-cepat Aku menuruni puncak. Belum begitu jauh Aku berjalan, Aku bertemu dengan 2 orang pendaki yang Aku susul. Mereka memintaku untuk berhenti dan menunggu mereka sejenak. Setelah mereka berada di dekatku, kami pun mengabadikannya. Saat itu ingin rasanya Aku meminta sedikit air pada mereka, tapi Aku tak tega untuk itu.

  Perjalanan keteruskan. Sepanjang perjalanan Aku mengemis air. Mataku mengawasi setiap botol air aqua ataupun kotak-kotak air yang lain. Setiap kali Aku menemukan botol aqua bekas atau kotak minuman Aku selalu memeriksanya. Bila ada sedikit air langsung Aku meminumnya. Hingga akhirnya Aku menemukan botol aqua besar berisi air yang cukup banyak. Airnya berwarna kuning seperti air teh (iya kali yaaa....) entah benar atau tidak Aku tak tahu. Aku tak ambil pusing. Ku minum air itu sepuasku, semakin lama Aku minum, semakin aneh rasanya ditengorokanku. Niatku yang tadinya mau menghabiskan air itu, kubuang begitu saja. Baru beberapa puluh meter Aku berjalan, tiba-tiba perutku merasa mual dan sakit. Dan tak lama kemudian Aku pun muntah dan badan ini terasa begitu lelah. Aku ngeri bila membanyangkan keadaan tubuhku ini. Aku beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi badan sambil menenangkan hati ini yang sangat gundah. Setelah merasa baikan aku lanjutkan sambil mencari carrier yang ku tinggal itu.

  Badan semakin letih dan persediaan air yang ku punya tak pernah disentuh. Medan yang kulalui semakin menurun tajam. Karena kakiku mulai goyah akhirnya aku meluncurkan tubuhku kebawah sambil berjongkok. Carrier dan tubuhku penuh dengan debu dan badanku terasa sakit-sakit akibat terbentur akar-akar pohon yang menyembul ke permukaan. Walaupun begitu perjalanan terus ku percepat. Dan sepertinya Aku mendapat kekuatan baru untuk mengakhiri perjalanan ini.

  Aku bertekad untuk sampai di bawah hari ini juga. Aku tidak boleh menginap lagi di Hutan mengingat persediaan air yang sudah habis. Dan yang terpenting Aku tidak siap mengalami lagi rasa sepi dan takut di malam hari. Apapun yang terjadi Aku harus sampai ke pemukiman penduduk di kaki gunung.

  Perjalanan sudah memakan waktu berjam-jam, waktu menunjukan jam 18.00 WITA. Akhirnya Aku sampai di perkampungan. Aku begitu gembira dan sangat bersyukur kehadirat Allah SWT. Karena Dialah yang memberikan kekuatan dan keselamatan kepada ku.

  Lalu Aku pun melapor ke Pos Polisi dan bermaksud mengambil KTP-ku. Tapi ternyata di Pos itu kosong dan terkunci. Aku diberi tahu penduduk setempat bahwa para penjaga sedang berada di bawah. Lalu Aku mununggu mereka. Penduduk setempat ternyata sangat ramah, tanpa ku minta mereka melaporkan kepada petugas bahwa Aku sudah sampai dan sedang menunggu di Pos. Akhirnya petugas datang. Dia menyuruhku untuk beristirahat dahulu di Pos. Dia memberiku kunci Pos dan memintaku untuk membersihkan badanku. Aku disuruhnya untuk memakai kamar mandi yang ada di Pos dan dipersilahkan untuk menginap.

  Setalah badanku bersih dan memakai pakaian yang baru Akupun pergi mencari makanan. Aku langsung membeli minuman dan makanan. Aku pesan teh kotak dua buah lalu coca-cola, dan teh botoh (katanya sich pembalasan....minum sepuasnya...he..he..he...).

  Lalu aku memesan sup. Tapi ternyata mereka menyediakan sup Babi. Tentu saja Aku terkejut (karena Aku seorang muslim) dan cepat-cepat minta diganti dengan nasi goreng ayam. Ternyata makanan disana, sebagian besar memakai daging babi. Nasi goreng ayam Aku makan dengan lahapnya.

  Setelah selesai Aku mencoba menikmati pemandangan di Besakih pada malam hari. Aku sempat membuat dokumentasi dengan berphoto di sekitar pura (kebetulan aku selalu membawa triport). Setelah puas berjalan-jalan Aku merasa lelah dan mengantuk sekali. Aku pun pulang ke Pos dan tidur di ruang yang sudah disediakan. Tak lupa sebelum tidur Aku kunci Pos Polisi, karena Aku khawatir ada orang yang tak dikenal masuk ke dalam. Tengah malam saat aku terlelap, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku kaget dan terbagun, ternyata polisi yang tadi sore memberikan kunci itu datang untuk bertugas. Akhirnya Aku buka dan kuserahkan kunci padanya. Dia bilang padaku bahwa Aku tidak perlu takut atau tak perlu mengunci Pos tersebut, karena menurutnya keadaan disini aman dan penduduknya semua ramah-ramah. Aku pun meminta maaf pada petugas itu dan melanjutkan tidurku.    

  Besoknya sebelum pulang Aku sempat membeli baju serta sovenir untuk oleh-oleh. Setelah itu Aku pun pamit pada petugas dan mengambil KTP-ku serta tak lupa mengucapkan terima kasih. Aku begitu terkesan dengan keramah-tamahan penduduk setempat. Akhirnya Aku pulang dengan membawa kesan yang sangat baik dan penuh dengan kenangan indah.  

--------------------------------------------------------------------------------

 Ucapan terima kasih-ku kepada :

- Seseorang dari Bandung (lupa namanya)
- Taufik & 2 orang temannya (lupa juga  namanya)
-  Tri dari Bekasi

  Teristimewa untuk :

- Mas Oka Ambara & Keluarga Di Candi Dasa Karang Asem
- Pak Polisi Penjaga Pos di Besakih

 

Terima kasih atas segala bantuan dan kebaikannya selama Aku berada disana. Semuga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua. Dan semoga kita dapat bertemu lagi.

:: Back To Top ::
Pendakian Puncak Argopuro and Rengganis 27-31 Des 2003

 

25/12/03

 08:00

Pagi itu Bre telah siap menjemput Saya dan Risa di stasiun Pasar Turi, kebetulan di kereta yg sama rombongan dari rekan Pangrango (4 orang) juga akan mendaki ke Gn. Argopuro, namun mereka masih menunggu rekan-rekannya yg akan datang besoknya. Tak lama berselang Joeitem dan Didi datang menjemput juga. Lalu ke rumah Didi untuk mempersipakan segala sesuatunya. Setelah check packing selesai, kami pun pergi ke terminal Bungur Asih.

13:00

Di terminal ternyata telah menunggu Ronadepatra, Arief , Bambang dan Iffa. Walaupun saya telah mengenal mereka semua lewat cyber, namun hanya Ronadepatra yang pernah bertemu. Setelah saling mengakrabkan diri, maka kami pun berangkat. Bre dan Iffa tak bisa ikut serta karena mereka ada urusan lain yang mendesak. Bis yang ditumpangi melewati Panjarakan.

 16:00

Tepat di depan Mesjid  Panjarakan bis berhenti, saat itu hujan lebat menyambut tim yang akan mendaki. Sambil menunggu hujan reda, sebagian melaksanakan kewajiban shalat. Lalu setelah mendapat angkot sewaan utk mengantar ke desa Bermi, perjalananpun dilanjutkan.

 18:00

Sampai di Bermi, desa terkahir dibawah kaki Gn. Argopuro, lalu melapor ke Polsek setempat. Kemudian pergi ke pesanggrahan dimana rekan Pangrango lebih dulu ada di sana dan telah memesan 1 rumah (3 kamar) yang akan mereka tempati. Malam itu kami habiskan utk menyusun rencana sambil bersenda-gurau. Duh…saat-saat seperti ini yang sangat mengesankan, keakraban begitu terjalin dengan mesra J.

  

26/12/03

 11:00

Setelah makan dan telah bertemu rombongan pangrango yang ke-2, pendakian ke Argopuro dimulai (tim Pangrango memulai pendakian tgl 27 Des). Saya. Ronadepatra, Risa, Bambang serta Didi berangkat lebih dulu, sedangkan Joeitem bergabung dengan tim Pangrango.

 11.40

Jalur yang dilewati adalah perkebunan kopi yang cukup luas dan jalannya lumayan agak menanjak. Pos II pun dicapai. Tampak tower pos II yang dengan tinggi sekitar 5 meter sehingga dengan leluasa bisa melihat pemandangan jauh ke bawah. Saat itu hujan rintik-rintik, kami pun istirahat lama sekali, hingga beberapa rekan terlelap dgn tidur singkatnya…hihihi dasar Si Penidur…:p~.

 15:30

Setelah lama beristirahat dan menunggu hujan yg tak kunjung reda, akhirnya perjalanan terus dilanjutkan, semuanya menyiapkan ponco. Saya pun tak ketinggalan menyiapkan senjata pamungkasnya (payung)…hihihi :D. Tak berapa lama mendaki kami memasuki hutan damar yang cukup bagus. Di bawah guyuran hujan kami terus berjalan, tak ketinggalan celoteh-celoteh lucu keluar dari mulut-mulut usil :p~. Berjam-jam perjalanan ini terus berlanjut, sesekali diselingi istirahat sambil membuka perbekalan. Hari menjelang malam, sudah berapa ‘pacet’ yang terus mengikuti perjalanan ini :D. Saya dan Didi menjadi target favorite pacet-pacet centil yang ingin mimi ‘darah’…hihihi (beginilah kalo jarang donor di PMI). Saat gelap tiba, satu per satu senter pun dinyalakan, dan perjalanan terus berlanjut. Kunang-kunang tak hentinya ikut menyemarakan pendakian ini, kerlap-kerlip cahayanya menambah keanggunan hutan Gn. Argopuro.

 20:00

Akhirnya sampai di persimpangan, ke arah kanan adalah Taman Hidup dan ke kiri adalah jalur menuju puncak. Karena di Taman Hidup airnya tak begitu jernih, akhirnya kami putuskan untuk terus berjalan ke arah kiri dan membuat tenda di pinggir kali yang melintasi jalur pendakian. Setelah tenda terpasang dan membereskan semua peralatan, acara memasak pun dimulai. Malam itu dilalui dengan crita dan canda-tawa, malam yg hening terbelah oleh senda gurau dua penghuni tenda. 

 24:00

Semua bersiap untuk tidur, setelah sebelumnya merapikan peralatan masak, baru saja mata akan terpejam saya mendengar suara meminta tolong dari kejauhan, lalu saya tanyakan pada Arief apakah dia mendengarnya juga, pertama saya tanya dia tampak ragu, lalu suara itu terdengar kembali. Barulah Arief mengiyakan pertanyaan saya. Hhhmmm…suasana menjadi hening. Suara itu terus berulang hingga menjelang pukul 01:00. Saya tak ambil pusing dengan semua itu, karena ini bukan acara Ekspedisi Alam gaib, dan saya tak mengajak Pak Leo untuk scanning tempat ini, apalagi tak  ada Uka-Uka, karena peserta Uka-Uka kita kali ini kabur semua !!! hihihi *_^.

  

27/12/03

07:00

Menyiapkan makan pagi sambil menikmati udara pagi dan mentari yang ikut menghangatkan suasana. Hari itu tak ada pendakian, kami hanya menunggu tim Pangrango sambil bercerita kejadian semalam.

 09:00

Sambil mngisi waktu, kami semua pergi ke Taman Hidup untuk menikmati keindahan danau-nya. Tak lupa saya siapkan alat pancing dan menggali tanah mencari cacing untuk umpannya. Tiga jam sudah waktu dihabiskan disana, sambil memancing tak lupa menikmati teh manis hangat dan makana kecil yang kami bawa. Hhhhmmm…perkerjaan yang sangat mengasyikan hihihi.

 16:00

Sore hari-nya barulah Joeitem datang dengan membawa beberapa keperluan kami. Seharusnya menginap satu hari di sini, terpaksa menjadi 2 hari karena harus menunggu Joeitem.

 23:00

Semua sudah masuk kedalam tendanya, tak lama berselang rekan saya terbangun dan ingin berganti tempat, dia ingin di tengah. Tak ada cerita ataupun penampakan yang terjadi …hihihi.

  

28/12/03

 06:00

“Sarapan sudah siap !!!!”, sambil menyantap makanan, salah satu rekan saya bercerita, ketika semalam dia pindah tidur ke tengah karena dia mimpi yang sangat buruk sekali (Eureup-eureup / Bhs Sunda). Semua yang mendengarkannya jadi tertawa terbahak-bahak. Maka muncul keisengan dari Ronadepatra, dia langsung mengambil Spidol, kertas, dan plester. Lalu dia menulis di secarik kertas “Pos Eurreup-Eureup” dan menempelkannya di pohon yang berada di samping jalur pendakian.

 09:45

Pendakian dilanjutkan, dengan badan yang segar membuat semangat lagi J. Perjalanan yg panjang masih harus dilalui, melewati bukit-bukit yang rusak, tampak sisa-sisa kebakaran yg hebat serta pohon-pohon yg bergelimpangan. Bukit-bukit yg longsor mengisyaratkan betapa alam ini sangat menderita oleh ulah kita L, hiks…L.

 13:30.

Hujan kembali membasahi bumi, terpaksa membuat bivak darurat sambil menunggu hujan reda. Dua jam sudah terlewati, namun hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya perjalanan dilanjutkan dibawah guyuran hujan.

 18:00

Akhirnya sampai juga di Pos Aengkenik (Air yang mengalir kecil / sungai kecil – Bhs Madura). Di tengah hujan yg masih berlanjut, tenda pun mulai didirikan.

  

29/12/03

 11:00

Setelah selesai masak dan membongkar tenda, serta tim pangrango telah bergabung, maka perdakian pun dilanjutkan. Kali ini lebih ramai dan lebih ceria dgn gelak canda sepanjang perjalanan. Medan yang dilalui cukup beragam, membuat mata tak penat memandangnya.

 13:30

Pos Cisentor pun akhirnya dicapai. Pos ini titik temu antara jalur Bermi dan Baderan yang menjadi Base Camp. Disini kami istirahat sebentar, lalu saya menyusun rencana selanjutnya. Tiga puluh menit kemudian saya putuskan untuk terus mendaki, sementara tim Pangrango akan bermalam disini.

 15:30

Setelah perjalanan memakan waktu 1.5 jam, sampailah di Rawaembik, dimana terdapat aliran sungai kecil tempat mengisi perbekalan air terakhir. Disini kami beristirahat sejenak dan memasak untuk memulihkan tenaga.

 18:00

Setalah menempuh perjalanan yang melelahkan, maka sore itu kami sampai di Puncak Rengganis yang menyajikan pemandangan yang sangat mempesona. “Alhamdulillah…!!! Setelah berhari-hari pendakian yg sangat melelahkan, akhirnya sampai juga di puncak. Tampak lah setumpuk batu yg disusun rapi dengan berbagai aksesoris ritual adat penduduk setempat, menambah kesan magis disekelilingnya. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini utk berphoto bersama. Tiga puluh menit waktu dihabiskan di puncak. Lalu kami turun sekitar 50 meter ke sisa-sisa tempat altar/pemujaan . Disana kami pun mendirikan 1 tenda dan 1 bivak.

  

30/12/03

 06:00

Pagi-pagi kami kembali ke Puncak Rengganis utk menikmati sunrise. Dingin yang masih menusuk tulang setelah semalaman hujan turun, tak menghalangi keinginan utk berada di Puncak. Setelah itu semua peralatan yg basah kami jemur sambil bermalas-malasan dibawah sinar mentari pagi J.

Disana banyak terdapat sisa-sisa peninggalan Kerajaan Dewi Rengganis, berupa batu-batu yg tersusun rapi setinggi 1meter yang dulunya merupakan Istana mereka. Setelah puas kami pun packing dan melanjutkan perdakian menuju Puncak Argopuro.

 11:15

Setelah mendaki dengan kemiringin sekitar 45 derajat, akhirnya tanah tertinggi Gn. Argopuro pun bisa tergapai sudah. Disana saya bertemu teman lama yg dulu sama-sama mendirikan ‘HEXAQUANDRON’. Hanya 15 menit menikmati puncak itu, kabut turn dgn cepat, lalu kami pun turun.

 12:30

Sampailah di Cisentor, hanya beristirahat 10 menit, perjalanana pun dilanjutkan kembali memilih jalur Baderan yang panjang menuju Cikasur, Jalur yang dilewati sangat beragam, ada hutan tropis, hutan cemara, sabana, serta padang edelweiss. Sungguh pemandangan yang disajikan membuat mata dan hati ini merasa jernih J. Apalagi tak kala disenja hari saat melewati sebuah bukit, tampaklah pemandangan yg sangat menarik, seekor burung merak dgn berlenggak-lenggok bak peragawati dgn santainya berjalan menuju hutan. Sungguh elok dgn pakaian kebesarannya sangat banyak dikagumi.

 15:00

Sampailah di Cikasur dgn menyajikan pemandangan yg membuat betah utk berlama-lama disana. Tampak jelas sisa-sisa bangunan yg dulu dipergunakan utk mengendalikan hilir-mudik kapal-kapal perang. Tampak didepannya lapangan yg sangat luas tersusun rapi yg dulu dijadikan landasan utk kapal perang. Kami beristirahat selama 1jam utkmasak, dam kesempatan ini saya pergunakan utk mandi, wuihhh…dingin dan segar sekali. Mandi di gemercik aliran sungai yg sangat jernih, seperti sang pangeran yang sedang mandi di taman khayalan hihihi…;p~.

 20:00

Empat jam sudah kami terus berjalan melewai bukit-bukit yang tak sempat saya hitung berapa jumlahnya. Karena beberapa teman kecapaian dan kondisi yg kurang menguntungkan akhirnya saat sampai di Jati banteng, kamipun mendirikan tenda utk menginap dan memulihkan tenaga.

  

31/12/03

 07:00

Pagi perjalanan kami lanjutkan, karena saya mengejar waktu agar bisa cepat sampai di Jogja untuk melakukan pendakian ke Gn. Merapi bersama teman #pendaki dari Jogja yang telah menunggu di Posko Mapala Unisi. Perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan harus kami hadapi lagi  dibagian terakhir ini. Daerah terkahir yg hrs dilalui adalah perkebunan rakyat yg berada di bukit-bukit Gn. Argopuro. Akhirnya tepat tengah hari akhirnya sampai lah diperadaban manusia…hihihi.

Terima kasih ya Allah yg telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam melakukan pendakian ini.

 

Ucapan terima kasih :

Bre / sang_petualang and Iffa (Surabaya) à team penyambut J
Tim Pangrango (Jakarta)

 

Yang Special :

Risa (Jakarta)
Ronadepatra (Surabaya)
Joeitem / tube (Jakarta)
Bambang / petani (Surabaya)
Didi / rujak (Surabaya)
Arief / gethuk (Jogjakarta)

  

Kawan, dalam setiap pendakian ini akan banyak kenangan tercipta diantara kit yang akan mengisi lembaran putih diary anak manusia. Terima kasih atas kebersamaan yang kita lalui. Semoga persahabatan ini akan terus terjalin dengan mesra, amin.

:: Back To Top ::
 

 

Napak Tilas HIJJAU di Gunung Salak 2-3 September 2005

 

uuhhh.......
akhirnya dpt lagi kuhirup hutan khas tropis Gn. Salak yang banyak menyimpan sejuta kisah yang cukup membuat ku sungkan 'tuk kembali lagi. Ya, satu dekade sudah sebuah pengalaman yg cukup membekas pd diri ini.

Jalan yg kulalui telah banyak berubah, namun ada yang masih kuingat. Seperti memutar kembali kenangan lama, sebagian kuingat begitu jelas seperti kembali memutar cerita lama. Tergambar wajah2 pucat kedinginan disapu guyuran hujan lebat yang membekukan. Tak ada keceriaan tersirat disana, kebisuan dan keheningan mengikuti jejak- jejak harapan.

Banyak bagian-bagian yang tak kukenali lagi saat ini, hutanku yang begitu anggun, sekarang mulai tercemar dan terbuka. Banyak sekali jalur-jalur baru yang tak kukenali lagi. Namun kali ini aku begitu menikmati pendakian bersama rusman/cepot, tidak seperti yang kutakuti selama ini yang menahanku utk tidak kembali ke salak.

Jalur yg kulalui begitu jelas, memang cukup menguras tenaga dengan keadaan lapangan yg licin dan harus menggapai akar-akar pohon untuk menapakai gn. salak. Udara yang sangat bersahabat ikut memberikan keuntungan yang kuharapkan. Bersama sahabatku rusma/cepot, kunikmati perjalanan ini berdua.

Lalu kenangan-kenangan itu pun satu persatu mulai pudar, kemudian rasa takut yg selama ini menghinggapi perlahan-lahan mulai surut. Tak lagi terasa ketegangan dan kekhawatiran yg begitu mendalam menghantui- ku, akhirnya aku dpt terlepas dari rasa yang mengganjal selama ini.

Alhamdulillah, akhirnya ku bisa kembali hadir disana untuk menikmati keindahan yang nyata :) Terima kasih Ya Allah....


Terima kasih terutama :

Allah SWT
Rusman/cepot yg sabar dab tabah dlm pendakian ini

Terima kasih kpd :
Didi cs yg udah buatin makanan di puncak
Steve (merbabu.com) sahabat lamaku di puncak salak

Semoga kebaikan kalian mendapatkan balasan dari Allah SWT, amin.

:: Back To Top ::
 

Serpihan rindu Ku (Gede Episode November Rain)

 

Ada sedikit gundah sepanjang hari itu, padahal semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ya, sejak malam tadi aku telah packing semua barang-barangku. Sesekali kutengok bidadari kecilku yang begitu lelap didepanku, cahaya yang terpancar dari wajah nan suci. Oh, gelisah itu kian menggelayuti hati ini. Ingin sekali kuajak bidadari kecil ini untuk turut serta.

Aku kembali memeriksa perlengkapan yang sudah tersusun rapi dalam carrier. Matras, sleeping bag, trangia kecil, spirtus, misting, makanan, pakaian ganti + kaos kaki cadangan, senter + battery & bohlam cadangan, victorinox kecil, peralatan makan, topi rimba & balaklava / kupluk, tali, ponco (yang selalu menjadi andalan dalam perjalananku), juga handbody dan pengharum tubuh. Hhmm…hanya tinggal menunggu tenda yang akan diantarkan oleh temen pendakianku.

Aktifitas itu ternyata tak juga mengusir rasa gelisahku, berkali-kali kulirik malaikat kecilku itu, berharap dia terjaga dan menyapaku manja, "Ayah….gendong Najla". Suara yang begitu akrab dan yang sangat kutunggu.

Akhirnya saat itu pun tiba, walau dengan berat hati dan gundah yang masih menyelubungi aku pamit pada istriku tercinta. Ku tengok sebentar si kecilku, berharap untuk kesekian kali. "Assalamu'alaikum….", kulangkahkan kaki meninggalkan gerbang rumah itu.

Hampir satu jam aku dan temanku menunggu di depan Pos dan Giro Cibodas, sesekali aku dan temanku ngobrol dengan sopir angkot yang setia menanti teman-teman lainnya. Udara malam tak terasa menyengat, sambil menunggu mulut ini terus mengunyah kue hasil olah tangan istri ku. Waktu sudah menunjukan jam 1, mungkin tak lama lagi mereka akan sampai.

Pagi itu semua sudah siap di Pos Pemeriksaan (Sekretariat GPO), setelah semalam menginap dirumah penduduk dan paginya menyempatkan untuk mengisi perbekalan sebelum pendakian. Setelah semua prosedure dilalui, akhirnya pendakian ke Gede lewat Putri pun dimulai.

Rasanya badan ini agak kaku, setelah cukup lama absen dalam pendakian-pendakian yang diadakan teman-teman di dunia kabel. Perlu beberapa saat untuk beradaptasi dan membiasakan diri dengan suasana alam ini. Perjalanan dimulai dengan obrolan-obrolan ringan disertai canda dan tawa kian menyemarakan suasana.

Sepertinya keakraban terjalin tanpa disadari, sebagian peserta masih belum ku kenal dengan baik, karena baru kali ini bertemu dan mendaki bersama. Tapi ternyata tak butuh waktu untuk bisa masuk dalam suasana persahabatan yang hangat dan mesra ini. Bahkan diantara mereka sudah terbiasa saling bersenda-gurau layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Keceriaan memenuhi seisi belantara, diiringi suasana yang teduh. Sepertinya matahari enggan untuk merusak suasana yang mesra diantara kami.


Kulihat jam ditanganku, " Uhhh, tak terasa dua jam sudah pendakian ini berjalan". Kurasakan tubuh ku sedikit pegal dan butiran-butiran keringat memenuhi dahi-ku. "Masihkah mampu tubuhku menopang beban yang ada di pundak ini, mendaki dengan modal semangat dan kerinduan akan belaian jenggala", batinku bergemuruh. Sepertinya aku harus memulai melatih kembali kesabaran yang dulu sering harus kuhadapi. "Mampu kah?????", hanya itu yang tersisa dari sebuah tanya.

Irama nafas yang berbaur dengan gemuruh langkah kaki, tertatih-tatih namun tegap menapak pada perut bumi. Rasa yang dulu menjadi teman sejati kembali menyapa dan terus mengikuti, seperti dulu aku harus mampu melewati saat-saat seperti ini. Mencoba melintas batas yang tak setiap hari kutemui, melawan keangkuhan untuk menyerah dan kesombongan untuk berhenti. Tak ada waktu untuk mundur kembali, hanya semangat dan rasa rindu yang menjadi semangat baru. Satu…dua…tiga….terlewati sudah masa-masa sulit yang saling menghimpit.

Langkah semakin menanjak, ketika kabut pun turut mengikuti dalam setiap hela nafas yang terbuang. Membelai lembut insan berjuang, menghangatkan semangat yang mulai meredup terbuai angan dan ilusi sesaat. Kaki terseret, hati terus melantunkan lagu syahdu Sang Maha Sempurna yang memberikan asa yang tak pernah putus. Ada rasa damai mengalir pada aliran darah disekujur tubuh. Memberikan kekuatan untuk terus melangkah dan menatap misteri di depan sana. Tak banyak berubah yang kunikmati, hanya kekaguman dan rasa syukur yang terus terbarui. Setiap kali kurenungkan, tak pernah terbersit akal untuk menjangkaunya.

Ketika dataran itu kuraih, sejuta bebas terlepas sudah. Tampak didepanku sebuah Maha Karya Sempurna, bertebaran memainkan keindahannya dipelupuk mata. Tampak taman edelweiss begitu mempesona, terbungkus kabut tipis dan semilir angin yang menggoda. Tak kuasa aku dan mungkin teman-temanku untuk mengabadikannya dalam sebuah mekanik modern. Rasa narsis begitu menggelora, seolah lupa bahwa masih ada seni yang lebih sempurna J

Akhirnya saat yang ditunggu pun sudah didepan mata, setelah mencari tempat untuk membuka tenda, akhirnya diputuskan untuk menempati dataran tinggi diseberang mata air alun-alun. Tempat yang terbuka dengan pemandangan yang lepas kesemua arah, namun menjadi sapuan angin yang empuk (alhamdulillah tidak hujan dan badai J). Diiringi hujan rintik-rintik membuat suasana cukup sunyi dengan hembusan angin yang deras menerpa wajah.

Terlihat aktifitas di tenda-tenda yang gigih menopangkan pasak-pasak besi pada bumi, mendekap erat ibu pertiwi dari canda angin Surya Kencana. Canda dan tawa masih terdengar di tenda-tenda itu, deru tenda yang berkibar diterjang angin tak menyurutkan aktifitas didalamnya. Obrolan itu masih terus berlanjut untuk beberapa saat. Obrol yang penuh kehangatan menambah suasana semakin hidup. Sesekali terdengar lagu-lagu yang romantis terdengar dari salah satu tenda, mungkin terbawa suasana alam yang cukup membuat hati terpesona.

Pagi itu tampak serombongan pendaki lintas milist mulai menuju puncak gede. Semangat di pagi hari terasa begitu kuat, pun ketika buah arbei hutan tak luput darinya. Sesekali arbei itu memberikan nuansa rasa yang membuat pipi tersenyum kecut :D. Asam-manis arbei hutan ikut menyemarakan pagi yang indah. Tak lama rombongan pun mennggapai puncak Gede.

"Alhamdulillah….", sebuah ungkapan rasa yang tak terbayangkan. Lalu mulai kusalami mereka satu persatu untuk mengucapkan selamat J. Sayang, cuaca tak begitu ceria, kabut tebal menghalangi pemandangan indah puncak Pangrango dan kawah wadon yang menjadi daya tarik pendaki. Tebalnya kabut semakin semarak memenuhi seisi puncak Gede, rintik-rintik air pun mulai berjatuhan tak kuasa menahan beban di atas sana. Tak banyak aktifitas dilakukan diatas sana selain harus kembali meneruskan perjalanan pulang menuju Cibodas.

Perjalanan sempat kita hentikan sejenak, saat salah seorang peserta melintasi batas kenangan seorang sahabat yang begitu membekas dalam kehidupannya. Sejenak kami pun diam sesaat untuk memberikan penghormatan dan doa untuknya. Semoga dia ditempatkan yang layak oleh Allah swt, amin J.

Hujan tak hentinya mengikuti perjalanan kami pulang, sepertinya cuaca ini begitu kental selalu menyelimuti tegarnya Gede-Pangrango. Menambah semangat karena ingin cepat sampai di bawah untuk menikmati suasana hangat gubuk volunteer. Di Panyancangan kami bertemu dengan rekan-rekan yang tak bisa ikut ke Surya Kencana kemarin. Mereka dengan antusias menunggu kami disana, sungguh sebuah niatan persahabatan yang agung. Walaupun tak pernah bertemu sebelumnya, namun seperti ada ikatan yang tak terbantahkan.

Malam itu sambil menunggu hujan reda, kami masih terus bercengkrama di gubuk Montana, sambil menimati kopi dan makanan kecil yang tersedia. Suasananya begitu mesra dan membuat betah berlama-lama disana. Banyak kawan lama dan baru bercampur disana, sebentuk perjalinan sebuah persahabatan yang sempurna.

Gede, 02-04 Nov 2007

:: Back To Top ::
 

Hakcipta hijjau@pendakierror.com 2004